
"Sayang kamu harus percaya pada ku, hanya pada mu benih ku mendarat sayang," ucap Arya.
"Sudah lah, mau kamu suka jajan atau tidak, aku mah tidak peduli, itu masa lalu mu, yang terpenting sekarang kamu dengan aku," kata Jihan.
Arya memeluk Jihan, ia merasa senang Jihan mengatakan hal ini, memang untuk apa melihat masa lalu lagi, kehidupan itu bukan tentang masa lalu tetapi tentang sekarang dan apa yang akan di lalui nanti. Walaupun ia memang tidak pernah jajan sembarangan.
***
Pernikahan mereka berdua pun datang, Jihan tampil cantik dengan gaun simpel sesuai dengan keinginannya, walaupun gaun nya terlihat sederhana tetapi terkesan elegan jika Jihan yang memakainya.
Sedangkan Arya memakai pakaian berwarna hitam yang membuat Arya dan Jihan terlihat sangat cocok sekali. Apalagi dengan postur tubuh Arya yang gagah, hal itu membuat Arya terlihat lebih berkharisma di mata banyak orang.
Setelah keduanya sama sama siap mereka pun berjalan menuju tempat akad nikah, dengan hati hati Arya mendorong kursi roda Jihan, karena Jihan masih berakting tidak bisa jalan. Keduanya sama sama deg deg kan dengan pernikahan mereka yang kedua ini. Yang pertama pernikahan sirih di desa, sama sekali tidak terasa karena tidak banyak orang seperti sekarang ini.
"Santai Arya, kau hanya cukup mengucapkan nya saja," ucap Akbar.
"Hahaha iya paman.."
"Malam pertama mu nanti malam Jihan," bisik Alfi.
Jihan mengerutkan dahinya, sudah tidak ada malam pertama lagi karena ini bukan pernikahan pertama nya.
Dan dalam beberapa menit saja mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang suami-istri, keduanya mengucapkan syukur karena telah berhasil melalui momen menegangkan ini.
Sesi foto dan menerima ucapan selamat dari tamu pun datang. Semua orang yang datang berbondong-bondong, naik ke pelaminan. Mereka semua menikmati acara tengah berlangsung.
"Alfi boleh berbicara sebentar," tanya Akbar.
"Hahaha paman apaan sih, tinggal berbicara saja, kenapa harus izin dulu," ucap Alfi.
"Hahaha agak serius, kamu tidak masalah kan," tanya Akbar.
"Tidak masalah sama sekali," jawab Alfi.
"Nanti malam ada acara," tanya Akbar.
"Sebenarnya ada sih di rumah sakit, tapi tidak terlalu penting, ada apa?"
"Kalau Alfi mau, aku ingin mengajak Alfi makan malam bersama, berdua," ucap Akbar.
Jantung Alfi langsung tidak aman, apa apaan ini. Kenapa bisa langsung to the poin seperti ini. Tetapi ada rasa senang di hatinya, berarti apa yang Jihan katakan itu benar, Akbar sedang mencoba untuk mendekati nya. Kemarin sempat menjauh karena memang sibuk.
"Kalau Alfi sibuk tidak papa," ucap Akbar.
"Bisa paman, nanti malam jam 7," kata Alfi.
"Kamu serius," tanya Akbar.
"Dua rius paman," jawab Alfi.
"Oke, nanti malam paman jemput," ucap Akbar.
Akbar benar-benar sangat senang sekali, Alfi memberikan nya lampu hijau,l itu tandanya Alfi bisa ia dekati lebih jauh lagi.
Malam harinya, sih pengantin baru sudah pasti menghabiskan waktu bersama di dalam kamar, sedangkan Akbar sedang dalam perjalanan menjemput Alfi.
Alfi sendiri sudah menunggu Akbar di depan rumah, ia sudah tidak sabar makan malam dengan hot daddy seperti Akbar.
__ADS_1
"Alfi," ucap Akbar.
"Iya.." Alfi berjalan mendekati mobil Akbar.
Akbar turun dari dalam mobil untuk membukakan pintu untuk Alfi. Hari ini ia memaki mobil mewah yang jarang ia pakai, semua ini demi Alfi. Alfi kaya raya tidak mungkin ia memakai mobil biasa saat jalan dengan Rich seperti Alfi.
"Makasih paman," ucap Alfi.
Setelah Alfi masuk, Akbar kembali masuk ke dalam mobil dan mereka langsung pergi meninggalkan rumah.
"Sudah lama menunggu," tanya Akbar.
"Belum paman, baru juga duduk, eh paman sudah datang saja," jawab Alfi.
"Oh begitu syukurlah," ucap Akbar.
"Jihan tau kita akan makan malam bersama," tanya Alfi.
"Tidak lah, dia lagi dengan menikmati momen pengantin baru," jawab Akbar.
"Hahaha iya juga ya."
"Kamu sudah punya pacar," tanya Akbar.
"Tidak paman, aku belum mempunyai pacar. Emangnya ada apa paman?"
"Hehehe tidak apa-apa sih, aku takut saja kalau kamu punya pacar nanti pacarmu marah aku bawa kamu makan malam bersama."
"Oh begitu... Tidak usah takut paman aku memang sudah tidak mempunyai pacar sejak 5 tahun terakhir," kata Alfi.
"Wow sudah lama juga ya, ya walaupun tidak selama paman," ucap Akbar.
"Dari mamanya Jihan meninggal, paman belum pernah mempunyai pacar lagi."
"Oh ya ya ya, dulu Jihan sering cerita soal itu," ucap Alfi.
"Nah kamu sendiri tahu kan bagaimana Jihan, jadi aku sampai sekarang belum mempunyai pasangan lagi. Ingin sih sebenarnya tetapi takut malah membuat masalah dengan anakku sendiri," ucap Akbar.
