Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 22 — Pengawal dan tuannya


__ADS_3

Kegelapan menyelimuti, seperti malam yang memerangkap dari keindahan siang yang benderang. Lylia memenuhi paru-parunya dengan udara, perasaan terasing yang ganjil menyapunya. Dia merasa seakan terpenjara dalam mimpi gelap yang kosong.


“Lylia ... apa kau baik-baik saja?” Suara Xavier yang jauh terdengar di antara kegelapan.


“Ya, aku baik-baik saja.” Suara Lylia bergetar, serak dan terasa di sesuatu mencekik lehernya.


Meskipun Lylia menjawab pertanyaan itu dia merasa kegelapan berputar di sekelilingnya, begitu tebal dan seakan bisa disentuh sampai dia tidak tahu apakah ini nyata atau hanya sekadar mimpi.


Tubuh Lylia menggigil, membuat bulu kuduknya meremang. Tangannya menggosok lengan yang telanjang dengan cepat. Suara benda jatuh yang nyaring menyentak saraf yang menegang dan membuat tubuhnya kaku tanpa bisa digerakkan.


“Lylia!” suara Xavier terdengar lebih keras dan membuat kesadarannya kembali. Matanya terbuka dengan napas tersengal dan bahu yang terguncang hebat.


“Vier,” ucapnya mengendarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang hanya dihiasi cahaya temaram.


Xavier mendekat dan merasakan tubuh Lylia begitu panas. “Kau mimpi buruk?”


“Entahlah ... aku merasa terjebak pada dimensi lain. Rasanya sangat menyakitkan,” keluhnya dengan cepat menyahut gelas yang ada di atas nakas. Namun, tangannya yang gemetar membuat gelas itu jatuh dan menimbulkan bunyi yang memekik di antara keheningan malam. “Maaf.” Penuh sesal Lylia mengatakannya.


Xavier membawa Lylia ke dalam pelukannya. Siapa tahu dengan dekapan hangat mampu menenangkan sang istri.


Tak lama pelayan datang mengantarkan segelas air yang diminta Xavier, juga membereskan pecahan kaca yang berserakan di lantai.


Setelah meneguk segelas air, kesadaran Lylia kembali sepenuhnya. Dia mengedarkan pandangan meneliti seisi kamar. Kakinya turun menginjak lantai murmer yang dingin.


“Pakai sandalmu, Lylia. Dingin. Kakimu akan mati rasa nanti,” ujar Xavier penuh perhatian.


“Aku tidur terlalu lama, mungkin itulah yang membuatku mimpi buruk.”


“Mimpi hanya bunga tidur. Tak perlu kau pikirkan,” jawab Xavier ikut turun dan mendekati Lylia yang duduk di sofa. “Mau makan?”


“Tidak.”


“Besok Moskov akan menemanimu menemui pengacara.”

__ADS_1


“Aku mengerti.”


Keduanya larut dalam keheningan. Setelah merasa lebih tenang Xavier kembali membawa Lylia ke atas pembaringan dan mengistirahatkan tubuh dan pikiran.



Esok paginya sekitar pukul sepuluh, Lylia ditemani Moskov—pengawal pribadi Xavier, menuju restoran yang telah disepakati.


“Moskov,” panggil Lylia pelan.


“Ya Nyonya. Ada yang Anda inginkan?” tanya pria berwajah dingin itu dengan sopan. Matanya melirik sekilas ke arah kursi penumpang di belakangnya.


“Kau sudah lama ikut dengan Xavier?” tanya Lylia penasaran.


“Sudah, Nyonya.”


“Xavier pernah punya kekasih sebelumnya? Maksudku sebelum menikah denganku,” tanya Lylia spontan begitu saja. Entah mengapa dia sedikit penasaran dengan sisi kehidupan sang suami sebelum menikah dengannya.


Moskov tampak terdiam untuk beberapa saat, dia memikirkan jawaban yang tak akan membuat posisinya serba salah. Jika jujur dan mengatakan ‘sebenarnya’ maka hukuman dari sang tuan yang lebih mengerikan akan menantinya.


