
“Aku ingin bicara.”
“Katakan saja.” Lylia menjawab tanpa menoleh.
“Ini tentang penyerangan yang terjadi pada kakek.”
Seketika itu Lylia segera menoleh dan menatap Xavier dengan kedua alis terangkat.
“Kau sudah dapatkan pelakunya?”
Xavier hanya berdeham sebagai jawaban.
“Siapa?”
“Dia hanya orang suruhan.”
“Pelaku utamanya?”
“Hayabusa masih menyeledikinya. Dari keterangan pria suruhan itu, dia mengatakan yang melakukannya adalah Nyonya Eta. Kau tahu siapa dia? Atau kau kenal dengannya ... mungkin.”
Lylia diam. Mencerna ucapan suaminya, juga nama yang tak asing di telinganya.
“Nyonya Eta yang menyuruhnya? Kau yakin tentang itu? Bisa saja pria itu berbohong.”
Xavier jelas melihat perubahan ekspresi Lylia yang seolah ragu dengan informasi yang diberikan. Mungkinkah sebenarnya Lylia benar-benar tahu siapa sosok di balik Nyonya Eta.
“Kau tahu sesuatu?”
Lylia menggeleng pelan. Dia bangkit dari sofa berniat pergi, tetapi Xavier mencekal pergelangan tangannya dan menariknya pelan hingga jatuh tepat di pangkuannya.
“Maaf,” ucap Xavier pelan. Sepertinya pria itu tak lelahnya mengucapkan kalimat penyesalan tersebut.
“Aku masih kecewa.”
“Aku tahu. Tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini.”
Lylia bergeming.
__ADS_1
“Maafkan suamimu, Ly.”
Xavier memeluk perut Lylia dengan erat. Menyandarkan kepalanya di punggung sang istri dan memejamkan mata. Dia sadar kebohongannya melukai, tetapi janji yang diberikan pada Federick juga tak bisa diingkari.
“Berjanjilah untuk tak merahasiakan apa pun lagi dariku, Vier!” pinta Lylia dengan tegas.
“I’m promise!”
Lylia membalikkan tubuh dan memeluk leher suaminya dengan erat. Tangisnya pecah karena merindukan pria itu. Merindukan romansa seperti sedia kala, saat hubungan mereka masih sederhana, tetapi penuh keintiman.
Bukan ... bukan situasi dan keadaan seperti ini yang Lylia inginkan.
Untuk apa harta yang banyak jika kehidupan mereka selalu dihantui masalah demi masalah yang tak berkesudahan.
Namun, Lylia lupa apa pun keadaannya, masalah itu selalu saja ada. Entah dicari atau datang sendiri, selama napas masih berembus, hidup tak akan jauh-jauh dari yang namanya ujian.
—
Pagi itu suasana rumah tampak begitu hangat. Sejak pagi senyum kedua sejoli itu tampak mengembang. Baik Lylia maupun Xavier seolah menemukan bahagia lagi setelah berminggu-minggu lalu selalu bersitegang.
“Ayah menanyakanmu, Ly. Sore nanti mereka mengundang kita datang ke mansion.”
“Jika mereka menginginkannya, berikan saja. Aku bisa memberimu lebih banyak.”
“Ini bukan seberapa banyak atau sedikit. Ini tentang amanah yang diberikan. Jika kakek mempercayainya padaku, pasti kakek punya pertimbangan yang matang.”
Xavier mengangguk. Sedikit banyak dia tahu alasan apa yang membuat Federick memberikan lebih banyak pada Lylia. Bukan karena Lylia adalah cucu kesayangannya, tetapi karena itu memang hak Lylia yang ditinggalkan oleh mendiang ibunya.
“Datang dan buktikan, jika kau masih baik-baik saja. Mereka harus membayar atas rasa sakit yang telah ditorehkan. Melihatmu tetap berdiri tegak adalah pukulan tersendiri untuk mereka.”
Lylia tampak menghela napas. Sejujurnya dia masih belum ingin bertemu dengan keluarganya. Ah ... tidak. Bukan keluarga, melainkan hanya orang yang telah membesarkannya. Karena selama ini keberadaannya tak pernah benar-benar dianggap.
Kenyataan jika dia bukan putri Eudora membuat hati Lylia masih saja berdenyut nyeri. Jadi inilah alasan mengapa wanita paruh baya itu selalu memojokkan dan menganggap apa pun yang dilakukan selalu salah.
Sejujurnya dia ingin mendengar apa yang pernah terjadi di masa lalu.
Juga siapa ibu kandungnya.
__ADS_1
“Baiklah,” kata Lylia sedikit berat. “Tapi kau ikut, kan?”
“Of course!”
Xavier berkata tegas. Mana mungkin dia membiarkan sang istri memasuki kandang harimau seorang diri.
—
“Silakan masuk, Tuan, Nona,” ucap pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
Semua pelayan tampak terpaku melihat penampilan Lylia yang amat sangat cantik. Dia bagaikan mawar putih yang begitu indah. Sederhana, tetapi penuh pesona. Wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Xavier. Tidak ada senyum yang menghiasai wajahnya. Tatapan matanya tampak dingin dan terlihat ketegasan di wajah cantiknya.
“Di mana Tuan dan Nyonya Richards?” tanya Lylia datar, tanpa ekspresi. Namun, panggilan untuk mereka membuat beberapa pelayan tampak terkejut.
“Tuan dan anggota keluarga yang lain sudah menunggu di ruang makan. Nyonya masih ada di kamarnya, Nona.”
Berjalan dengan langkah pasti. Sekalipun Lylia tak melepaskan tangannya dari lengan Xavier. Saat memasuki ruang makan, berbagai ekspresi dia terima.
Dua saudarinya tampak menatapnya iri. Sementara sang ayah, memberikan tatapan tajam seperti biasa. Tiada basa-basi yang terucap, pria paruh baya itu meminta mereka untuk duduk.
“Sombong sekali kau, Lylia,” gerutu Alice dengan wajah mencemooh. “Baru juga jadi istri konglomerat kau sudah mengabaikan keluarga yang merawat dan membesarkanmu.”
“Benar. Seharusnya dia tahu balas budi, tapi nyatanya tidak. Dia bahkan bersikap seolah kita bukan keluarganya lagi. Benar-benar keterlaluan!” Komentar Karina ikut meniupkan kobaran api.
Karina sangat membenci Lylia karena wanita itu telah membuatnya memohon. Jika bukan demi Keluarga Richards dan suaminya yang butuh dukungan, sungguh sedikitpun Karina tak ingin melakukannya.
Mengetahui fakta jika Lylia bukanlah saudari kandungnya, Alice dan Karina semakin menjadi. Menggolok Lylia seakan itu adalah kesialan yang pantas diterima.
“Dia bukan saudari kita, tentu saja dia tak akan memiliki belas kasih pada kita. Apa pedulinya dia jika pun keluarga ini hancur.”
“Pantas saja selama ini ibu tak pernah menyukainya. Bahkan ayah juga ikut mengabaikannya.”
“DIAM KALIAN!” bentak Alucard kesal membuat kedua anaknya menutup mulut.
Jangan tanya ekspresi Lylia saat ini. Wanita itu tampak mengeraskan rahang dengan tatapan nyalang menatap keduanya. Namun, dia masih memilih diam dan tak menghiraukan ucapan mereka.
Tak lama Eudora datang dengan penampilan rapi seperti biasa. Bahkan kilauan berlian tampak mengisi setiap jengkal tubuhnya.
__ADS_1
“Akhirnya anak tidak tahu diri ini datang juga.”
To Be Continue ....