Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 9 — Rahasia


__ADS_3

Plak!


Federick menghampiri Eudora dan memberikan tamparan keras hingga tubuhnya terhuyung. Pria tua itu sudah tak mampu menahan amarah karena apa yang dilakukan menantunya. Selama ini dia memang tidak tahu apa yang terjadi di rumah keluarga. Sebab dirinya memilih mengungsikan diri untuk tinggal di rumah sederhana menikmati hari tuanya. Seperti mimpinya dengan sang istri yang lebih dulu pergi.


Dalam benaknya sekalipun Federick tak pernah menyangka jika Eudora akan berbuat sekejam itu dengan mendorong putrinya sendiri ke tepi jurang.


“Keterlaluan! Kau mengorbankan putrimu untuk memuaskan dahaga dengan selalu memandang semuanya dari harta. Di mana perasaanmu, Eudora? Kenapa kau tak membiarkan Lylia bahagia dengan pilihannya.”


“Pilihan itu karena papa yang membuatnya. Andai papa mengatakan yang sebenarnya, aku tidak akan meminta Lylia untuk menceraikan suaminya,” balas Eudora membela diri. Seandainya dia tahu jika Xavier adalah seorang milyarder, tentu dia tidak akan melakukan hal ini.


“Kebahagiaan tak melulu soal harta dan uang. Kau seharusnya paham.”


“Papa yang lebih tahu bahwa harta bisa menjadi sumber pelipur lara.”


Eudora memejamkan mata sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. Napasnya memburu menahan amarah sekaligus luka. Sebuah luka masa lalu yang tak mungkin hilang walau telah dimakan waktu.


“Tapi bukan berarti kau mendorong putrimu sendiri untuk dilecehkan.”


“Lylia bukan putriku!” teriak Eudora keras dengan penuh amarah.


“Jaga bicaramu, Eudora!” Suara pekikan itu berasal dari Alucard yang tak menyangka jika sang istri bisa mengungkapkan itu. Sebuah rahasia yang telah lama dijaga dan disembunyikan.


“Itu kenyataan! Lylia bukan anakku, dia anakmu bersama dengan wanita jahanam itu di belakangku. Kaulah yang brengsek, Alucard! Kau bajingan!” murka Eudora mendekat ke arah Alucard dan memukuli dada bidang pria yang telah seperempat abad menjadi suaminya. Matanya berkobar penuh kemarahan dan juga kekecewaan yang amat mendalam.


“Jaga bicaramu, Eudora. Jika kau sampai tak menjaga mulutmu, kau akan tahu akibatnya.” Peringat Federick yang memilih pergi.


“Lihatlah! Papa selalu membela anakmu bersama wanita iblis itu. Kau yang bersalah, kau yang bajingan, tapi aku yang harus menanggung sakit dari semua perbuatanmu. Kau kejam, Alucard!” isak tangis Eudora tak lagi tertahan, matanya basah sebab rasa sakit yang bertahun di tahan di dadanya.


“Maafkan aku. Seribu kali maaf pun aku tahu kau tak mungkin bisa melupakannya. Tapi Lylia tidak bersalah, dia tidak tahu apa pun. Jangan libatkan dia dalam kebencianmu.” Alucard merengkuh istrinya dan berbisik pelan. Berharap, sangat berharap jika istrinya itu mau memahami.


“Dia bersalah karena lahir dari rahim wanita murahan itu. Andai dia tidak lahir, rasa sakitku tak akan sedalam ini. Bertahun-tahun aku harus menahan luka hatiku karena merawat anak hasil pengkhianatan suamiku sendiri. Kau bisa bayangkan bagaimana hancurnya hatiku? Jawab aku!”

__ADS_1


Alucard diam. Selama ini dia tak mampu melawan istrinya bukan karena dia tidak menyayangi Lylia. Alucard menyayangi ketiga putrinya tanpa perbedaan. Namun, karena dia menyadari pernah memiliki kesalahan pada Eudora, dia lebih banyak mengalah dan diam dengan apa pun yang diperbuat wanita itu. Termasuk dengan selalu mengusik Lylia, tak membiarkan putri keduanya itu meneguk nikmatnya bahagia.


“Lylia selalu menyayangimu.”


“Karena dia menganggap aku ibunya. Andai dia tahu aku bukan ibunya, dia pasti membenciku seperti aku yang membenci kehadirannya.”


Itulah alasan mengapa Eudora selalu bertindak tidak adil kepada Lylia. Xavier hanya alasan dan kebetulan datang di saat yang tepat sehingga dia bisa melampiaskannya. Eudora ingin membalas perasaan sakit yang selama ini dirasakan. Walau dia sendiri tahu itu tidak adil untuk Lylia yang tidak tahu apa pun. Dia hanya lahir dari kesalahan kedua orang tuanya, tanpa bisa memilih dengan cara apa dia akan dilahirkan.