“Kenapa harus kutanya pada Xavier. Kau punya mulut untuk menjawabnya!” desis Lylia.


“Saya tidak berani, Nyonya!” jawab Moskov lagi dengan wajah yang sulit ditebak. Memilih jalur aman.


Lylia hanya mendengus dan memutar bola matanya malas. “Kau menutupi sesuatu. Tentu saja, kau kan orangnya. Jelas kau akan membela tuanmu,” omelnya, membuang pandangan ke arah lain.


Sesampainya di restoran yang dituju, Moskov mengekor di belakang Lylia yang berjalan lebih dulu.


“Meja atas nama Tuan Meyer.”


“Silakan, Nona.”


Seorang pelayan mengantar mereka ke sebuah ruangan yang lebih tertutup. Di sana sudah ada pengacara kakeknya dan seorang pria yang lebih muda.

__ADS_1


“Silakan Nona Richards,” ujar Cannor Meyer, membetulkan letak kacamatanya. “Ini putra saya, Andre Rain Meyer.”


Mereka saling berkenalan singkat.


Cannor Meyer menyerahkan berkas-berkas pengalihan perusahaan yang kini akan sepenuhnya menjadi milik Lylia sebagai pemilik sekaligus pemegang saham tertinggi di sana.


“Lusa Anda bisa datang dan mengambil alih kursi kepemimpinan. Rain akan mengurus segalanya,” kata Cannor membuat Lylia menggeleng cepat.


“Jangan. Biarkan saja putra Anda yang memimpin di sana. Aku tak bisa mengambil alih karena sedikitpun tak memiliki kemampuan dalam berbisnis,” jawab Lylia jujur. Meskipun dia menempuh pendidikan bisnis, tetapi belum ada pengalaman yang dimiliki.


“Suami Anda bisa melakukannya,” jawab Rain sungkan.


“Aku dan suami sudah sepakat untuk tetap menunjuk Anda sebagai CEO di sana.” Benar, Lylia dan Xavier telah sepakat untuk tetap menggunakan putra dari sang pengacara untuk mengelolanya. Seperti Federick yang percaya pada pria itu dan keluarganya, Lylia pun akan melakukan hal yang sama. Nanti Xavier akan meminta salah satu orangnya untuk tetap memantau.


“Terima kasih atas kepercayaan Anda, Nona Richards. Saya akan berusaha sebaik mungkin menjaga kepercayaan Anda.” Rain mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


“Terima kasih, Tuan Muda Meyer.”


“Anda jangan berlebihan. Panggil nama saya saja, saya bukan tuan muda.” Pria yang memiliki paras tampan tersebut terkekeh pelan. Panggilan tuan muda itu sangat berlebihan sekali.


Setelah menandatangani seluruh berkas, mereka melanjutkannya dengan makan siang bersama.


“Tuan Cannor ada yang ingin kutanyakan,” ujar Lylia membuat atensi pria paruh baya itu teralihkan.


“Silakan, Nona.”


“Sejak kapan kakek membangun HR Company? Kenapa Keluarga Richards tak mengetahuinya?”


Tampak pria paruh baya itu tersenyum tipis dan membenarkan letak kacamatanya. Ada kegugupan yang tiba-tiba melanda. “Sudah sejak lama, Nona. Untuk alasan mengapa Keluarga Richards tak mengetahuinya, saya sendiri tidak tahu maksudnya. Mungkin Tuan Federick sengaja menyiapkan perusahaan itu untuk Anda.”


Sebenarnya Cannor mengetahui alasannya, tetapi sengaja ditutupi.


Lylia mengangguk pelan. Meski merasa ada yang ditutupi, tetapi dia tak ingin mendesak keinginannya mengetahui banyak hal.

__ADS_1


Karena mungkin ... kebenaran hanya akan melukai dan membuatnya kecewa.


To Be Continue ....


__ADS_2