Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 24 — Lylia tahu sesuatu


__ADS_3

Tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran seorang Xavier Thomas Bailey, begitu juga dengan Lylia Federick Richards—yang kini menyandang marga Bailey.


Pertanyaan Lylia yang tahu tentang masa lalunya sedikit mengusik Xavier.


Bagaimana bisa tahu?


Siapa yang mengatakannya?


Sejak kapan?


“Kenapa? Tebakanku salah, ya?” ucap Lylia membuyarkan lamunan Xavier.


“Kau ... bagaimana bisa tahu? Siapa yang mengatakannya?”


“Tidak ada, aku hanya menebak,” balas Lylia dengan senyum simpul.


Jelas saja Lylia berbohong. Menebak? Jika menebak tak mungkin wanita itu akan tahu nama-nama mantan kekasihnya.


Mencari di internet pun percuma karena berita kedekatan Xavier dengan para wanita sudah dihapuskan.


Xavier tersenyum canggung. “Istriku hebat. Tebakannya tepat sasaran,” balasnya.


“Ada apa dia menemuimu? Menyesal telah meninggalkanmu dan ingin kembali?” tanya Lylia dengan nada mengejek. Bukan pada Xavier, tetapi pada wanita yang menemui suaminya. Andai wanita itu ada di depan mata mungkin Lylia akan mengatakan dan memaki wanita tidak tahu malu yang mencoba merayu suaminya.


“Abaikan saja. Wanita itu tidak penting lagi!”


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Lylia membuat Xavier menatapnya tajam.


“Sayang sekali aktingnya tidak terlalu membuatku terkesima,” balas Xavier.


Lylia terkekeh pelan. Dia tak lagi menimpali, memilih turun dari pangkuan sang suami dan masuk ke kamar mandi.



Di sisi lain seorang wanita mengumpat kasar sambil melemparkan barang apa pun yang ada di depan mata.


“Sialan! Kau tidak mungkin melupakanku begitu saja. Aku tahu dan yakin kau sangat mencintaiku.”


Wanita itu terus mengumpat untuk meredakan amarah yang menyesakkan dada. Sesekali dia meringis saat tangannya terluka karena terkena serpihan tajam dari barang-barang yang sudah tak berbentuk.


“Aku yakin kau menikahi wanita itu hanya karena balas budi. Kau tidak mungkin mencintainya!”


Bukannya tidak tahu jika setelah kepergiannya, pria itu pernah dikabarkan frustrasi dan berubah semakin tak tersentuh.


Dia juga tahu jika selama kepergiannya pria itu pernah mencarinya ke penjuru negeri. Namun, tentu keberadaannya tak akan mudah ditemukan.


“Seperti dengan Olivia Ruby, wanita itu hanya pengalihan saja!”


Keyakinan wanita itu sangat kuat. Namun, dia melupakan bahwa seiring berjalannya waktu. Perasaan bisa berubah jika tak dipupuk dengan baik.

__ADS_1


Setelah lima tahun menghilang lalu kembali dan muncul begitu saja.


“Aku harus bisa mendapatkannya. Xavier Thomas Bailey, hanya kau yang bisa menolongku!”



Semakin hari Xavier menyadari perubahan sikap Lylia yang tampak tak seperti biasa.


Wanita itu kini lebih banyak diam. Namun, ketenangan itu membuat Xavier sedikit merasa aneh.


Banyak hal yang mulai diketahui oleh Lylia, tetapi bukan itu yang menjadi fokusnya.


Darimana Lylia tahu? Itu poin terpenting.


Xavier hanya takut, ada seseorang yang mencuci otak Lylia dan mengatakan sesuatu yang tidak benar.


Jika memang ada yang melakukannya, itu jelas bukan orang luar. Karena Xavier tahu jika Lylia jarang sekali keluar dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


Seperti saat ini wanita itu memilih menyendiri di balkon kamar sambil menatap ke arah langit. Saat Xavier mendekat, wanita itu segera mengusap wajahnya pelan lalu tersenyum menyambut kehadirannya.


