
Setelah mendapat kabar yang tak menyenangkan, Lylia segera mengajak Xavier kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, mereka menuju ruang ICU. Di depan ruangan sudah ada keluarganya berkumpul, termasuk Alice dan suaminya yang baru datang.
“Kesehatan kakek semakin menurun,” kata Alucard memberitahu.
Lylia hanya mengangguk, dia bahkan memalingkan wajahnya dari sang ibu yang menatapnya tajam.
Sambil menunggu dengan cemas, Lylia mondar-mandir seperti setrika yang tak ada lelahnya. Setengah jam kemudian pintu ruang ICU terbuka, dokter segera keluar dengan wajah tertekan dan penuh penyesalan.
“Maaf ....”
Cukup satu kata itu, mampu meruntuhkan pertahanan Lylia. Tubuhnya merosot lemas dengan air mata yang tak mampu dibendung. Bibirnya bergetar dengan terus menyebut nama sang kakek.
“Apa maksud Anda, Dok?” Alucard menuntut penjelasan.
“Kondisi Tuan Federick menurun. Ada komplikasi yang menyebabkan kinerja jantung bermasalah. Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan memiliki rencana lain. Dengan berat hati kami tak bisa menyelamatkan beliau.”
“Anda pasti salah, Dok. Tolong periksa sekali lagi, tidak mungkin ....” ucap Lylia gemetar.
“Lylia, tenanglah.” Xavier segera merengkuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan. Mengusap punggungnya yang bergetar sambil membisikkan kalimat menenangkan, tetapi itu seperti angin lalu. Lylia kehilangan kendali. Dia menangis keras sambil berteriak sambil memukul dadanya sendiri.
Suasana duka menyelimuti setelah dokter berlalu. Seluruh keluarga masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan para perawat melepaskan alat-alat di tubuh Federick yang tak lagi bernyawa.
Lylia memeluk tubuh tua itu dengan erat dan menangis di dadanya. Kenapa dia harus kehilangan kakeknya secepat ini. Orang-orang yang disayangi selalu meninggalkannya.
“Sayang, sudah. Kasihan kakek,” ujar Xavier menarik sang istri.
“Jangan tinggalkan aku. Buka matamu, Kek,” ujar Lylia lirih dan bergetar.
“Yang sudah pergi tak akan kembali meskipun kau menangis darah!” ujar Eudora menyela dengan kalimat yang sangat kejam.
“Tutup mulutmu, Eudora!” bentak Alucard melayangkan tatapan penuh peringatan.
Semua mata kini beralih menatap wanita yang sama sekali tak menampilkan raut menyesal. Justru wajahnya terangkat tinggi dengan gaya angkuh.
“Aku tahu kau memang bermulut pedas, tapi sungguh kau juga tak memiliki hati dan belas kasih. Yang terbaring di sana itu mertuamu, ayah dari suamimu yang juga kakekku. Jika mulutmu tak bisa berkata baik, tolong kunci rapat dan diam saja,” kata Lylia tajam. Dia bahkan tak lagi menyebut wanita itu dengan panggilan ibu.
“Beraninya kau melawanku!” bentak Eudora tak terima.
Namun, Lylia tidak peduli dan memilih pergi keluar. Sungguh amat sakit mendengar setiap kalimat Eudora yang tak berperasaan.
—
__ADS_1
Lylia masih berdiri dengan air mata yang tak lagi keluar. Matanya menatap gundukan tanah yang mengubur jenazah Federick.
Upacara pemakaman itu telah usai beberapa waktu yang lalu, tetapi Lylia masih tak mau beranjak dari tempatnya.
“Lylia, ayo kembali.” Xavier menyentuh bahu istrinya dan merengkuhnya mendekat.
“Sebentar lagi,” kata Lylia lirih.
Keluarga Bailey pun turut hadir pada upacara pemakaman Federick. Namun, mereka sudah kembali sesaat setelah pemakaman usai.
Mendung menyelimuti, kembali Xavier membujuk sang istri untuk kembali. Walau dengan berat hati, akhirnya wanita itu mengangguk dan mengikuti langkah sang suami yang terus menggenggam tangannya.
Tepat pukul tujuh malam, seorang pengacara datang dan mengumpulkan seluruh anggota keluarga.
“Kedatangan saya ke sini untuk menyampaikan amanah terakhir dari Tuan Federick. Saya selaku pengacara pribadinya ingin membacakan surat wasiat ini di depan semua keluarga dan disaksikan oleh bawahan saya.”
“Tidak etis membicarakan surat wasiat saat makam kakekku bahkan belum mengering,” sahut Lylia emosional.
Xavier senantiasa menenangkan Lylia. Walaupun usahanya tetap gagal karena sang istri masih sangat terpukul. Bahkan dari semua anggota keluarga, hanya Lylia saja yang terlihat amat begitu kehilangan.
“Jaga bicaramu, Lylia. Biarkan Tuan Cannor melakukan tugasnya,” kata Eudora menyela dan memperingati.
Ingin melayangkan protes, tetapi usapan di punggung berhasil menghentikan gerak bibir Lylia.
Cannor Meyer, sang pengacara pribadi Federick mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas kerjanya.
“Saya Martis Federick Richards dengan ini membuat surat wasiat sebagaimana yang akan dibacakan oleh pengacara saya, Cannor Meyer. Surat ini dibuat dengan sadar, tanpa paksaan dan bisa dipertanggungjawabkan.”
