Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 12 — Tertembak


__ADS_3

Xavier tampak berada di dalam ruang kerja sambil menghubungi seseorang. Dia tampak marah terlihat dari rahangnya yang mengeras dan sorot mata yang tajam.


Tak lama pintu ruangannya terbuka dan sosok Jensen muncul sambil menunduk tajam.


“Ya, Tuan. Miya belum —”


“Bukan itu yang ingin kubicarakan,” sela Xavier datar. “Wanita sialan itu kembali.”


“Bukankah Anda sudah diberitahu Miya jika beliau sekarang tengah bersama dengan Tuan Zilong Dominic.”


Xavier mencengkeram kedua tangannya. “Sialan kau, Jensen!” Amukan Xavier membuat pria itu langsung bangkit dengan kasar.


Jensen menunduk semakin dalam. Dia ingin mengatakan satu nama, tetapi bibirnya terkatup dengan ragu.


“Apa maksud Anda, Nona Miranda?” tanya Jensen gugup.


“Ya. Cari tahu segera kenapa dia bisa kembali. Dua puluh empat jam, kuberikan kau waktu untuk mendapatkan informasinya.”


Setelah kepergian sang asisten, Xavier kembali duduk dan memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pening yang dirasakan.



Lylia baru saja mengantar kepergian kakek dan juga Xavier yang akan berangkat ke kantor.


Entah mengapa Lylia merasakan dadanya bergemuruh sesak ketika melihat mobil yang membawa sang kakek semakin menjauh dan tak terlihat.


Lylia menekan dadanya kuat untuk mengurangi sesak. Kepalanya menggeleng berulang kali untuk menghapus pikiran buruk yang hinggap.


Waktu dengan cepat merangkak naik. Lylia bosan karena tak melakukan apa pun. Seharian ini dia hanya berdiam diri di kamar ditemani setumpuk novel yang entah kapan sudah ada di meja.


Pukul tujuh malam, Xavier pulang dengan wajah terlihat lelah.


“Ada masalah?”


“Tidak. Hanya pengalihan beberapa tugas yang lumayan menyita pikiran.”


“Mau berendam? Biar aku siapkan air panas.”


“Tidak perlu. Aku akan mandi air dingin saja.” Xavier segera berlalu masuk kamar mandi dan Lylia segera menyiapkan pakaian.


Tiba waktu makan malam mereka berdua keluar bersama. Beberapa hidangan sudah tersusun rapi di atas meja. Semua makanan yang disajikan semua atas perintah Lylia.


Baru saja sesuap makanan masuk ke mulut Lylia, suara dering ponsel nyaring terdengar. Membuat Lylia menghentikan kegiatan dan segera menjawab panggilan tersebut.


“Yes. I’m Lylia Federick Richards. Who is there?”


Setelah mengatakan itu, ponsel yang dipegang Lylia jatuh dan mata wanita itu tampak kosong.


“Kakek,” bisiknya pelan.

__ADS_1


“Ada apa, Ly?” tanya Xavier. Dia segera mengambil ponsel Lylia yang jatuh dan panggilan masih tersambung.


“Siapa di sana? Saya suaminya,” kata Xavier.


“What? Baik, kami akan segera ke sana. Tolong hubungi keluarga yang lain.”


Xavier segera membantu Lylia bangun. Tubuhnya gemetar dengan pandangan kosong. Bibirnya terus mengumamkan nama sang kakek.


Segera Xavier membawa Lylia pergi. Menuju rumah sakit tempat Federick dirawat setelah ditemukan tak sadarkan diri dengan genangan darah segar yang menembus dadanya.


Federick tertembak.


Sesampainya di rumah sakit Lylia tergesa berlari menuju ruang IGD. Di depan ruang perawatan sudah ada keluarganya di sana.


Lylia menghampiri mereka dan bertanya, “Bagaimana kondisi kakek?” tanyanya dengan suara gemetar dan tumpahan bening membasahi pipi.


“Sebentar lagi kakek akan masuk meja operasi,” jawab Alucard pelan.


Lylia segera menepi dan menjauh dari keluarganya. Dia duduk bersama dengan suaminya saja, menunggu kabar terbaru terkait kondisi sang kakek.


“Bagaimana bisa kakek tertembak. Siapa yang melakukannya?” tanya Lylia menoleh ke arah sang suami.


“Kita akan cari tahu nanti. Yang terpenting kesehatan kakek yang utama.”


Lylia mengangguk dan terus memanjatkan doa dalam hati.


Hampir lima jam mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Segera Lylia dan Xavier mendekat untuk mengetahui kondisi kakeknya.


“Boleh saya meminta sampel pelurunya, Dok?” tanya Xavier yang mendapat anggukan dari dokter tersebut.


Xavier pergi mengikuti dokter tersebut. Sementara Lylia kembali terduduk dengan lemah memikirkan kondisi kakeknya.


