Suami Ku Pembantu Ku

Suami Ku Pembantu Ku
Di jemput


__ADS_3

"Sakit," ucap Alfi.


"Tahan sedikit, aku sudah berpengalaman dengan hal seperti ini," kata Akbar.


"Pelan mas sakit, kamu kuat sekali," ucap Alfi.


Alfi memejamkan matanya karena tidak tahan dengan rasa sakit yang amat luar biasa, memang Akbar sudah sangat berpengalaman tetapi pengalaman nya itu belum cukup membuat Alfi nyaman, rasanya sakit sekali.


Alfi hanya bisa pasrah, ia yang memulainya, jadi sekarang Alfi hanya bisa membiarkan Akbar melancarkan aksinya.


"Tahan ya," ucap Akbar.


"Pelan pelan."


"Kalau pelan tidak akan selesai, lebih baik kuat sedikit tapi langsung lega," ucap Akbar.


"Oke." Alfi menarik nafas panjang. Dan Akbar langsung...


"Akhkkkk sakit..." Alfi berteriak dengan sangat keras.


"Sudah sudah, lega kan," tanya Akbar.


"Iya lega, terimakasih mas." Alfi langsung lemas seketika.


Akbar juga bernafas lega telah mengeluarkan serpihan botol dari kaki Alfi. Beruntung ia ada di sana, kalau tidak, tidak ada yang membantu Alfi.


"Makan nya kamu hati hati, tadi sudah aku bilang kan, jangan terburu-buru. Sampai jatuh botol Wine itu, sampai kena kaki pula," ucap Akbar.


"Iya mas, maafkan aku," kata Alfi.


"Sudah ayo aku antar ke kamar, kamu istirahat," ucap Akbar.


"Iya mas.."


Akbar menggendong Alfi dan langsung membawanya ke kamar, ia sudah tau dimana kamar Alfi berada karena ia pernah tidur bareng Alfi.


"Tidur yang nyenyak," ucap Akbar.


"Kamu tidak menginap," tanya Alfi.

__ADS_1


"Oh tidak mungkin aku menginap," jawab Akbar.


"Kenapa," tanya Alfi.


"Aku baru beberapa jam ingin mengatakan aku ingin serius pada mu, ya kali langsung nginap, kalau Jihan tau pasti kita jadi bahan ledekan. Aku akan pulang, lain kali aku pasti menginap, tapi berikan aku sesuatu."


"Sesuatu apa," tanya Alfi.


"Nanti kamu akan tau." Akbar mengecup dahi Alfi. Walaupun belum bibir Akbar sangat senang ada wanita yang menerima kecupan dari nya.


"Jika ingin aku antar katakan saja pada ku, aku akan mengantarkan mu," ucap Akbar.


"Iya makasih.." Alfi tersenyum senang, ternyata begini memiliki pacar, rasanya seperti menjadi wonder momen.


Akbar pun pergi meninggalkan kamar Alfi, ia langsung pulang ke rumah. Banyak waktu untuk mendapatkan hal lebih dari kecupan saja. Ia sedikit lebih sabar agar Alfi tidak takut dengan nya.


Keesokan harinya, keluarga Akbar sedang sarapan bersama. Hari ini Akbar dan Arya akan ngegym bersama, mereka berdua sudah lama tidak ngegym karena kesibukan mengurus pernikahan kemarin.


"Jadi yah," tanya Arya.


"Jadi dong, sayang kalau tidak jadi," jawab Akbar.


"Hahaha oke oke, kita berangkat sekarang."


"Kamu jangan kemana mana dong, Alfi suruh ke sini saja, terus kapan pengobatan kamu akan di mulai," tanya Akbar.


"Sudah di mulai sebelum pernikahan kami yah, sekarang kaki ku sudah mulai bisa merasakan sentuhan, memang sebenarnya aku tu masih bisa berjalan, tetapi karena waktu itu kan aku berputus asa. Kata dokter aku akan sembuh sebentar lagi."


"Oh begitu, syukurlah, panggil saja Alfi ke rumah, atau ayah jemput Alfi untuk menemani mu," ucap Akbar.


"Boleh tu, kemarin aku sudah janjian padanya," kata Akbar.


"Oke kalau begitu.." Ini juga kesempatan Akbar agar bisa dekat dengan Alfi.


Setelah selesai makan Akbar langsung menjemput Alfi. Jihan dan Arya hanya tertawa melihat tingkah Akbar, memang pria satu itu sedang berusaha mengambil hati Alfi. Mereka berdua sudah tidak sabar menunggu pernikahan Akbar dan juga Alfi.


"Sayang Ayah tadi tanya," kata Arya.


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Bagaimana main dengan Jihan, kan


Jihan tidak bisa banyak bergerak," kata Arya.


"Terus kamu Jawab."


"Aku jawab, aku punya cara tersendiri yan. Jihan mengambil posisi miring dan aku di belakang nya, terus aku naikan satu kaki nya dan aku tusuk dari belakang dengan gaya itu Jihan sampai puncak bekali kali yah." Arya benar-benar mengatakan hal seperti itu pada sang ayah mertua, memang sangat brutal, ia hanya menjawab pertanyaan sang ayah mertua.


"Kalian gila ya, bisa bisanya berbicara terang terangan begitu, memang kalau laki laki."


"Sayang sekarang aku tanya, emang perempuan tidak begitu, bukannya sam saja ya," tanya Arya.


Jihan jadi ingat kalau ia dengan Alfi pernah membahas hal seperti itu dengan terang terangan juga, dan ternyata memang sama saja tidak ada bedanya.


"Hehehe iya kamu benar," ucap Jihan.


"Nah tu kan, apa yang aku katakan itu memang benar," kata Arya.


Akbar sudah sampai di rumah Alfi. Tanpa ragu Akbar langsung menuju ke kamar Alfi, di sana Alfi tidak terlihat, dari kamar mandi memang terdengar suara air, dapat di pastikan Jihan sedang mandi.


Akbar menunggu Alfi sambil berkeliling kamar ini, ia sangat suka dengan kamar Alfi yang sangat lengkap sekali, apalagi kamar Alfi tidak seperti kamar wanita, sangat masuk di pakai pasangan suami istri.


"Mas." Alfi terkejut melihat Akbar sudah berdiri di hadapan nya.


"Kamu sudah selesai," tanya Akbar sambil mendekati Alfi.


"Kamu ngapain ke sini, aku tidak meminta mu untuk datang."


"Kamu ada janji dengan Jihan kan, aku yang menjemput mu," kata Akbar.


Alfi hanya memakai handuk kimono, hal itu membuat otak Akbar kemana mana, kalau ia mau tinggal tarik saja Alfi pasti sudah tidak memakai apa apa.


"Pakai baju gih," ucap Akbar.


"Iya mas.."


Sebelum Alfi bergerak Akbar menarik Alfi dan membawanya ke sofa. Akbar duduk lebih dulu baru Alfi duduk di atas pangkuan Akbar.


"Kamu mau apa sih mas," tanya Alfi.

__ADS_1


"Mau kamu," jawab Akbar.


Akbar mendekati bibir Alfi secara perlahan, memang paling enak pagi begini ciuman. Apalagi keduanya sudah mandi dan segar.


__ADS_2