Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 13 — Luka hati Lylia


__ADS_3

Federick masih berada di ICU karena kondisinya masih kritis pasca operasi. Belum ada satupun anggota keluarga yang bisa bertemu sebab dokter tak mengizinkan.


Lylia duduk di sebelah Xavier yang setia mendekapnya erat. Tak lama terlihat sosok Eudora dan Karina berjalan mendekat dengan tatapan yang sulit ditebak.


“Ibu mau bicara!” ucap Eudora tegas.


Lylia menatap manik wanita paruh baya itu dalam diam. Sementara Xavier meski terlihat abai, telinganya tetap dipasang untuk mendengarkan.


“Xavier, sebagai menantu Keluarga Richards harusnya kau membantu keluarga istrimu. Bukan malah mendorong kami dalam kehancuran seperti ini.”


Sepasang suami istri itu hanya menyimak tanpa berniat untuk menimpali.


“Benar yang dikatakan ibu. Seharusnya kau membantu memperkuat Rich Company, bukan malah menghancurkannya, Adik ipar.”


“Untuk sekali saja jadilah berguna bagi Keluarga Richards. Selamatkan perusahaan yang kini sedang berada diambang batas.”


“Jangan sampai kehancuran Keluarga Richards menjadi ejekan dan hinaan bagimu. Karena sebagai seorang kepala keluarga dan suami, kau tak bisa berguna bagi istrimu.”


Tangan Lylia mengepal kuat. Ah ... dia terlalu berharap lebih. Ekspektasinya terlalu tinggi, berharap ibu dan adiknya akan meminta maaf setelah sang ayah memintanya. Namun, tetap saja perangai buruk mereka membuat mulut busuk itu bukan meminta maaf justru mencecar dan menghina.


Lylia langsung bangkit dan menatap ibu serta adiknya tajam. Urat-urat di lehernya sampai menonjol karena tak bisa lagi menahan diri.


“Cukup! Belum cukup selama ini kalian menghina dan merendahkan aku juga suamiku. Sekarang setelah mengetahui statusnya, kalian juga masih menghinanya. Keterlaluan. Mulut kalian memang busuk!” kata Lylia dengan tatapan nyalang.


Plak!


Eudora melayangkan tangannya hingga menghampiri pipi Lylia. Xavier belum sempat mencegah karena lengah dengan pergerakan mertuanya.


“Beraninya kau bicara buruk dan menghinaku.”


Lylia mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis ke arah Eudora.


“Apa hanya ibu saja yang bisa menghina dan merendahkan. Aku pun juga bisa melakukan hal yang samab. Jangan lupa aku juga punya mulut yang tak selamanya akan terkunci rapat mendengar segala cacianmu.”


Tangan Eudora kembali melayang, tetapi kali ini Xavier menahannya dan mencengkeram lengan wanita itu kuat dengan tatapan membunuh.


“Jangan coba-coba menyentuh istriku. Aku diam karena masih menghormati Lylia yang tak mengizinkan diriku menghancurkan Keluarga Richards. Seharusnya kau berterima kasih padanya, tapi kau justru melakukan hal sebaliknya. Aku bisa membuat Keluarga Richards menghilang dalam waktu singkat,” kata Xavier penuh penekanan, menyentak tangan itu dengan kasar hingga sang pemilik raga hampir terjerembab.


Lylia pergi dari hadapan ibu dan adiknya. Dia sungguh muak melihat mereka berdua yang tak bisa merenungi kesalahan.


“Sekali lagi aku melihat kau mengangkat tangan pada istriku, kupastikan kau akan menanggung segala akibatnya.”


Xavier menatap Eudora dan Karina dengan tajam. Tidak ada lagi kelembutan atau kesopanan yang dulu ditunjukkan.


__ADS_1


Kondisi kesehatan Federick belum juga membaik meskipun telah mendapatkan perawatan yang bagus dan ditangani dokter hebat.


Setiap pagi Lylia akan datang ke rumah sakit dan pulang bersama Xavier yang selesai bekerja. Sengaja Lylia tidak menginap karena saat malam Alucard dan Karina akan datang.


Di mana Eudora?


Wanita paruh baya itu ada di rumah dengan alasan tidak enak badan. Padahal Lylia jelas tahu jika ibunya memang malas berada di rumah sakit.


“Ada yang ingin ayah bicarakan, Lylia.”


Lylia yang telah melangkah berhenti, tetapi tak berniat membalikkan tubuhnya. Dia hanya sedang menunggu apa yang ingin dikatakan ayahnya.


“Maafkan ibu dan adikmu,” lanjut Alucard dengan suara rendah.


“Mereka punya mulut untuk melakukannya. Mengapa harus ayah yang mewakilinya?” Lylia tersenyum sinis. “Jangan paksa mereka untuk meminta maaf hanya demi saham Richards.”