“Untuk anakku, Alucard Federick Richards ... kuserahkan padamu Richards Company sebagaimana mestinya. Sebagai putraku satu-satunya dan penerus keluarga. Kau berhak mewarisi Richards Company dan 60% saham yang kumiliki di sana, beserta seluruh aset maupun deposito senilai 5 juta dollar.”
Mendengar apa saja yang didapatkan Alucard, tampak Eudora terseyum senang. Dia tidak sabar namanya akan disebut.
“Untuk menantuku, Eudora Tanu Wijaya ... terima kasih telah menjadi menantu dan istri yang selalu ada untuk putraku. Mansion dan seluruh isinya akan menjadi milikmu. Serta saham 10% di Richards Company, juga satu galeri seni seperti yang kau inginkan.”
“Untuk cucuku, Alice Tanu Richards dan Karina Fera Richard, kalian akan mendapatkan masing-masing 10% saham di HR Company dan tabungan senilai 2 juta dollar.”
Saat sang pengacara selesai membacakan surat tersebut, Eudora dan Alucard tampak kebingungan.
“HR Company?” tanya Alucard heran. Dia tak asing dengan perusahaan itu, tetapi bagaimana bisa ayahnya memiliki saham di sana.
“Benar, Tuan. HR Company, perusahaan penghasil bahan pangan terbesar yang juga pemilik hampir sebagian perkebunan teh di daerah utara,” jelas Cannor.
“Papa punya saham di sana? Sejak kapan? Mengapa kami tidak tahu?” Eudora merentet dalam sekali pertanyaan.
__ADS_1
Sang pengacara hanya tersenyum simpul. “Sudah sejak lama, Nyonya.”
Eudora berpaling ke arah suaminya yang juga tampak bingung. Pria paruh baya itu mengangkat bahunya tak tahu apa pun.
“Aku tidak tahu jika papa punya saham di sana,” jawab Alucard melihat tatapan sang istri.
Jujur, Alucard memang tidak tahu. Bahkan berapa kekayaan pribadi milik sang ayah pun, dia tidak yakin. Karena yang diketahui hanyalah kekayaan turun temurun yaitu perusahaan.
“Lylia. Mengapa papa tidak menyebutkan nama Lylia?” Alucard yang sadar bahwa putri keduanya tak disebut segera bertanya.
Eudora tampak tersenyum sinis. Dia yakin Lylia tidak akan diberikan apa pun. Namun, mendengar pertanyaan yang dilontarkan suaminya, dia tampak kesal. Walaupun kelihatan tak senang, tetapi pria itu selalu mengingat Lylia.
“Terima kasih, Tuan Meyer.” Alice dan Karina kompak tersenyum. Kedua bersaudara itu tak bisa menyembunyikan wajah bahagia. Ternyata sang kakek masih mengingat dan menyayangi mereka, meskipun selama ini yang terlihat Federick hanya menyayangi Lylia.
Meskipun hanya sepuluh persen, tetapi dividen yang diterima jelas sangat besar. Mereka berdua tampak tersenyum bangga, menoleh ke arah Lylia dan sedikit meremehkan.
“Sayang sekali kau tidak mendapatkan bagian, Adik,” ujar Alice terkekeh pelan.
“Benar. Lagipula kakak sudah bukan bagian keluarga Richards lagi. Tentu kakek tidak akan memberikan apa pun.” Karina menimpali dengan wajah memelas, membuat Lylia ingin sekali menamparnya.
“Siapa yang bilang seperti itu, Nona?” sahut Cannor. “Tentu Nona Lylia juga akan mendapatkan bagiannya,” lanjutnya membuat senyum di wajah ketiga wanita itu sirna.
Sementara Lylia sama sekali tak berminat menimpali atau mendebat ucapan mereka. Dia lebih menginginkan Federick ada di sisinya, dibandingkan harta yang ditinggalkan pria tua itu.
Pengacara mengambil lembaran terakhir di map berwarna merah, membukanya dan menatap semua orang dengan serius.
“Untuk cucuku, Lylia Federick Richards, aku berikan untukmu saham sebesar 50% di HR Company dan perkebunan teh dengan luas 2 hektar.”
Seketika itu juga Eudora langsung berdiri dengan tatapan marah. Wanita itu tidak terima dengan apa yang diterima. Sangat tidak adil, karena kedua anaknya hanya mendapat sepertiga dari yang diterima oleh Lylia.
“Bagaimana bisa papa memberikan 50% pada Lylia sementara Alice dan Karina hanya mendapat 10%. Ini tidak adil, pasti ada kesalahan,” kata Eudora menggebu.
“Silakan Anda baca jika tidak percaya.” Pengacara itu mengulurkan map ke arah Eudora dan Alucard yang langsung dibaca.
HR Company adalah perusahaan milik seseorang yang dikenal Federick di masa lalu. Perusahaan itu diakuisisi saat hampir gulung tikar beberapa tahun yang lalu dan menjadikannya seperti sekarang. Namun, beberapa tahun kemudian Federick mundur dari kursi kepemimpinan dan menunjuk seseorang yang dipercaya.
Perusahaan itu dibangun tanpa campur tangan ataupun aliran dana dari Richards Company, itu murni menggunakan uang pribadinya.
Bagaimana bisa Alucard tidak tahu? Karena Alucard hanya peduli dengan Richards Company dan segala yang terjadi di sana.
“Saya menolak dan keberatan!”
To Be Continue ....
__ADS_1