
Eudora benar-benar tidak tahu malu. Wanita itu dengan lantang ingin mengajukan tuntutan atas apa yang diterima kedua putrinya.
Dia merasa Lylia tak pantas mendapatkan semua itu. Seharusnya kedua putrinya lah yang berhak menerima semua itu.
“Atas dasar apa Anda keberatan? Ini adalah harta pribadi Tuan Federick. Sudah dibagi rata dengan anak, cucu dan menantunya,” ujar Cannor dengan pelan, tetapi penuh penekanan.
“Mengapa Lylia mendapatkan banyak. Sementara kedua saudarinya tidak?”
“Itu sudah keputusan Tuan Federick. Apa alasannya, hanya beliau yang tahu.”
“Lylia tidak berhak mendapatkan semua itu.”
Lylia mendongak untuk menatap Eudora. Ucapan wanita paruh baya itu menyakiti hati, seakan kehadirannya tak dianggap.
“Mengapa aku tidak berhak, Bu? Seandainya Alice dan Karina mendapatkan bagianku dan aku mendapat bagian mereka, apa kau akan mengatakan mereka tidak berhak? Kau menuntut keadilan bagi kedua putrimu, lalu bagaimana denganku?” ungkap Lylia miris.
“Mengapa, Bu? Di matamu, hanya ada Alice dan Karina. Sedikitpun kau tak pernah memikirkan aku.”
“Katakan apa salahku, Bu? Kenapa kau seolah membenci dan tak menginginkan diriku?”
“Jawab, Bu!” tekan Lylia menuntut jawaban.
“Karena kau bukan putriku. Karena kehadiranmu menghancurkan hidupku, hidup anak-anak dan keluarga kecilku!” teriak Eudora dengan marah.
Semua orang terkejut, kecuali Xavier. Pria itu memejamkan mata untuk mengendalikan diri.
Alucard bahkan menahan napas untuk beberapa detik mendengar sang istri akhirnya membongkar rahasia yang telah bertahun-tahun tersimpan rapat.
“A—pa maksudmu, Bu?” tanya Lylia dengan suara terbata. Dia terkejut, tetapi berusaha menguasai diri karena mengira ucapan itu hanya karena emosi sesaat.
“Kau bukan putriku. Kehadiranmu adalah petaka. Ibumu yang murahan itu menggoda suamiku hingga lahirlah dirimu,” ungkap Eudora dengan tatapan menyala, seakan mampu membakar dada Lylia yang kini berdetak tak beraturan.
“Tidak mungkin,” lirih Lylia lemas.
__ADS_1
“Jika kau bertanya mengapa aku tak pernah menganggap dirimu dan membenci kehadiranmu, ya, benar, aku sangat membenci kesalahan yang dilakukan ibumu dan suamiku hingga kau harus ada di antara kami. Kehadiranmu adalah awal petaka yang sesungguhnya, Lylia!” teriak Eudora tanpa rasa takut. Dia tidak lagi peduli jika Alucard akan marah. Toh selama ini pria itu tak bisa melawannya. Penghalang terbesarnya telah tiada, perisai yang melindungi Lylia sudah tak ada lagi.
“Eudora! Wanita sialan! Tutup mulutmu!” bentak Alucard, menghampiri sang istri dan melayangkan tangan, tetapi ditahan oleh Bruno yang saat itu ada di dekatnya.
“Brengsek. Kau sudah berjanji tidak akan mengungkit apa pun tentang identitas Lylia.”
Eudora justru terkekeh keras. “Kenapa? Kau tidak terima? Kau bajingan! Bisa-bisanya kau menghamili wanita rendahan itu. Kalian pengkhianat!”
Sang pengacara yang awalnya hanya menyampaikan amanah, justru harus mendengar rahasia tersembunyi. Pria paruh baya itu segera pamit pergi dan akan datang lagi jika suasana sudah kondusif.
Ketegangan terjadi di dalam mansion mewah tersebut. Lylia masih diam mendengar pertengkaran ayah dan ibunya. Otaknya masih mencerna satu demi satu ucapan Eudora dan merangkainya dengan setiap kejadian yang dilakukan wanita yang dipanggil ibu. Air mata Lylia meluncur tanpa bisa dicegah. Kenyataan yang didengar benar-benar meruntuhkan hidupnya.
Rasa sakit yang dirasa hadir dari orang-orang terdekatnya.
“Itulah alasannnya mengapa aku tak pernah menyukai dirimu, Lylia. Karena ibumu telah menghancurkan hidupku, ibumu yang pelacur itu telah menorehkan rasa sakit luar biasa di hatiku.”
