
Xavier menggenggam tangan Lylia memasuki mansion utama Keluarga Bailey. Setiap hari di tanggal yang sama setiap bulan, akan diadakan jamuan makan malam bersama seluruh keluarga besar. Tujuan utamanya untuk mempererat tali persaudaraan dan juga melaporkan perkembangan dari setiap anggota keluarga.
Memasuki ruang keluarga, masih belum ada siapa pun di sana kecuali Robert yang tengah menerima laporan dari asistennya.
Keduanya menyapa, membuat pria tua itu mengembangkan senyum lebarnya.
“Apa kabar, Kakek?” tanya Lylia setelah melepaskan pelukan pria tua itu.
“Selalu baik jika sudah melihat kalian,” balas Robert membuat Xavier memutar bola matanya. “Kenapa wajahmu seperti itu, Vier? Jangan bilang kau cemburu dengan pria tua ini.”
Xavier mendengus pelan. “Kau tak akan bisa bersaing denganku, Kakek. Sudahlah, ingat umur,” balasnya malas.
“Kurang ajar! Kenapa kau membawa masalah umur. Meski aku sudah tua, tak akan melunturkan ketampananku.”
“Kau memang tampan, tapi keriput di wajahmu tak bisa berbohong.”
Keduanya saling melempar ledekan satu sama lain. Lylia tersenyum tipis melihatnya.
“Aku ke toilet sebentar,” pamit Lylia.
“Perlu kuantar?”
“Tidak. Aku tidak akan tersesat di sini. Kau jangan khawatir,” balas Lylia dan segera melangkah keluar.
Xavier menatap Robert serius. Wajah jenaka keduanya lenyap begitu Lylia sudah tak lagi terlihat.
“Ada masalah?” tanya Robert menatap cucunya intens.
“Dia mulai bergerak.”
“Apa rencanamu?”
“Tidak ada. Biarkan dia bergerak dan menunjukkan dirinya. Semakin terlihat semakin baik, kan?”
“Perketat penjagaan untuk Lylia. Baik di rumah atau saat keluar. Tempatkan orang-orang terbaikmu di sekitar istrimu,” saran Robert yang langsung dijawab anggukan Xavier.
“Bagaimana dengannya?”
Xavier tersenyum tipis. “Terlalu ceroboh hingga pergerakannya sangat kentara.”
“Jangan membunuhnya. Bagaimana pun, hubungan darah lebih kental daripada air.”
__ADS_1
“Dia boleh membunuhku, tapi aku tak boleh melakukannya. Bukankah kau terlihat sangat tidak adil, Kakek?” sindir Xavier tersenyum sinis.
Pembicaraan keduanya terhenti saat satu persatu keluarga mulai memasuki ruangan. Mereka tampak terkejut melihat kehadiran Xavier yang sudah lebih dulu ada di sana.
Meski keluarga ini masih dipimpin oleh Robert sebagai kepala keluarga, tetapi seluruh kekuasaan ada di bawah kendali Xavier.
“Lylia tidak ikut?” tanya Starlight mencoba basa-basi.
Namun, belum sempat Xavier menjawab, yang dicari telah muncul dengan wajah sungkan.
Lylia menyapa mereka meski mereka menatapnya datar dan penuh permusuhan. Apalagi Odette tampak tersenyum sinis padanya.
Semua keluarga duduk di sofa dengan tenang. Sesekali saling melempar pandang satu sama lain. Suasana tiba-tiba terasa begitu panas saat Robert mulai mengeluarkan suara.
“Ada yang berusaha menyerangku. Entah berniat membunuh atau tidak, bukankah mereka terlalu ceroboh?” kata Xavier membuat semua orang terkesiap dan menegang.
“Bisa saja itu saingan bisnismu, Xavier,” jawab Henry dengan wajah pias.
“Mungkin. Tapi bukti yang kudapatkan sungguh di luar dugaan, Paman,” jawab Xavier dengan senyum tipis lagi-lagi membuat semua orang menahan napas. Bukan senyum indah penuh ketulusan yang ditunjukkan, tetapi seringai kejam yang menyimpan banyak arti.
“Kalau kau memang sudah tahu siapa pelakunya, seret dia dan bawa ke mari. Berbasa-basi sama sekali bukan dirimu, Xavier!” ujar Zilong Dominic penuh penekanan.
