
Lylia bosan. Benar-benar bosan karena hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Di kamar luas itu dia hanya berguling-guling sambil memainkan ponselnya yang masih dalam mode pesawat. Sengaja supaya keluarganya tak menghubungi dan menganggu ketenangannya.
Senyum Lylia terbit saat melihat foto-foto bersama dengan Xavier dengan berbagai pose yang menggemaskan. Ah, dulu Lylia tak akan sungkan meminta suaminya melakukan banyak hal, tetapi setelah mengetahui identitas yang sebenarnya mungkin semuanya memang tidak akan seperti dulu.
Lylia berjingkat kaget saat bel di kamarnya ditekan. Dia segera bangkit dan merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu.
Bibirnya membulat sempurna saat melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi camilan dan dua gelas minuman dingin.
“Boleh aku masuk?” tanya Starlight.
Lylia terkesiap, dia mengangguk dan membuka pintu kamarnya lebih lebar.
“Tidak perlu tegang, aku hanya ingin bicara santai saja. Kau pasti bosan hanya berdiam diri.”
“Anda benar, aku sungguh akan mati kebosanan jika terus-menerus seperti ini,” balas Lylia sambil menutup mulutnya.
“Apa yang membuatmu menerima Xavier yang hanya pria miskin? Apa sebelumnya kau tahu identitas yang sebenarnya?” tanya Starlight memulai wawancara.
“Sama sekali tidak tahu,” balas Lylia sambil menggelengkan kepala. “Bahkan aku tak pernah bermimpi untuk itu, aku menerima Xavier apa adanya. Dengan segala sikapnya yang bertanggung jawab, itu sudah lebih dari cukup dibandingkan harta berlimpah. Karena sesungguhnya, Xavier adalah harta yang tak ternilai, suami yang sangat mencintaiku.”
Starlight menatapnya dengan tatapan meragu. Oh ayolah, ini sudah zaman di mana uang yang akan menyelesaikan segala masalah. Mustahil ada wanita yang masih dengan pemikiran seperti itu. Namun, wanita paruh baya itu tetap mengangguk meski ragu.
“Kau tak perlu mengambil hati ucapan nenek. Dia memang seperti itu, bicaranya sedikit pedas dan kasar. Awal aku memasuki keluarga ini pun, dia sudah bersikap tidak menyukaiku hanya karena putri dari pebisnis yang telah gulung tikar.”
Lylia menyimak, dia menatap Starlight intens, mencoba memahami sikapnya. Di sisi lain, dia pernah memergoki Starlight menatapnya sinis, sangat berbanding terbalik dengan sikapnya yang ramah saat ini.
“Aku juga punya anak perempuan, tapi dia tengah liburan bersama teman-teman kampusnya. Jika dia kembali kau tak akan kesepian lagi, dia itu sangat berisik,” kata Starlight memberitahu.
“Aku tidak akan tinggal lama di sini, Bibi. Kami akan tinggal di penthouse Xavier.”
“Kenapa? Semua keluarga tinggal di sini. Apa kau merasa tidak nyaman?”
Sejujurnya Lylia ingin mengatakan ‘ya’ untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, dia hanya tersenyum tanpa jawaban.
Bukan hanya tidak nyaman, Lylia juga merasa sifat orang-orang di rumah ini semuanya palsu, termasuk wanita paruh baya yang ada di depannya ini.
Selepas kepergian Starlight, Lylia memilih merebahkan punggungnya yang kaku karena terlalu lama duduk. Sedari awal saat Starlight mengajaknya bicara banyak hal, dia tak terlalu menanggapi banyak. Pun hanya menjawab seadanya tanpa mau mengumbar masalah hubungannya dengan sang suami.
__ADS_1
Lylia yakin, Starlight hanya sekadar ingin tahu dan tak benar-benar peduli.
—
“Berhati-hatilah. Setelah ini aku yakin akan banyak musuh yang mengincar nyawamu setelah tahu jika kau masih hidup.”
