Suami Ku Pembantu Ku

Suami Ku Pembantu Ku
Semakin dekat saja


__ADS_3

"Eh bukan begitu, aku hanya tidak sadar saja. Kamu yakin Alfi," kata Akbar.


"Hmmmm..."


"Alfi..." Akbar menaikan satu alisnya.


"Iya, aku menerima tawaran mu tadi," ucap Alfi.


Jantung Akbar seperti mau meledak seketika, ia tidak pernah sesenang ini sebelumnya. Senyuman besar terlihat di wajahnya.


Alfi sendiri hanya tersenyum kecil melihat respon Akbar yang seperti itu, ia maklum Akbar sedikit ngelag karena usia nya.


"Serius Alfi, kamu serius.." Akbar masih tidak menyangka.


"Iya.."


Akbar menarik Alfi dan memeluknya dengan erat, ia tidak bisa berkata apa apa lagi.


"Mau mampir," tanya Alfi.


"Boleh aku mampir?"


"Lah kenapa tidak, emang nya kenapa kalau kamu mampir," kata Alfi.


"Tidak takut aku apa apain."


"Ya kalau kamu apa apain tinggal minta tanggungjawab," ucap Alfi dengan santai nya, ia tidak tau orang tua satu ini sudah berpikir yang tidak tidak.


"Bisa saja."


Mereka berdua turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Alfi mengajak Akbar ke lantai dua tempat yang jarang tamu datangi, hanya Jihan yang pernah sampai ke sini, sekarang ayah Jihan yang sudah bisa ke lantai ini.


"Kamu suka ngemil ya, banyak sekali makanan," tanya Akbar.


"Iya hehehe, aku sangat suka ngemil. Mau minum apa mas," tanya Alfi.


"Tidak usah, tadi kan sudah minum," jawab Akbar.


Mata Akbar tertuju pada satu botol wine di atas meja, kalau di lihat lihat seperti nya baru di minum.

__ADS_1


"Kamu suka minum."


"Aduh kenapa aku lupa menyembunyikan nya," batin Alfi.


"Tidak papa, jangan malu, tapi kalau bisa jangan ya, tidak baik soalnya," ucap Akbar.


Mereka berdua duduk berdampingan, perlahan Akbar lebih dekat dengan Alfi sampai keduanya saling menempel. Alfi sendiri merasa deg deg kan mendapatkan pepetan dari Akbar.


"Kamu tinggal sendiri di sini, kalau kita menikah kamu tinggal dengan ku saja."


"Terus rumah ku bagaimana, dan emang kita akan menikah?"


"Kan tadi aku sudah berkata jika aku serius dengan mu, berarti aku ingin menikahi kamu dong. Minggu depan, kita akan menikah."


"Ha!! cepat sekali," ucap Alfi.


"Untuk apa lama lama lagi, kita juga sudah dewasa, tida perlu lah pacaran lagi," kata Akbar.


"Aku harus memberitahu paman ku dulu," ucap Alfi.


"Oh begitu, ya sudah aku tunggu kesiapan kamu saja, kalau memang kamu sudah siap langsung aku urus pernikahan kita," kata Akbar.


Akbar tidak ingin lambat, semakin cepat semakin baik, ia tidak mempunyai waktu untuk pacaran, waktunya harus ia manfaatkan dengan baik. Jika bisa langsung menikah kenapa tidak.


"Kisah akan sama dengan ayah jika jadi dengan Alfi," kata Jihan.


"Hahaha iya kami benar, aku sudah memikirkan nya sejak tadi," ucap Arya.


"Sayang bagaimana dengan hubungan ayah dengan Alfi sekarang ya, mereka berdua sudah sama sama dewasa, apalagi ayah sudah pernah menikah, pasti ayah ingin langsung serius dengan Alfi."


"Ya aku juga tidak tau, kita doakan saja yang terbaik, tadi kata pelayan di bawah ayah pergi dengan pakaian rapi sejak jam 7 tadi, sekarang sudah jam 9, seperti nya belum pulang dan aku rasa ayah bertemu dengan Alfi," kata Arya.


"Hahaha semoga saja, kamu dekat dengan ayah ku sejak kapan," tanya Jihan.


