
Jihan masih menaruh curiga pada sang suami, ia sangat tidak suka suaminya masih terus di hubungi oleh Melodi, mau di tanggapi atau tida tetap saja Jihan tetap tidak suka.
Ia terus memegang handphone Arya kalau Arya sedang istirahat atau sedang mandi, semua ini agar ia bisa memantau Arya dan Melodi.
"Ah dia menanggapi Melodi, kan sudah aku katakan, jangan menanggapi wanita itu sedikitpun."
Arya berjalan keluar dari dalam kamar mandi, Ia mengerutkan dahi nya melihat Jihan sedang memegang handphone nya.
"Sayang.."
"Apa!! kamu mau marah aku memegang handphone kamu," ucap Jihan.
"Iya, kenapa kamu pegang," tanya Arya.
"Kau tak suka kamu seperti ini ya mas, aku sudah berkata jangan kamu tanggapi wanita itu, walaupun hanya satu huruf pun jangan!!"
__ADS_1
"Kamu kenapa begini, kamu sudah berani membuka handphone ku secara diam-diam, kalau kamu ingin memeriksanya izin dulu pada ku," ucap Arya.
"Tidak perlu, oh jadi kamu memang marah, kita pisah kamar muka malam ini." Jihan berjalan pergi meninggalkan Arya.
Arya langsung mengejar Jihan, ia tak mau karena hanya sedikit merespon Melodi ia dan Jihan jadi pisah kamar.
"Jangan macam macam oke," ucap Arya.
"Kamu sendiri yang macam macam," kata Jihan.
"Oke kita buka sekarang, sekalian aku tak mau memendam nya lagi. Katakan pada ku sebelum kita menikah, kamu sudah berhubungan suami istri debat nya, aku hanya perlu jawaban iya atau tidak."
"Tidak.. Walaupun kami pacaran bertahun-tahun aku tak pernah sampai sejauh itu, aku hanya melakukan nya dengan kamu, dan untuk yang pertama kalinya dengan kamu, jangan dengarkan apa yang orang lain katakan," ucap Arya.
"Bukannya di vila," tanya Jihan.
__ADS_1
"Tidak Jihan, ya memang aku sering liburan berdua dengan Melodi, tapi tidak sampai sejauh itu, kenapa kamu sampai sejauh itu, aku tidak suka kamu mengungkit masa lalu ku, setiap orang memiliki masa lalu, jika terus mengungkit nya kita tidak akan bahagia."
"Oh iya, memang menikah dewasa ku tidak akan membuat kamu bahagia," ucap Jihan.
Arya merasa Jihan sudah berlebihan, tak seharusnya Jihan sampai bertanya masa lalu yang pasti akan membuat Jihan semakin marah. Kalau sudah seperti ini Arya pun mulai terpancing emosi, ia tak sesabar yang orang lain pikirkan.
"Oke kamu mau apa sekarang, pisah kamar? aku yang pergi." Arya mengambil Pakaikan nya dah pergi meninggalkan kamar itu.
Jihan hanya bisa menangis, perasaan nya sedang tidak stabil, mungkin karena efek ia sedang hamil muda yang membuat moodnya acak acakan. Seharusnya Arya mengerti itu, tetapi tidak, Arya sama sekali tidak mengerti dirinya dan entah pergi kemana.
Arya sedang berpikir bahwa apa yang ia lakukan ini benar atau tidak, ia perlu masukan orang lain lain dan seperti nya sang ayah mertua dapat memberikan nya saran.
Arya langsung ke rumah Alfi u untuk bertemu dengan ayah mertuanya, walaupun hari sudah malam ia tidak masalah. Lebih baik lebih cepat.
Arya langsung menceritakan masalah nya dengan Jihan, beruntung ayah mertuanya tidak memihak siapa siapa. Akbar memberikan saran terbaik untuk rumah tangga nya dengan Jihan.
__ADS_1
"Arya semarah apapun diri mu, jangan pernah tinggalkan istri mu, dia sedang hamil dan pasti sedang sangat hancur sekarang. Ya memang Jihan sedang sangat berlebihan, tidak seharusnya dia seperti itu. Tetapi sekarang dia kan sedang hamil, pasti perasaan nya sedang tidak stabil."