“Kau menuduh keluargamu, Xavier?” tanya Starlight dengan napas memburu. Entah karena kemarahan atau ketakutan, yang jelas wajah wanita itu tampak merah padam.
“Sudah kubilang aku memegang buktinya, Bibi.”
“Jika begitu jangan ragu untuk mengatakan siapa pelakunya,” jawab Gord dengan senyum misterius, melirik ke arah ayahnya yang berwajah pucat.
“Aku akan memberi kesempatan jika ada yang mau mengakuinya.” Namun, semua orang bergeming dan hanya saling tatap satu sama lain. Saling lempar tuduhan melalui lirikan mata.
Wajah Henry tampak menggelap mendengar anak, istrinya justru menjadi kompor dan memprovokasi. Semua itu tak luput dari tatapan pria Xavier yang tajam.
“Keluarkan buktinya, Sayang!” Dengan ekor matanya, Xavier memberi kode pada sang istri yang langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Tangan Lylia sibuk bermain di atas layar ponselnya. Sementara terdengar dering suara ponsel yang membuat mata semua orang mengedar dan saling tatap keheranan.
“Cepat keluarkan buktinya! Kau terlalu membuang waktu,” desis Odette.
“Tunggu sebentar. Aku masih mencari datanya,” tunjuk Lylia pada ponsel yang ada di genggaman.
Kembali dering ponsel berbunyi disertai getaran terus menerus. Kali ini sang empunya ponsel langsung bangkit dan pamit untuk menerima panggilan.
__ADS_1
“Sudah kubilang jangan menghubungiku lagi! Aku sedang sibuk. Jangan berikan laporan apa pun jika semua yang kalian lakukan masih saja gagal!”
Suara yang keluar dari ponsel Lylia membuat semua orang menoleh dengan kening mengernyit.
Lylia meletakkan jarinya di mulut sebagai tanda untuk tetap diam.
“Aku hanya akan mengirimkan uangnya jika kalian sudah bisa membawa wanita itu. Paham!”
Tut!
Panggilan terputus sepihak.
Semua orang terdiam, mencerna keadaan saat ini. Xavier dapat dengan jelas melihat raut ketakutan dari seorang wanita paruh baya yang kini menunduk dalam.
Suara itu familiar dan salah satu dari mereka keluar untuk menerima panggilan. Ini jelas bukan kebetulan semata.
Semua orang terkesiap dan menahan napas saat pikiran tertuju pada satu nama.
Tepat saat pintu ruangan terbuka, Layla sudah menjatuhkan dirinya dan berlutut dengan kepala menunduk dalam.
“Jonathan Bailey!!!”
Semua orang tampak tegang dan menahan napas begitu Damian berteriak dengan suara lantang. Pria tua itu terkenal cuek dan irit bicara. Namun, sekalinya marah dia tidak akan pernah main-main dalam menghukum siapa pun.
“Anak tidak tahu diri. Kau ingin membunuh keponakanmu sendiri. Dasar gila!” Damian menatap nyalang.
“Jangan bicara omong kosong, Dad. Aku tidak melakukannya, bisa saja ini fitnah,” sangkalnya mencoba tetap tenang, meski jantung hatinya bertalu-talu karena yakin ini adalah akhir hidupnya.
“Paman sungguh pintar berkelit. Jelas-jelas itu suaramu, bukti pengiriman uang pun itu jelas tertera namamu sebagai pengirim. Aku sudah melihat aliran dana yang kau pakai,” ujar Lylia dengan kedua alis yang saling bertaut.
“Lancang!” teriaknya dengan mata melotot.
Xavier menyeringai. “Jangan membentak istriku, Paman. Yang dikatakan istriku hanya sebuah kebenaran, untuk apa kau marah? Jika tidak melakukannya silakan sanggah ucapan istriku dengan bukti yang kau punya.”
Keheningan kembali mendominasi. Semua orang tak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan untuk bernapas saja semua orang merasa sulit melakukannya.
Sikap tenang Xavier dan senyum misteriusnya justru membuat orang-orang begidik ngeri.
“Maaf ....”
To Be Continue ....
__ADS_1