“Anak kurang ajar, beraninya kau mengabaikan keluargamu!” bentak Eudora berdiri di hadapan Lylia yang sama sekali tak mengangkat kepalanya.


“Cukup, Bu. Jangan membuat keributan. Aku hanya ingin fokus dengan kesehatan kakek,” ucap Lylia pelan, mirip seperti bisikan.


“Tidak tahu diri. Jangan kau pikir karena suamimu kaya dan bisa melakukan apa pun, kau mengabaikan keluargamu. Apa kau ingin melihat Keluarga Richards hancur dan kehilangan muka?”


“Eudora, berhenti membuat keributan!” Alucard manarik istrinya, tetapi wanita itu segera menepis tangan suaminya.


“Jangan jadi anak yang tidak tahu diri dengan menghancurkan keluargamu sendiri. Sedikit saja jadilah berguna dan selamatkan Keluarga Richards dari rasa malu,” kata Eudora lagi dan pergi begitu saja.


Lylia tersenyum miris. Setidak berharga itulah dirinya di mata wanita paruh baya itu? Hingga semua lontaran jahat itu bisa keluar dari mulutnya.


“Lylia, jangan hiraukan ibumu. Dia hanya sedang marah dan kalut dengan kondisi yang terjadi saat ini.” Suara Alucard membuat Lylia menoleh. Menatap pria paruh baya yang kini duduk di sebelahnya dengan tatapan datar.


“Mengapa apa pun yang terjadi di Keluarga Richards selalu aku yang jadi penyebabnya?”


Lylia menatap Alucard dengan mata sendu.

__ADS_1


“Mengapa ibu tak pernah sedikit saja menunjukkan rasa sayang padaku? Sedikit saja, meskipun itu hanya pura-pura. Mengapa, Ayah? Jika memang hadirku membawa kesialan, kenapa dulu kau tak membunuhku saja daripada harus lahir hanya untuk menjadi pelampiasan amarah kalian.”


“Lylia, jaga bicaramu!” bentak Alucard emosi.


Lylia menatap Alucard tajam dengan linangan air mata dan berlari menjauh dari keluarganya. Ah ... rasanya sangat sakit saat mengingat mereka adalah keluarga, tetapi tak pernah menganggap dan melakukan tindakan sebagai keluarga yang saling menyayangi.



“Selidiki siapa pemilik amunisi ini dan usut tuntas siapa yang telah menembak kakek,” ujar Xavier menyerahkan plastik klip putih berisi dua peluru yang bersarang di tubuh Federick.


“Baik, Tuan.”


“Dapatkan orang itu segera dalam keadaan hidup.”


“Apa mungkin itu adalah musuh Anda, Tuan?”


“Tidak mungkin,” jawab Xavier yakin. Sangat yakin jika apa yang dialami Federick tidak berkaitan dengannya.


“Cek CCTV di sekitar sana. Jika memang telah dihapus lakukan apa pun untuk mengembalikan rekamannya.”


“Baik.”


Xavier yang tengah berjalan kembali menuju ruang tunggu menatap kepergian seorang wanita yang sangat dikenal. Siapa lagi jika bukan istrinya. Dia berjalan cepat menyusul wanita yang keadaannya terlihat kacau.


“Lylia, berhenti!” ucap Xavier membuat langkahnya terhenti dan menoleh.


“Vier.” Lylia segera menyerbu memeluk suaminya dengan erat sambil menangis tersedu.


“Apa yang terjadi?” tanya Xavier, tetapi mulut Lylia terkunci rapat. Hanya isak tangis pelan yang dikeluarkan.


Xavier membawa Lylia ke area taman untuk menenangkan diri. Dia pun tak lagi bertanya, memberikan waktu bagi sang istri untuk melampiaskan perasaan yang menyerbu.


“Apa begitu tidak berharganya aku hingga sampai detik ini ayah ataupun ibu sama sekali tak pernah menyayangiku?”


Pertanyaan Lylia membuat Xavier merasakan sesak.


“Sejak dulu aku selalu menjadi anak yang baik. Tak pernah merepotkan dan tak pernah banyak menuntut seperti Alice atau Karina. Aku selalu berusaha menunjukkan yang terbaik, tapi ... kenapa ayah dan ibu tak pernah melihat ke arahku? Apa pun yang kulakukan selalu salah di mata mereka.” Lylia berucap dengan nada getir.


Xavier tak menjawab. Dia hanya memeluk sang istri dan mengusap punggungnya dengan lembut.


“Aku tak pernah meminta dilahirkan jika memang kehadiranku hanya dianggap pembawa sial. Jika pun aku bisa memilih, aku juga tak ingin dilahirkan di Keluarga Richards.”


“Lylia.”


“Ibu menyayangi Alice dan Karina. Tapi tidak denganku. Apa sebenarnya aku bukan anak ayah dan ibu?”


Deg!


Seketika tubuh Xavier menegang. Cepat atau lambat, semuanya akan terbongkar pada waktunya.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2