"Sejak 2 tahun terakhir sepertinya, dia suka ngym tempat aku bekerja," jawab Arya.


"Wah keren dong, pasti Alfi suka."


"Hahaha jelas dong Alfi suka, kamu tida tau saja jika ayah mu itu sangat berotot," ucap Arya.

__ADS_1


"Oh begitu, pantas lah, semoga mereka berdua cocok."


Kembali pada Alfi dengan Akbar, mereka berdua masih duduk bersama, keduanya semakin nyaman satu sama lainnya, sama seperti Arya dan Jihan. Mereka berdua terlihat sedang menonton film bersama, entah sampai kapan Akbar di rumah itu, ia masih ingin terus di rumah Alfi.


"Awww.." Alfi menutup matanya melihat adegan ciuman di depan nya.


"Hahaha kenapa? kamu seperti tidak pernah saja."


"Memang tidak pernah mas," kata Alfi.


"Ha!! yakin tidak pernah." Akbar langsung menatap Alfi.


"Yakin dong," ucap Alfi.


"Mau coba," tanya Akbar.


"Dengan kamu?" Alfi terlihat sedikit ragu.


"Iya dengan aku, dengan siapa lagi jika tidak dengan aku," jawab Akbar.


Perlahan Alfi memejamkan matanya, itu tandanya Alfi siap untuk mendapatkan ciuman dari Akbar. Sambil tersenyum Akbar mendekati bibir Alfi, ia siap mengambil ke virginan bibir Alfi.


Saat bibir mereka berdua bersentuhan Alfi membuka matanya, ia sangat terkejut dengan ciuman itu. Rasanya sangat aneh sekali, tetapi ada rasa lebih yang ingin ia dapatkan. Perlahan Akbar mulai memperdalamnya, Akbar benar-benar sudah sangat Pro dalam hal seperti ini.


Nah saat itulah aku merasakan sesuatu yang berbeda, ini yang selama ini ia cari, jantungnya berdebar sangat kencang, aliran nya darah memacu dengan deras. Hal ini belum pernah Alfi rasakan sebelumnya. Selama ini Alfi hanya mendengarnya dari cerita teman-temannya, sekarang ya dapat merasakan hal ini.


Ciuman itu berlangsung cukup lama, sekitar 10 menitan. Akbar melepaskannya agar Alfi tidak kehabisan nafas, Ia tau Alfi belum dapat mengatur nafasnya dengan baik. Untuk pengalaman pertama ini sudah sangat luar biasa.


"Kamu suka," tanya Akbar.


"Susu...susu...suka.. Rasanya aneh, tapi aku suka. Ini pengalaman yang sangat luar biasa."


Akbar tersenyum mendengar hal itu, rasanya memang sedikit aneh dekat dengan seorang wanita yang jauh di bawahnya. .


Dulu Akbar baru menikah dengan mamanya Jihan saat usianya masih belasan tahun, mereka berdua tidak saling mencintai karena dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Jadi Akbar tidak sempat merasakan indahnya hal seperti, Apalagi setelah menikah mamanya Jihan langsung hamil dan pergi meninggalkannya. Sampai sekarang ini tidak tau kenapa mamanya Jihan pergi begitu saja, padahal saat itu hubungan mereka terlihat baik-baik saja.


Mamanya Jihan datang kembali padanya saat Jihan sudah lahir, dan pergi lagi meninggalkannya begitu saja. Sekarang mereka berdua sudah benar-benar berpisah dan tidak tau keberadaan satu sama lainnya. Jihan sendiri memang sejak kecil ditinggal oleh mamanya pada Akbar, dan Akbar sangat bersyukur dengan hal itu, mereka berdua menganggap wanita itu sudah meninggal kan pernah kembali lagi.


Pukul 12.00 malam sudah waktunya untuk Akbar pulang, Tetapi Akbar masih tetap di situ bersama dengan Alfi yang masih menonton serial drama Korea, Akbar sendiri tidak fokus untuk menonton karena ia tidak suka dengan serial itu, Ia masih bertahan karena memang masih ingin dekat dengan Alfi.

__ADS_1


"Sudah malam kamu tidak pulang."


"Kamu mengusirku Alfi, kalau aku ingin tidur di sini denganmu bagaimana," tanya sih bapak mesum.


__ADS_2