“Tunggu, Lylia. Dengarkan ayah!”


Lylia melenggang pergi tanpa mau mendengar sang ayah. Dia cukup tahu dan yakin pria itu pasti akan memberikan banyak alasan untuk menjaga nama istrinya tetap terlihat baik.


Di luar ruangan Lylia menghela napas kasar sambil menyeka sudut matanya yang berair.


Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Dirinya tak menyangka jika sang ayah datang lebih cepat hanya untuk bicara hal yang sia-sia. Karena terus melamun Lylia tak sadar sudah sampai di lobby rumah sakit. Dia memutuskan menunggu dan memanggil taksi, berniat mengunjungi suaminya di kantor.


Hampir lima puluh menit menempuh perjalanan yang cukup membosankan, taksi tiba di lobby sebuah gedung tinggi yang sangat megah bertuliskan XBOX Group.


“Ambil saja kembaliannya, Tuan. Terima kasih,” kata Lylia keluar dari dalam taksi setelah menyerahkan uang.


Memasuki gedung para penjaga tersenyum dan menunduk sopan, bukti bahwa perusahaan ini memiliki karyawan yang berprilaku baik.


“Saya ingin bertemu dengan Xavier,” kata Lylia pada resepsionis yang berjaga.


“Sudah memiliki janji dengan beliau, Nona?”


Lylia menggeleng pelan.


“Maaf, Anda harus membuat janji terlebih dahulu sebelum menemui Tuan Xavier.”


“Katakan saja pada Asisten Jensen, Lylia ingin bertemu.”


“Baik, Anda bisa tunggu sebentar.”


Tak sampai sepuluh menit, sosok asisten itu muncul dan menatap para resepsionis dengan tajam.


“Beraninya kalian membiarkan Nyonya Bailey menunggu!” kata Jensen membuat tiga wanita itu terbelalak kaget.

__ADS_1


“Maafkan kami, Tuan.”


“Jangan marahi mereka. Aku yang memilih mengikuti prosedur di perusahaan ini. Mereka hanya bersikap profesional,” bela Lylia.


“Maafkan kami, Nyonya. Sungguh, kami tidak tahu jika Anda adalah istri Tuan Xavier.”


Ketiga wanita itu menunduk dengan lutut yang gemetar. Lylia segera meminta Jensen mengantarnya menemui sang suami. Dia tak ingin kehadiran pria itu mengintimidasi tiga wanita yang tak bersalah.


Kesan pertama Lylia, perusahaan ini memiliki karyawan yang profesional dan sungguh taat aturan.


Gedung itu bertingkat tiga puluh dengan desain yang modern, tetapi tetap terlihat formal.


“Tuan Xavier telah merombak seluruh pegawai secara besar-besaran, Nyonya. Memutus para pengkhianat yang telah merugikan perusahaan. Termasuk harus bermusuhan dengan Tuan Henry,” jelas Jensen.


“Paman Henry?”


“Benar, Nyonya. Lebih jelasnya Anda bisa bertanya langsung dengan Tuan Xavier.”


Sesampainya di lantai teratas, Jensen mengantar sampai di pintu dan mengetuknya, lalu membukanya dan mempersilakannya masuk.


“Mengapa tidak berkabar kalau mau datang ke sini.” Xavier bangun dan menyambut istrinya dengan pelukan.


“Tidak ada rencana.”


“Kau meninggalkan kakek sendirian?”


“Ada ayah.”


Lylia mengamati interior ruangan Xavier yang rapi dan sangat luas. Sekali lagi dia lupa jika suaminya adalah milyarder.


“Apa maksud Jensen kau bermusuhan dengan Paman Henry. Apa yang terjadi?”


Lylia memilih menuju lemari pendingin dan mengambil sekaleng soda, lalu duduk di sofa siap mendengar cerita suaminya.


Selama seminggu ini dia cukup sibuk dengan memikirkan kondisi kakeknya, mungkin itu juga salah satu alasan Xavier tak banyak bercerita.


“Biasalah. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting. Semuanya baik-baik saja,” kata Xavier.


Belum sempat Lylia menjawab, terdengar suara dering ponselnya berbunyi. Lylia mengambil benda pipih di dalam tas dan melihat siapa nama pemanggil. Bibirnya tertarik ke dalam, malas.


“Siapa?”


“Karina.”


Lylia mengabaikan panggilan itu dan menyimpan ponselnya. Namun, dering ponsel kembali berbunyi dengan nomor berbeda. Mau tak mau Lylia menjawabnya. Namun, sedetik kemudian dia terlonjak bangkit.

__ADS_1


“Kakek ....”


To Be Continue ....


__ADS_2