
Pagi harinya, malam tadi benar-benar terjadi pertempuran yang sangat kejam, Akbar berhasil mengendalikan Alfi sampai Alfi tidak bisa bernafas dengan lega, kehebatan Akbar memang sudah tidak bisa di ragukan lagi, ia sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti itu.
"Sayang.." Akbar membangunkan Alfi yang tengah tertidur dengan lelap.
"Hmmm.." Alfi hanya bisa bergumam.
"Kamu lelah," tanya Akbar.
"Iya lelah, kamu sangat hebat sayang," jawab Alfi.
"Lagi yuk, mau lagi aku," kata Akbar.
"Mandi dulu." Tidak mungkin mereka kembali melakukannya tanpa mandi dulu.
Akbar mengerti dan membiarkan Alfi untuk mandi, ia hanya sikat gigi dan mencuci wajah.
Jihan dan Arya sendiri sudah dalam perjalanan ke rumah sakit untuk Memeriksakan kehamilan Jihan, Jihan sangat penasaran apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak. Memang ia sudah telah dua minggu lebih, ia juga sudah periksa pakai testpack. Akan tetapi kalau belum periksa langsung ke dokter belum benar-benar yakin.
"Sayang aku sedikit nervous," ucap Jihan.
"Santai saja, kamu tidak akan di apa apain kok," kata Arya.
__ADS_1
"Ya memang tidak, tapi yang namanya untuk pertama kali sudah biasa nervous," ucap Jihan.
"Aku harap anak kita lekaki," ucap Arya.
"Oh tidak anak kita harus perempuan."
"Terserah saja lah," ucap Arya yang memilih mengalah.
Sesampainya di rumah sakit mereka berdua langsung ke ruang pemeriksaan. Mereka berdua sudah ditunggu dokter kandungan yang akan memeriksa kandungan Jihan.
"Ayo kita periksa sekarang," ucap Dokter.
"Bagaimana dengan kandungan istri saya dok," tanya Arya.
"Semuanya baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan, kandungan sudah masuk ke 7 minggu, janin berkembang sesuai dengan usianya," jawab dokter.
"Jenis kelamin nya dok," tanya Jihan.
"Belum bisa di lihat dong. Alat genital janin baru dapat dilihat dengan jelas di usia kehamilan 16 minggu, sehingga waktu yang disarankan bagi Bunda untuk memeriksakan jenis kelaminnya adalah di usia kehamilan 18-20 minggu atau sekitar 4-5 bulan.," jawab Dokter.
"Ya sayang masih lama dong," kata Jihan.
__ADS_1
"Tidak papa, waktu tidak akan berasa," ujar Arya.
Semuanya aman terkendali, mereka berdua baru percaya jika Jihan hamil setelah melihat janin yang ada di rahim Jihan, bentuk yang lucu membuat Arya ingin mencubit nya, tetapi tidak mungkin ia melakukan hal itu.
"Ini vitamin nya, dan untuk mas Arya jangan berhubungan dulu sampai ke 16 minggu, semua ini demi kebaikan kandungan istri mas Arya, trimester pertama janin masih rentan, apalagi kalau sang ayah bermain dengan ganas."
"Hehehe siap dok," ucap Arya.
"Dengar sayang, jangan ganas ganas kasihan anak kita," ujar Intan.
"Sudah sayang jangan kamu bahas, aku malu tau," ucap Arya.
Setelah melakukan pemeriksaan mereka berdua langsung kembali ke rumah, mereka tidak kembali ke rumah Alfi karena tidak ingin menganggu si pengantin baru.
"Sayang kira kira Alfi masih gadis atau tidak ya sekarang ini."
"Pertanyaan yang aneh sayang, bagaimana mungkin bisa, kamu tidak tau ayah mu saja, tadi malak pasti setelah acara langsung di gas," kata Arya.
"Hahaha iya juga yah, selamat Alfi aku sangat senang mendengar nya," ucap Jihan.
Di rumah Alfi, mereka berdua masih dalam pertarungan yang sengit, kali ini Alfi yang memimpin pertandingan. Sangking sengitnya mereka berdua sudah tidak di atas ranjang, mereka pindah posisi ke sofa agar terasah lebih hot.
__ADS_1