Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 10 — Provokasi


__ADS_3

Ponsel Lylia kembali berdering dan itu panggilan dari sang kakek. Bibirnya mengulas senyum tipis manakala teringat dalam keluarga Richards hanya kakek orang yang sangat menyayangi dan membelanya.


Andai Lylia mengatakan kejujuran tentang kondisi dan apa yang dialami selama tinggal di rumah utama, mungkin pria tua itu akan maju menjadi pembela nomor satu. Namun, Lylia tidak ingin menjadi beban pikiran. Dia ingin membiarkan sang kakek menjalani hari tuanya dengan tenang dan bahagia.


“Akhirnya kau menjawab panggilan kakek. Bagaimana kabarmu, Lylia? Lusa kakek akan datang.”


“Aku masih berada di rumah keluarga Xavier. Besok atau lusa kami baru kembali ke penthouse.”


“Ah begitu. Ya tidak masalah. Kabari kakek jika kau sudah kembali.”


“Baik.”


“Berhati-hatilah. Tetap ingat pesanku ... jangan percaya pada siapa pun selain suamimu.”


“Aku mengerti.”


“Satu lagi. Jika ayah dan ibumu menghubungi, abaikan saja mereka.”


Setelah panggilan selesai, Lylia kembali menyimpan ponselnya di atas nakas. Waktu sudah hampir mendekati makan malam, tetapi suaminya belum kunjung kembali.


Ada sebuah perasaan tak nyaman yang dirasakan. Dulu ... sebelum identitas Xavier terbongkar, dia memiliki banyak waktu bersama dengan suaminya. Namun, kini Xavier tampak sangat sibuk dan dia seperti kehilangan banyak perhatian.


Lama melamun Lylia tak menyadari jika suaminya telah tiba dan saat ini berdiri di belakangnya.


“Ada yang mengganggu pikiranmu?” Pertanyaan itu tentu mengejutkan Lylia yang tak menyadari kedatangannya.


“Sejak kapan kau tiba? Aku tak mendengar suara pintu,” balas Lylia dengan senyum.


“Kau melamun.”


Lylia menggeleng dan berputar untuk menghadap suaminya. “Bersihkan tubuhmu. Sebentar lagi makan malam.”


“Kau belum menjawab pertanyaanku.”


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus menyesuaikan diri dengan waktumu yang kini berkurang.”


Xavier tampak bersalah. Dia memeluk istrinya dengan rasa bersalah dan mengecup puncak kepalanya.


“Maafkan aku.”

__ADS_1


Lylia mengangguk dan melepas pelukan suaminya. Dia menyiapkan pakaian dan meletakkannya di atas ranjang.


“Segera mandi. Jangan sampai kita membuat keluargamu menunggu.”


Sepanjang makan malam suasana tampak tenang. Odette sama sekali tak mencari gara-gara dengannya. Namun, jelas sekali sorot matanya menunjukkan kemarahan.


Setelah menyelesaikan makan malam, Lylia langsung pamit kembali ke kamar.


Sementara Xavier yang masih ada di meja makan tampak menghela napasnya pelan.


“Ada apa dengan istrimu?” tanya Roger. Dia mengira cucu menantunya mungkin tengah ada sedikit problem dengan suaminya.


“Lylia sedikit pusing,” jawab Xavier menutupi.


“Alasan. Memang istrimu itu tidak sopan,” timpal Odette membuat Xavier melirik sinis.


“Jika istriku tidak nyaman berada di sini, Anda tentu tahu jawabannya,” sindirnya.


“Panggil dokter jika begitu.”


Xavier menggeleng dan segera pamit menyusul istrinya. Saat membuka pintu lampu kamar telah dimatikan dan hanya meninggalkan cahaya temaram. Di atas ranjang istrinya berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Dia mendekati sang istri dan membuka selimutnya. Dilihatnya sang istri memejamkan mata. Entah benar-benar tertidur atau hanya pura-pura, Xavier memilih tak mengganggunya.


“Maafkan aku. Selamat tidur, Istriku.”


Acara yang dinantikan telah tiba. Xavier membawa Lylia ke acara yang telah disiapkan sepupunya. Gord, putra dari Henry dan Starlight.


Pesta penyambutan kembalinya ke perusahaan. Mengundang seluruh kolega bisnis dan rekanan kerja, agar mereka tahu jika dirinya telah kembali.


