
Lylia pergi ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membeli sesuatu untuk kado ulang tahun Lolita—putri kedua Starlight dan Henry.
Dua hari yang lalu dia mendapatkan undangan tersebut. Akan diadakan di salah satu hotel mewah, properti milik keluarga.
Lylia bingung harus memberikan hadiah apa. Saat bertanya dengan Xavier pun pria itu menyerahkan semua padanya.
“Menurutmu gadis itu lebih menyukai apa?” tanya Lylia.
“Anda bisa memberikan apa pun,” jawab Miya.
Lylia menatap Miya kesal. Seharusnya wanita itu bisa memberikan rekomendasi apa yang disukai gadis seusianya.
Kakinya melangkah menuju sebuah toko perhiasan.
“Tolong tunjukkan berlian yang paling bagus dan limited.” Lylia berkata pada pelayan toko yang mengangguk.
Menunggu sekitar lima menit. Pelayan tadi datang bersama dengan manager toko dan menyambutnya.
Pelayan toko yang mengetahui jika wanita di depannya bukan pelanggan biasa, segera memanggil manager karena tak ingin ada kesalahan.
“Anda ingin mencari perhiasan apa, Nyonya? Kami baru saja mendapatkan kalung berlian. Benar-benar limited karena hanya ada satu.”
“Tunjukkan,” jawab Lylia sambil mengangguk.
Tak lama datang pelayan dengan membawa sebuah kotak yang didalamnya berisi kalung dengan taburan berlian berwarna biru. Sangat cantik dan elegan. Lylia terpanah hanya dengan sekali lihat.
“Urus pembayarannya.” Menoleh pada Miya yang mengangguk.
Keluar dari toko berlian. Lylia memutuskan keluar dari mall dan meminta Miya menuju showroom mobil.
“Anda ingin membeli mobil baru, Nyonya?”
“Untuk hadiah ulang tahun,” jawab Lylia.
Miya pikir sang nyonya menginginkan mobil baru. Namun, ternyata dugaannya salah karena mobil itu hanya untuk hadiah.
Sesampainya di showroom Lylia segera menunjuk salah satu mobil sport keluaran terbaru. Berwarna merah metalik yang sangat cantik dan menampilkan kesan berani.
Lylia memilih itu tanpa peduli dengan harganya. Setelah menyelesaikan pembayaran tak lupa menuliskan alamat yang akan dituju untuk pengiriman mobil.
“Aku mau ke kantor Xavier.”
__ADS_1
Miya yang ada disamping sopir segera mengangguk dan meminta sopir menuruti keinginan sang nyonya.
“Berhentilah jika melihat restoran. Aku ingin makan siang dengan suamiku.”
Tanpa menjawab Miya kembali mengangguk. Perintah tak tersirat seperti itu cukup mudah dipahami.
“Jangan beritahu Xavier jika aku akan datang ke kantor.”
“Sesuai yang Anda inginkan, Nyonya.”
Sementara di tempat Xavier, pria itu benar-benar dibuat geram dengan tingkah Miranda Roxanne yang tidak tahu malu. Meski sudah diusir berulang kali, tetap saja tidak menyurutkan niat terselubungnya.
Xavier yang tengah duduk di kursi kebesarannya menatap tajam wanita itu.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Xavier dingin.
“Aku hanya ingin maafmu. Aku menyesal telah melakukan kesalahan di masa lalu,” ucapnya menghiba.
“Aku sudah memaafkan dirimu, tapi enyahlah dari hadapanku dan jangan menunjukkan dirimu lagi. Aku sama sekali tak ingin berurusan denganmu,” jawab Xavier membuat wanita itu tersenyum samar.
“Tidak adakah kesempatan untukku lagi? Aku ingin memulai semuanya dari awal.”
Brak!
Lylia dengan tatapan dingin menoleh pada suami dan wanita yang ada di depannya.
“Maaf?”
“Kau benar-benar tidak tahu malu, Nona Roxanne! Setelah meninggalkannya dengan pria lain, kau datang dan meminta kesempatan kedua. Pada pria yang telah beristri. Sungguh memalukan!” ujar Lylia dingin.