“Maafkan aku, Eudora. Kumohon, jangan libatkan Lylia dalam kebencianmu. Silakan benci aku semaumu, tapi biarkan Lylia bahagia dengan kehidupannya.”


Permintaan Alucard membuat Eudora mengepalkan tangan geram.


Hanya jika aku mati, akan kubiarkan anak harammu itu bahagia. Selama aku hidup, kupastikan dia akan menderita sama seperti diriku.



Federick memilih kembali ke rumah tinggalnya yang sederhana. Dia tak lagi mau ikut campur urusan di rumah utama, dia menyerahkan semuanya pada Alucard untuk membereskan kekacauan yang terjadi.


Sementara Stefen Howard kini kabarnya tengah sekarat di rumah sakit. Perusahaan keluarganya hancur dan tak lagi bisa diselamatkan.


Tentunya Alucard sudah bisa menebak siapa yang melakukannya, itulah sebabnya dia mengumpulkan seluruh keluarganya di ruang keluarga.


“Minta maaf pada Xavier dan Lylia,” ucapnya membuat Eudora menatap tak terima, sementara anak dan menantunya langsung menggeleng sebagai bentuk penolakan.


“Kami tidak akan melakukannya. Untuk apa!” sahut Alice sinis.


“Silakan saja itu terserah kalian. Jika setelah ini kalian ingin hidup miskin, maka pertahankan harga diri dan ego kalian,” balas Alucard dengan serius. Kini yang mereka hadapi bukanlah Xavier Thomas si pekerja biasa, melainkan pewaris kerajaan bisnis yang bisa melakukan apa pun dengan hanya satu jentikan jari. Seperti yang dilakukan pada keluarga Howard.


“Yang bersalah ibu. Bukan kami, jadi bukan kami yang akan menanggungnya.” Hanzo angkat suara. Dalam benaknya jika keluarga Richards bermasalah itu tidak akan berpengaruh apa pun pada keluarga William yang tak pernah memberi manfaat apa pun.


“Mana bisa begitu. Selama ini kau yang telah banyak dibantu oleh keluarga Richards, tunjukkan sedikit rasa hormatmu.” Bruno menyela dengan suara yang gusar.

__ADS_1


Hanzo terkekeh geli. “Itu hanya sebatas hutang dan aku sudah mengembalikannya. Jika memang kau takut miskin, maka lakukan permintaan ayah.”


“Kami pamit Ayah, Ibu. Kami akan kembali dan tidak ingin terlibat apa pun dengan permasalahan kalian,” ujar Hanzo menunduk sopan pada kedua mertuanya dan menarik Alice untuk mengikutinya.


“Lihat. Itu menantu yang selalu kau banggakan, dia lepas tangan begitu kita bermasalah,” kata Karina geram. Dia tidak ingin hidup miskin, itu sebabnya langsung melanjutkan, “Kami akan minta maaf dengan Xavier dan Lylia.”


Keluarga Miller telah lama bangkrut, selama ini mereka masih bisa tegak karena sokongan dana dari keluarga Richards. Jika tidak, mungkin Bruno atau Karina sudah lama kehilangan muka. Namun, jika keluarga Richards ikut bermasalah maka bisa dipastikan Miller pun akan dalam masalah.


“Rina!” pekik Bruno tidak setuju.


“Diamlah jika kau masih ingin keluarga Richards menjadi penyokong untuk Miller,” bentak Karina dengan wajah cemas.


Pada akhirnya Eudora hanya bisa pasrah saat Alucard semakin menakuti dengan kalimat provokasi yang dikatakan. Eudora dan Karina tentunya tak ingin hidup miskin, itu adalah mimpi buruk dan mereka sama sekali tak berharap akan ada di posisi tersebut.


“Baiklah. Hubungi adikmu dan katakan ibu mengundang kalian untuk makan malam di rumah. Saatnya kalian meminta maaf sebelum apa yang terjadi dengan Howard menimpa keluarga kita.”


“Baik, Ayah.”


Berkali-kali Karina mencoba menghubungi Lylia, tetapi panggilan itu tak terjawab.


Alucard meminta Eudora untuk mencoba menghubungi Lylia menggunakan ponsel pribadinya, tetapi sama saja. Panggilan itu tak mendapatkan respons sama sekali.


“Dasar anak kurang ajar. Dia sombong sekali setelah tahu suaminya kaya raya,” umpat Eudora kesal.


Di hari berikutnya Eudora, Karina dan Alucard mencoba menghubungi Lylia kembali. Namun, tetap saja panggilan itu tak mendapatkan jawaban, justru mereka mendapat kejutan tak terduga yaitu penurunan saham di Rich Company yang hampir menyentuh batas merah.


Kemarahan lagi dan lagi melingkupi diri Eudora. Bibirnya tak henti mencaci dan mengutuk Lylia karena perbuatannya.


“Kenapa kau tidak membawa putri sialanmu itu, Ling Hua. Aku benar-benar akan mengirimnya menemuimu jika dia menyulitkan hidupku dan putriku”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2