
Brak!
Xavier menggebrak meja dengan keras setelah rapat bersama petinggi perusahaan usai. Termasuk dengan para anggota Keluarga Bailey yang bekerja di sana. Para sepupu Xavier memang bekerja di sana, tetapi tak ada pengecualian atau keistimewaan. Mereka ditempatkan sesuai kemampuan yang dikuasai.
Terima atau tidak sama sekali, begitu katanya.
Salah seorang pria setengah baya berlutut di sebelah Xavier dengan kepala menunduk. Meski Xavier sudah merombak dan memecat mereka yang berkhianat, tetapi masih saja ada yang ingin menguji kebaikannya.
“Saya minta maaf, Tuan. Saya terpaksa melakukannya,” ujar pria itu lirih.
“Siapa yang memintamu?”
“Saya melakukannya karena keadaan. Ampuni saya, Tuan,” mohon pria itu lagi semakin memelas.
Anaknya sakit dan dia membutuhkan perawatan dengan biaya yang tak sedikit. Meski gaji di perusahaan ini sangat besar, tetap saja tak bisa menutup tagihan rumah sakit yang setiap hari membengkak.
Dia terpaksa melakukan kecurangan itu. Namun, dia juga tak menyangka akan diketahui secepat ini.
“Bawa dia ke kantor polisi,” perintah Xavier pada Jensen yang langsung dilakukan.
Suasana di dalam ruang rapat kembali tegang. Tampak beberapa orang menahan napas saat Xavier mengamati mereka satu persatu dengan matanya yang tajam.
Kembalinya Xavier ke perusahaan dan perombakan yang dilakukan ternyata tak membuat para karyawan berhati-hati dalam bertindak. Justru, mereka seolah menantang dan menguji kemampuannya.
Jika kinerja Xavier dibandingkan dengan Henry, tentu sangat berbeda. Semua orang pun merasakan perubahan tersebut.
Sementara masalah Henry yang tak lagi ada di sana, jelas menjadi perbincangan hangat. Berbagi spekulasi mulai bermunculan, meski tak pernah ada yang berani menanyakannya.
Ketegangan antara Henry dan Xavier hanya keluarga inti yang tahu. Semua kebobrokan Henry dibuka oleh Xavier di hadapan keluarga. Kecurangan yang dilakukan Henry bahkan membuat Roger begitu murka. Namun, Henry berdalih apa yang dilakukan sebagai tanda balas budi karena dia telah bekerja keras membantu kemajuan perusahaan.
Bukan hanya mengeruk uang di perusahaan, pria paruh baya itu kini juga termasuk pemegang saham, meskipun hanya lima persen.
Sebelum Xavier mencapai ruangannya, sang sekretaris memberitahunya jika ada tamu yang menunggu.
“Siapa?”
“Seorang wanita, Tuan.”
Alis Xavier menukik tajam. Dia bersiap memarahi sekretarisnya karena membiarkan istrinya.
“Kenapa kau tidak membiarkan istriku masuk ke ruangan?!” bentak Xavier marah.
“Dia istri Anda?” Bola mata pria itu membulat sempurna. Bukankah wajar jika dia tidak tahu, karena baru bekerja selama satu minggu menggantikan sang kakak yang tengah terbaring sakit akibat kecelakaan.
“Bawa dia masuk ke ruanganku,” bentak Xavier dan berlalu begitu saja.
Suara pintu berdebum kencang membuat Orion—sang sekretaris, hanya bisa menghela napas kasar.
__ADS_1
Sedikit berpikir, mengapa sang kakak bisa bertahan bekerja dengan pria pemarah sepertinya. Selain karena gaji yang ditawarkan sangat besar dan tunjangan yang didapatkan juga sangat menggiurkan.
Orion menuju ruang tunggu yang ada di ujung lorong. Saat membuka pintu, wanita itu langsung tersenyum.
“Sudah selesai?”
“Sudah, Nyonya. Tuan menunggu Anda di ruangannya,” ujar Orion sambil menunduk meminta maaf.
Alis wanita itu terangkat heran. Benarkah sambutannya sebaik ini? Belum lagi panggilan nyonya yang tersemat padanya, membuat wanita itu sedikit mengerutkan kening. Padahal seingatnya pria itu memanggilnya nona.
Orion mengantarkan wanita itu. Mengetuk pintu untuk menandakan kehadiran mereka dan membukanya. Mempersilakan wanita itu masuk begitu saja.
Xavier yang baru keluar dari kamar istirahatnya terbelalak lebar melihat siapa tamu yang datang.
Wajah yang tadinya dihiasi senyum, kini berubah datar dalam waktu singkat. Sikap Xavier terlihat sangat dingin. Suasana hatinya buruk saat tahu jika wanita yang datang bukanlah sang istri.
Namun, Xavier mencoba acuh tak acuh dan hanya menanggapi dingin pada wanita itu.
“Xavier, maafkan aku,” ucap wanita itu dengan wajah memelas. “Aku ingin menjelaskan semuanya,” lanjutnya dengan wajah menunduk sedih. Membendung air mata yang sudah menganak sungai.