Alfi berpikir jika Jihan memintanya untuk menjadi mamah sambungnya, berarti dirinya mendapatkan restu dari Jihan. Apa mungkin karena dirinya dengan Jihan sudah sangat lama bersahabat membuat Jihan yakin padanya. Karena memang mereka berdua sudah tau watak masing-masing, mereka pernah bertengkar, karena hal itu memang hal yang wajar. Tetapi keduanya bisa menyelesaikan pertengkaran itu dengan cepat, jadi tidak pernah menimbulkan masalah terlalu dalam. Mungkin juga yang membuat Jihan yakin kepadanya.
"Alfi aku bisa minta tolong," ucap Akbar.
"Apa itu paman," tanya Alfi.
"Kalau bisa jangan memanggil dengan sebutan paman, sedikit tidak nyaman untuk didengar. Tetapi kalau kamu tidak ingin merubahnya juga tidak papa."
"Oh iya hehehe, apa aku memanggil mas saja. Bagaimana itu lebih baik tidak?"
"Jauh lebih baik, Terima kasih Alfi," ucap Akbar.
Sesampainya di restoran, mereka berdua langsung masuk ke dalam. Sebelum berangkat tadi Akbar sudah memesan meja khusus untuk mereka berdua, memang kalau ingin mendekati wanita harus lebih effort. Agar sang wanita itu rasa spesial.
"Duduk." Akbar menarik kursi untuk Alfi.
Alfi benar-benar merasa dibuat sepesial oleh Akbar. Walaupun mereka berdua terpaut usia cukup jauh tetapi Alfi tidak ada masalah dengan apa yang Akbar lakukan padanya.
"Terima kasih mas."
Mereka berdua duduk saling berhadapan, sebelum makanan datang Akbar ingin langsung membahas tentang hubungan mereka ke depannya, karena ia memang benar-benar ingin serius dengan Alfi. Dari wajah Akbar Alfi dapat menebak jika memang pembicaraan akan lebih serius.
"Alfi kamu benar-benar tidak dekat dengan siapapun kan."
__ADS_1
"Iya mas, aku tidak dekat dengan siapa-siapa, Jihan tau itu," kata Alfi.
"Oke kalau begitu, kali ini aku ingin berbicara sedikit serius padamu. Aku sudah lama sendiri, dan mungkin kamu tau sekarang aku sudah tidak mencari pacar, Aku mencari istri untuk menemani. Aku ingin serius padamu.
Alfi menelan air ludahnya dengan kasar, orang tua satu ini memang to the point sekali. Dan sekarang artis sedikit bingung harus menjawab apa.
"Tidak perlu menjawab sekarang Alfi, jika kamu siap kamu boleh menjawabnya, tetapi jika kamu belum siap sesiapnya kamu untuk menjawabnya," kata Akbar.
"Terima kasih paman telah memberiku waktu," ucap Alfi.
"Apa? Paman?." Akbar menaikan alisnya.
"Eh maaf mas, Terima kasih mas telah memberikanku waktu," ucap Alfi.
"Hahaha tidak masalah, sekarang kita tunggu makanan saja ya."
Tak lama makanan yang mereka tunggu pun datang, tanpa menunggu lagi mereka langsung menyantap makanan itu karena memang sudah lapar.
Keduanya saling curi-curi pandang, karena terpesona dengan satu sama lain. Mereka berdua sudah sering bertemu, tetapi kali ini entah kenapa terasa berbeda. Mungkin karena ada niat sesuatu yang membuat semuanya terasa berbeda.
Setelah makan makanan besar. Mereka mencoba dessert yang sudah disediakan.
"Enak ini kamu tidak ingin mencobanya?"
"Boleh," ucap Alfi.
Akbar mengambil dessert itu dan menyuapi Alfi, Hal itu membuat Alfi sangat malu. Tetapi tidak mungkin ia tidak menerima suapan itu.
"Bagaimana enakan," tanya Akbar.
"Sangat enak, yang punyaku asem aku tidak suka asem," jawab Alfi.
"Ambil saja yang ini, rasanya kan enak," kata Akbar.
"Lalu kamu mas," tanya Alfi.
"Aku suka asem," jawab Akbar.
Walaupun sebenarnya tidak suka asem karena di depan wanita yang ia dekati, Akbar rela mau makannya.
"Serius kamu suka," tanya Alfi.
"Iya aku suka," jawab Akbar.
Malam ini mereka berdua tidak terlalu lama bersama, setelah makan Yang jalan-jalan sebentar mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang. Akbar langsung mengantarkan Alfi ke rumahnya. Sebelum Alfi turun, ada hal yang ingin aku katakan pada Akbar.
"Mas ada ingin aku katakan," ucap Alfi.
"Apa itu," tanya Akbar.
Alfi mengambil nafas panjang dan mengeluarkan secara perlahan, karena memang ini keputusan yang cukup besar.
"Aku bersedia," ucap Alfi.
"Oh bersedia," kata Akbar dengan wajah yang biasa saja.
Alfi mengurutkan dahinya karena respon Akbar Hanya seperti itu. Padahal Akbar sedikit ngelag dengan apa yang Alfi katakan.
"Mas hanya seperti itu," ucap Alfi.
Akbar mengurutkan dahinya, ia menatap Alfi dengan wajah yang bingung. Beberapa detik setelahnya baru Akbar tersadar dengan apa yang Alfi ucapkan.
__ADS_1
"Kamu kamu serius bersedia," tanya Akbar..
"Iya aku bersedia, tapi respon kamu malah seperti itu membuatku tidak akan yakin," kata Alfi.