“Maaf aku pulang terlalu larut. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” ujar Xavier memberikan kecupan di pelipis Lylia.


“Tidak apa-apa. Mandilah setelah itu aku temani makan,” balas Lylia tersenyum.


“Aku sudah mandi di kantor dan makan saat rapat di restoran. Bagaimana denganmu?”


“Ada yang salah denganmu, Ly. Kau tampak berbeda sekali.”


Lylia memandang Xavier intens, lalu menggeleng sambil berkata, “Mungkin hanya perasaanmu saja.”


“Ada yang mengganggu pikiranmu? Katakan saja!”


“Tentang pelaku penembakan kakek, kau sudah dapatkan siapa yang menyuruhnya?”


Sekali lagi Xavier menghela napas panjang. “Entahlah, penyelidikan yang dilakukan Moskov mengarah pada satu orang yang sangat kau kenal.”


Lylia menarik senyum di bibirnya. “Aku tahu dan itu memang benar. Tidak ada yang salah,” ujarnya membuat Xavier terkejut.


“Lylia?”


“Ya, sejak kau menyebutkan namanya aku memang sudah tahu.”


“Kau memilih diam dan menyembunyikannya?” Xavier tak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang disembunyikan Lylia.


“Tidak, Vier. Hanya menunggu waktu yang tepat saja.”


Sebelah alis Xavier terangkat, dia menatap istrinya bingung. “Untuk?”


“Lupakan saja. Ayo masuk, udara mulai dingin.”

__ADS_1



Setelah selesai sarapan, Xavier berpamitan pergi ke kantor. Di dalam perjalanan pria itu tampak terdiam dan merenung.


“Selidiki siapa yang berhubungan dengan Lylia akhir-akhir ini.”


Jensen mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”


“Dia sudah mulai bergerak?”


“Sejauh ini mereka masih diam. Tapi ada mata-mata kita yang mengatakan, ada anggota Keluarga Bailey yang terlihat di pelabuhan.”


“Awasi terus. Bisa saja mereka sengaja diam hanya sebagai pengalihan agar pihak kita lengah.” Xavier melempar pandangan keluar.


Kembali pada kehidupan asli dan menunjukkan identitas yang sebenarnya sama dengan menarik musuh-musuhnya untuk mendekat. Namun, kali ini sepertinya Xavier ingin menunjukkan pada para musuh jika dia masih hidup dan siap menghadapi apa pun.


Termasuk melindungi apa yang sudah menjadi miliknya.



“Bibi, aku ingin memelihara kucing atau anjing. Bisakah?” tanya Lylia penuh harap pada kepala pelayan yang sudah sangat akrab dengannya.


“Anda bisa melakukan apa pun dan minta apa pun yang Anda inginkan, Nyonya.”


“Katakan pada sopir untuk menyiapkan mobil. Aku akan bersiap,” kata Lylia senang.


“Anda tidak diizinkan keluar tanpa izin dari Tuan.”


“Kau bilang aku bisa melakukan apa pun!”


“Kecuali keluar rumah tanpa izin. Hanya itu pesan dari Tuan.”


Lylia yang tadinya senang langsung menekuk wajahnya seperti ingin menangis. Secepat kilat Bibi Bea segera membujuknya dengan mengatakan jika hewan yang diinginkan akan tiba satu jam lagi.


“Benarkah?”


“Tentu.” Bibi Bea segera pergi dari hadapan Lylia. Dia memerintahkan dua pelayan dan satu pengawal untuk membeli keinginan sang nyonya.


Bibi Bea kembali datang ke ruang keluarga sembari membawa nampan berisi camilan dan minuman dingin.


Layar besar di depan Lylia menyala. Televisi berukuran hampir setengah dari dinding itu langsung menampilkan sebuah berita dari acara gosip.


“Nyonya ....”


Lylia semakin mengeraskan suara hingga ucapan pembawa acara itu menggema. Sudut bibir Lylia tertarik ke atas membentuk sebuah senyum yang terkesan misterius. Matanya fokus menatap liputan itu dengan tenang.


“Karma dibayar instan,” celetuk Lylia sambil terkekeh pelan.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2