“Aku terpaksa melakukannya. Maafkan aku. Sungguh aku menyesal dan begitu bersalah padamu,” ucap wanita itu tetap melanjutkan meski tak ada sahutan apa pun dari lawan bicaranya.
“Semua ini ulah Pedro. Dia mengancam akan menyakitimu agar aku menuruti keinginannya. Aku tak punya pilihan lain karena aku takut kau terluka.” Isak tangis wanita itu terdengar. Tubuhnya bergetar karena tangisnya tak kunjung reda. “Pedro menjebakku dan menjualku pada pria itu. Aku terpaksa mengkhianati dirimu untuk menyelamatkan nyawamu.”
Bibir Xavier terangkat sinis. Dia menatap wanita itu dengan tatapan merendahkan. Ucapan wanita itu bagaikan lelucon di telinganya.
Xavier hanya menatap datar. Setelah tak ada ucapan lagi, pria itu berkata, “Kau sudah selesai dengan penjelasanmu? Jika sudah, cepat pergi karena aku tidak memiliki waktu untuk mendengar dongengmu.”
Respon yang begitu tak terduga. Wanita itu pikir Xavier akan menenangkannya, atau paling tidak pria itu akan memberinya ucapan yang lebih baik. Namun, sampai bermenit-menit berlalu pria itu justru memanggil keamanan untuk mengusirnya.
“Xavier, kenapa kau lakukan ini!” teriaknya keras dan marah saat lengannya dipegang lalu diseret keluar begitu saja seperti sampah yang tak berguna.
Aura tenang yang dikeluarkan Xavier justru membuat Orion senam jantung. Dia melakukan kesalahan dan mengakuinya. Berkali-kali pria itu menunduk sambil mengucapkan kata maaf.
“Kau lihat dan ingat baik-baik wanita yang menjadi istriku. Satu kesalahan lagi, kau akan kukirim menemui Bernad!” ujar Xavier penuh penekanan. Sementara Orion tampak mengangguk meski dia penasaran.
Siapa Bernad?
—
“Ada masalah? Kau tampak terlihat kusut sekali.” Lylia membantu sang suami melepas jas dan kemeja.
“Hanya masalah pekerjaan.”
“Yakin?”
Xavier mengangguk meyakinkan.
__ADS_1
“Kau sudah berjanji tak akan menyembunyikan apa pun dariku. Jadi, jangan ada yang ditutupi lagi. Aku berhak tahu sebagai istrimu!” tegas Lylia, membuat Xavier menelan saliva susah payah.
“Ada seorang pengkhianat yang mengambil uang perusahaan,” kata Xavier dengan helaan napas panjang. “Sudah kuperingatkan untuk tak bermain-main, tapi mereka seperti menentang dan ingin tahu konsekuensinya.”
“Lalu, kau apakan dia? Penjara?”
“Tentu. Penjahat memang tempatnya di penjara,” sahut Xavier mengangguk. Namun, dia tak menceritakan detail apa yang dialami.
Pria itu tetap harus menanggung akibat dari perbuatannya. Meski setelahnya Xavier mengambil alih tanggung jawab pria itu untuk memberikan perawatan untuk anaknya.
“Lalu?”
“Aku sedikit kesal dengan Orion. Bisa-bisanya dia tidak mengenalmu,” ujarnya tak menyembunyikan kekesalan.
Sebenarnya kesalahan itu tidak sepenuhnya datang dari Orion. Sekretaris itu hanya mengatakan ada tamu wanita. Namun, Xavier sendiri yang langsung berspekulasi jika itu adalah istrinya.
Jadi siapa yang patut disalahkan?
“Sekretaris barumu? Adik Arron? Kami belum pernah bertemu, wajar jika pria itu tak tahu.”
“Kau membelanya?”
Kalimat mana yang mengatakan aku membelanya? Hanya menjelaskan.
Lylia menggeleng cepat. “Apa masalahnya?”
“Ada tamu wanita dan dia menyangka itu adalah istriku. Aku senang mendengar kau datang tapi ternyata Orion salah orang.”
“Siapa wanita itu?” tanya Lylia santai, tetapi penuh penekanan.
Xavier kembali menelan saliva susah payah. Jika jujur dia takut Lylia akan marah, tetapi jika berbohong itu juga sama saja akhirnya. Perlahan Xavier menepuk pahanya, meminta Lylia mendekat dan wanita itu segera melakukannya tanpa banyak protes.
“Kau harus percaya padaku!”
Lylia justru menatap aneh ke arah suaminya.
“Wanita itu hanya masa lalu. Aku pun tak tahu jika dia masih memiliki muka untuk menemuiku. Sungguh ... aku langsung mengusirnya,” jelas Xavier susah payah.
Lylia hanya ber-ohh pelan. Dia menarik napas pelan.
“Olivia Ruby atau Miranda Roxanne?”
Saat pertanyaan itu muncul dari mulut Lylia. Mata Xavier langsung terbelalak. Tak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajah.
Dari mana dia tahu?
To Be Continue ....
__ADS_1