
Hari yang paling Akbar tunggu tiba, hari ini Akbar melepaskan masa duda nya setelah sekian lamanya, Akbar benar benar bahagia sekali, akhirnya setelah sekian lamanya Akbar bisa kembali menikah.
Tidak berbeda dengan Akbar, Alfi merasakan hal yang sama, Alfi akan melepaskan masa gadisnya bersama dengan ayah sahabat nya, terdengar aneh tetapi ini lah yang terjadi.
"Alfi.." Jihan memeluk Alfi dengan erat, ia sangat senang sahabat nya menikah juga. Lebih senang lagi karena Alfi akan menikah dengan sang ayah.
"Nanti aku memanggil mu apa ya, mamah atau bunda," tanya Jihan.
"Ah aku tidak mau, aku tidak mau di panggil mamah atau bunda," jawab Alfi.
"Lah jadi apa, kan kamu akan menikah dengan ayah ku, jadi aku memanggil mu mamah atau bunda."
"Jihan aku tidak mau, aku hanya ingin di panggil nama saja. Aku memang menikah dengan ayah mu, tapi kan kau bukan anak dari rahim ku, jadi kau tetap sahabat ku, kalau kau memanggil ku dengan sebutan mamah atau bunda, kita akan terasa canggung," kata Alfi.
"Iya sih kau benar," ucap Jihan.
"Jihan aku kok takut ya, padahal waktu nya nanti malam loh," kata Alfi.
__ADS_1
"Takut malam pertama ya, santai saja ayah ku sudah berpengalaman untuk malam pertama, jadi kau pasti akan puas."
"Bukan begitu, ah entah lah," ucap Alfi yang tidak paham dengan dirinya sendiri
"Semangat Alfi," ucap Jihan sambil tersenyum pada Alfi, apa yang Alfi rasakan sama yang seperti Jihan rasakan saat menikah dengan Arya.
Sebelum acara tiba, sudah pasti mereka semua akan bersiap-siap termasuk Jihan yang tidak mau kalah cetar dari sang pengantin. Ia sudah memesan baju khusus untuk acara pernikahan ayah dan sahabat nya.
Tetapi anehnya baju yang Jihan pesan khusus terasa sempit saat ia pakai, padahal saat memesan tiga hari lalu sudah pas dengan tubuhnya, Jihan sangat bingung kenapa bisa seperti ini.
"Sayang bajuku enapa terasa sempit ya, padahal tiga hari lalu aku sudah mencobanya dan sangat pas di tubuhku."
"Mungkin kemarin kamu agak kurus, jadi saat bb mu kembali normal bajunya terasa sempit," kata Arya.
Arya hanya bisa memberikan kode seperti itu agar sang istri tidak marah padanya.
"Oh begitu ya, tapi setelah di lihat sepertinya tidak ah. Kamu tidak bohong." Jihan menepis apa yang Arya katakan, ia sangat yakin ia tidak gemuk.
__ADS_1
"Hehehe, Mungkin berat badan kamu sedikit naik." Arya lebih memperjelas nya.
"Oh kamu mengatakan aku gemuk, tidak ah aku tidak gemuk kok kamu saja yang tidak bisa melihat." Jihan memberikan tatapan tajam pada Alfi.
Apa yang Arya takutkan benar terjadi, terlihat wajah Jihan langsung kesal saat ia mengatakan berat badan Jihan sedikit naik. Padahal itu memang benar-benar terjadi. Jihan saja yang masih belum sadar jika berat badannya terus naik.
"Sayang aku tidak mengatakan kamu gemuk, aku hanya berkata jika berat badanmu sedikit naik, sedikit bukan berarti gemuk bukan."
Sama saja itu hanya perkataan yang halus, tinggal kamu katakan saja kamu gemuk Jihan tolong sadar diri," kata Jihan.
"Ah tidak ah orang kamu memang tidak gemuk," ucap Arya.
"Aku tidak percaya itu, Aku marah padamu jangan panggil aku lagi."
Arya membuang nafas dengan kasar, memang sangat sulit mengerti apa yang wanita inginkan, berkata Jujur salah berbohong juga salah. Terus apa yang harus ia lakukan, arya sendiri hanya bisa pasrah.
Arya menarik Jihan menuju kaca yang sangat besar, ini sebagai cara agar Jihan sadar dengan dirinya.
__ADS_1
"Lihat apakah kamu gemuk, Apakah perkataan aku ada yang salah."
Jihan menatap dirinya, bisa dikatakan memang dirinya lebih besar dari biasanya, tetapi belum bisa dikategorikan gemuk. Memang benar yang dikatakan Arya jika berat badannya sedikit naik. Tetapi yang namanya wanita saat melihat berat badannya naik langsung over thinking seketika.