“Sudah siap?” tanya Xavier yang hanya dijawab anggukan.


Seluruh keluarga sudah lebih dulu datang ke ballroom. Xavier masih menunggu istrinya yang masih bersiap.


Mengenakan pakaian dengan warna senada, keduanya tampak begitu sangat serasi. Cantik dan tampan. Lylia mengandeng lengan suaminya dengan erat dan memasang wajah yang penuh kharisma.


Saat pintu ballroom terbuka, tentu saja kehadiran mereka menjadi pusat perhatian. Seluruh pasang mata menatap ke arah pasangan suami istri yang malam ini tampak begitu memukau. Kecantikan dan ketampanan suami istri itu membuat para pria dan wanita terpesona.


Wajah Xavier yang sudah menjalani operasi bedah plastik tetap saja masih tampan dan tak meninggalkan kecacatan sama sekali. Sementara Lylia memiliki kecantikan alami yang memancarkan aura luar biasa.


Saat Xavier naik ke atas panggung dan memberikan sambutan, bisik-bisik mulai terdengar. Tentu saja bagi orang-orang yang tak menyukai dirinya, hal itu bisa menjadi ancaman.

__ADS_1


“Kau lihat, suamimu menjadi pusat perhatian para wanita.” Bisikan itu membuat Lylia segera menoleh.


“Tentu karena dia tampan,” jawab Lylia mencoba santai. Meskipun kedua tangannya kini terkepal dengan kuat mengingat ketidaksopanan pria itu saat merendahkannya.


“Akan banyak wanita yang bersaing untuk mendapatkannya.”


Lylia memamerkan senyum yang sangat anggun. Dia mengambil wine dari pelayan yang kebetulan lewat dan menyesapnya pelan.


“Bahkan mungkin suamimu nantinya akan memiliki simpanan. Dia kaya dan punya segalanya tak akan cukup dengan satu wanita.” Pria itu memprovokasi.


“Jika dia melakukan itu artinya dia siap kehilangan. Sejatinya pengkhianat itu bisa datang darimana saja. Tak perlu kaya, bahkan yang miskin pun banyak yang melakukannya.”


“Affair dalam dunia bisnis itu hal biasa. Asal suami tetap kembali pada istri, perselingkuhan bukan hal yang luar biasa.”


Kembali Lylia tersenyum. “Pernikahan tak sebercanda itu. Ikatan sakral itu suci dan bukan maianan, itulah sebabnya hanya orang-orang berkomitmen yang bisa melakukannya.” Lylia menutup mulutnya dan tergelak pelan. “Aku lupa jika kau tidak termasuk di dalamnya.”


“Apa maksudmu?” desisnya geram, tetapi diabaikan oleh Lylia yang melewatinya begitu saja.


Sejak turun dari panggung, Xavier benar-benar disibukkan dengan orang-orang yang datang menghampiri dan mengajaknya bicara. Mulai dari pria dan wanita yang mulai menjilat. Ah ... Lylia tidak asing dengan hal itu, dia bahkan muak mendengar puja-puji penuh kepalsuan.


Lylia hanya tersenyum tipis saat ada yang menyapa dan kembali diam menyimak saat suaminya sibuk bicara.


“Bosan?” tanya Xavier menatap istrinya.


“Lelah juga.”


Karena tak tega dengan istrinya Xavier segera pamit pada keluarganya untuk kembali ke kamar lebih dulu.


“Apa tidak masalah jika kau pergi dulu? Aku tidak mau kakek berpikir kita tidak menghargai mereka.”


“Kakek tahu.”


“Aku bisa kembali ke kamar sendiri. Kau bisa berada di sana sampai acaranya selesai.”


“Suamimu ini tidak menerima penolakan, Sayang.” Xavier memojokkan sang istri di dinding dan mengecup bibirnya.


Saat lift hampir tertutup kembali. Ada tangan yang menghalangi dan sosok wanita dengan pakaian yang amat terbuka masuk dengan senyum cantiknya.


Namun, di mata Xavier senyum itu tampak memuakkan dan penuh tipu muslihat.

__ADS_1


“Lama tidak bertemu, Tuan Muda Xavier. Kau tidak gegar otak, kan? Masih ingat aku?”


To Be Continue ....


__ADS_2