Miranda Roxanne menatap Lylia marah. “Siapa kau beraninya bicara seperti itu padaku?!” desisnya.
Lylia terkekeh pelan. “Anda terlalu lama di negara orang hingga tidak tahu kabar panas tentang siapa saya. Perkenalkan saya istri Xavier.”
Nyonya Bailey?
Untuk sementara waktu Miranda Roxanne tampak terpaku. Menatap wanita cantik yang mengaku sebagai istri dari mantan kekasihnya.
Dalam sekali lihat, dia bisa tahu jika wanita itu bukan orang sembarangan. Meski tampak sederhana, tetapi seluruh yang menempel di tubuhnya berharga fantastis. Wajahnya tampak lembut, tetapi pembawaan dan sikap tenangnya memiliki power tersendiri.
Seperti sebuah magnet, Miranda tak melepas pandangan dari Lylia yang baginya memiliki daya pikat sendiri.
__ADS_1
“Lylia Federick Richards. Ingat nama itu baik-baik, Nona.”
Miranda menelan saliva susah payah. Richards? Siapa yang tak mengenal keluarga yang menduduki peringkat sepuluh besar. Meski Richards berada diurutan ke delapan, tetapi sepuluh keluarga besar itu selalu menjadi sorotan.
Lylia meletakkan paper bag berlogo salah satu restoran ternama, lalu berjalan menghampiri Xavier dan memberikan kecupan singkat di pipi suaminya.
“Mengapa tidak memberi kabar?” tanya Xavier lembut dan menarik Lylia hingga jatuh tepat di pangkuannya.
“Aku dari mall, dapat berlian cantik. Mampir showroom sekalian untuk membeli mobil,” kata Lylia.
“Lakukan apa pun yang membuatmu senang,” jawab Xavier lembut. “Aku sangat menyukai jika kau mau menghamburkan uang itu,” lanjutnya.
Miranda Roxanne hanya bisa mendengar percakapan suami istri itu dengan gelisah. Ada sesal yang membuncah dalam dada. Ada perasaan menyesal yang amat dalam, tetapi bukan penyesalan sungguh-sungguh. Dia hanya menyesal karena telah melepas tambang emas yang menjanjikan. Andai dia tak melakukan kebodohan mungkin dirinya yang akan menikmati segala kemewahan yang ada.
“Saya ingin makan siang dengan suami saya. Bisakah Anda memberi ruang pada kami?” Lylia menatap wanita itu datar. Meski tak diusir secara langsung, paling tidak wanita itu bisa sadar di mana posisinya.
Miranda berbalik menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Lylia yang santai tetapi mampu membuat seluruh tubuhnya gemetar.
“Sekali lagi aku melihatmu mengganggu suamiku. Kupastikan mafia Spanyol itu akan mendobrak pintu apartemenmu dan menyeretmu dengan cara yang tak akan kau bayangkan.”
—
Setelah makan siang bersama. Xavier menatap istrinya dalam. Dia tidak bercerita tentang wanita itu yang kabur dari cengkeraman pria spanyol. Namun, istrinya tahu.
Dia yakin jika Miya yang melakukannya.
“Mengapa menatapku seperti itu? Ada yang salah?”
Xavier menggeleng. “Tidak. Aku hanya takut jika kehadiran wanita itu membuatmu salah paham.”
Lylia justru terkekeh pelan. “Aku yakin kau tak akan memungut barang bekas yang telah dipakai banyak orang.”
Ucapan Lylia sangat tajam. Meski tak menghina secara langsung, tetapi perumpamaan yang diucapkan sangat menusuk.
Xavier bernapas lega. Dia tahu niat terselubung wanita itu yang ingin mencari perlindungan dengan mendekatinya.
Meski sudah berulang kali diusir. Miranda Roxanne sama sekali tak menyerah. Dia rela merendahkan harga dirinya demi selamat dari pria tiran asal Spanyol itu.
Namun, Miranda tak memprediksi jika istri Xavier Thomas Bailey tak sesederhana yang terlihat.
“Istriku sangat luar biasa.”
__ADS_1
To Be Continue ....