Lylia merasa kepalanya pening, matanya mulai berkunang-kunang menahan nyeri yang menyerbu tepat di jantungnya.
Belum sempat wanita paruh baya itu kembali menyela, Xavier berteriak saat tubuh sang istri terkulai dengan mata terpejam.
—
Xavier mengangkat tubuh Lylia ala bridal style dan menatap semua anggota keluarga dengan tajam.
“Bagus. Aku sangat senang mengetahui jika kau bukan ibu kandung, Lylia.” Tersenyum menyeringai, “jadi Lylia tak akan memohon lagi demi menyelamatkan dirimu.”
“Keluarga ini memang tidak tahu terima kasih. Sungguh sial, Lylia harus besar bersama dengan keluarga ini.”
Aura yang dikeluarkan Xavier sangat menakutkan. Pria itu bahkan tak lagi memberi hormat dan segera pergi begitu saja dari mansion Richards.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Xavier saat dokter pribadinya baru saja memeriksa kondisi sang istri.
“Tidak ada hal serius. Tubuhnya lemah dan tekanan yang dialami membuatnya syok.” Dokter meresepkan vitamin dan pamit setelah urusannya selesai.
__ADS_1
Xavier menatap tubuh sang istri yang terbaring lemah di atas ranjang. Tangannya menyentuh pipi wanita itu dengan lembut dan memberikannya kecupan singkat.
Keluar dari kamar, Xavier masuk ke dalam ruang kerjanya. Sudah ada Jensen berdiri menunggu kedatangannya.
“Ini terkait Nona Miranda,” kata Jensen sambil mengulurkan sebuah amplop berwarna cokelat. Namun, Xavier tak mengambilnya dan memilih mendengarkan saja.
“Nona Miranda kembali ke Inggris karena kabur dari cengkeraman mafia Spanyol. Kabarnya dia telah menipu dan menjebak pimpinan kelompok tersebut hingga dirinya kembali ke Inggris untuk mencari perlindungan,” jelas Jensen semakin membuat aura Xavier semakin dingin.
“Wanita sialan itu benar-benar ular berbisa,” gumamnya dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
—
Di mansion Keluarga Richards, Alucard tentu saja marah besar terhadap Eudora yang membongkar rahasia yang telah tersimpan rapat selama bertahun-tahun.
Namun, wanita itu seolah tak peduli dan justru merasa puas karena berhasil membuat Lylia tidak bisa menegakkan kepala.
Pertengkaran itu tentu saja menjadi pertengkaran terhebat kedua setelah dulu Eudora yang marah karena pengakuan Alucard.
Eudora tak terima dengan apa yang didapat kedua putrinya. Selalu saja Lylia dan Lylia yang menjadi kesayangan Federick, bahkan meski sudah tiada pun, pria tua itu sudah menyiapkan segalanya untuk Lylia. Semakin menambah rasa benci di hati.
“Kau sudah berjanji. Kenapa kau lakukan ini, Eudora! Aku sudah bilang jika hubunganku dengan Ling Hua adalah ketidaksengajaan. Kami bahkan tak memiliki niatan untuk berkhianat di belakangmu. Kami berdua dijebak! Sudah berulang kali aku menjelaskan ini padamu,” kata Alucard frustrasi.
“Apa pun itu, tetap saja hubungan kalian menghasilkan anak. Kau pikir waktu bisa menebus segala rasa sakitku selama ini? Tidak, Alucard! Rasa sakit atas pengkhianatan yang kau lakukan tak akan hilang meski sudah tergerus generasi.” Sedikitpun Eudora tak mau mengalah.
“Sekarang apa maumu?” tanya Alucard geram. Dia yang awalnya tetap ingin merahasiakan identitas Lylia, sudah tak bisa lagi berkelit. Menantunya yang konglomerat itu pasti akan mencari tahu kebenarannya.
“Ambil apa pun yang sudah diwariskan untuk Lylia. Aku tidak rela jika papa memberikan segalanya untuk anakmu bersama wanita rendahan itu. Seharusnya yang pantas mendapat itu adalah anak-anakmu denganku. Bahkan terlihat sekali papa pilih kasih kepada Alice dan Karina.”
Alucard yang masih dilanda kekesalan memilih menyingkir dan mengabaikan apa pun permintaan sang istri yang baginya terlalu kejam. Bagaimana pun, Lylia tetaplah anaknya, mengalir darahnya dalam tubuh wanita itu.
“Sialan kau, Alucard! Brengsek! Bajingan! Kau tidak bisa melakukanya, kan? Kau pengecut!” teriak Eudora menatap punggung sang suami yang kian menjauh.
To Be Continue ....
__ADS_1