“Aku tahu, tapi aku sangat mencemaskan Lylia.” Xavier tampak gusar. Berkali-kali dia menyugar rambutnya kasar karena memikirkan hal itu.
Roger menghela napas pelan. Dia memejamkan mata dan tersenyum tipis. “Lylia bukan wanita lemah, Nak. Dia wanita yang kuat,” balasnya penuh keyakinan.
“Aku takut bahaya mengintainya.”
“Bahkan sebelum bersamamu, bahaya selalu mengintai istrimu. Bersamamu atau tidak, nyawa Lylia memang sudah diincar sejak lama,” balas Roger tahu rahasia yang disembunyikan oleh Federick terkait cucunya.
Roger dan Federick adalah teman lama. Mereka berteman jauh sebelum keduanya menikah dan memiliki keluarga. Namun, tidak ada yang tahu akan hal itu. Keduanya masih sering berkomunikasi dan bertemu secara pribadi.
Sejujurnya Roger sudah tahu sejak lama jika cucu kesayangannya memang masih hidup. Namun, dia sengaja bungkam dan tak memberitahu siapa pun. Membiarkan cucu kesayangannya berada di dalam keluarga Richards untuk mengelabuhi musuh-musuh supaya menganggap Xavier tidak lagi menjadi ancaman.
Awalnya Roger pun terkejut saat tiba-tiba Xavier membuka identitas yang sebenarnya. Dia harus mengatur rencana untuk meyakinkan dan memberikan bukti bahwa menantu keluarga Richards memang adalah Xavier Thomas Bailey, pewaris keluarga Bailey yang sempat dinyatakan tiada.
Perdebatan pun tak terelakan. Namun, siapa yang berani melawan ucapan Roger selain Odette yang selalu berseberangan.
“Kapan kau siap kembali ke perusahaan?”
“Secepatnya.”
“Kau akan menetap di mansion ini, kan?”
Xavier menggeleng pelan. “Aku akan tinggal berdua di penthouse. Kakek tidak perlu khawatir, aku akan sering datang berkunjung.”
“Kenapa kau tidak menetap saja di sini. Mansion ini cukup untuk menampung seluruh keluarga. Bahkan dengan anakmu nanti,” ujar Roger tampak tak senang dengan keputusan itu.
“Aku dan Lylia hanya ingin menikmati momen kebersamaan sebelum hadirnya anak di antara kami. Lagi pula aku tahu Lylia tidak nyaman tinggal di sini, dia masih perlu beradaptasi,” bela Xavier.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar mengintrupsi pembicaraan cucu dan kakek tersebut. Roger meminta siapa pun yang ada dibalik pintu untuk masuk. Dia sudah tahu itu adalah anaknya yang memang dia minta untuk datang.
“Oh Xavier, ternyata kau ada di sini,” ucap Henry tampak salah tingkah.
__ADS_1
“Kau sudah menyelesaikan pekerjaan yang kuminta?”
“Sudah, Dad. Kau tak perlu khawatir.” Henry mengangguk dan duduk di sebelah keponakannya.
Henry adalah adik dari mendiang ayah Xavier. Usianya hanya terpaut beberapa tahun saja, tetapi takdir buruk menimpa orang tua Xavier hingga perpisahan dunia harus terjadi dan membuat Xavier menjadi anak yatim piatu.
“Kapan Xavier akan kembali? Gord berencana ingin mengadakan pesta penyambutan, jika kau memberikan izin.”
“Ya, lakukan saja. Jangan lupa undang semua rekanan bisnis agar mereka tahu bahwa Xavier telah kembali.”
Lagi dan lagi Henry mengangguk patuh.
“Selamat datang kembali, Nak. Paman senang akhrinya lepas dari banyak tekanan pekerjaan yang menyita waktu. Akhirnya pria tua ini bisa bersantai,” ujar Henry dengan kekehan pelan, mencoba mencairkan suasana.
“Terima kasih, Paman. Aku senang kau mengingat bahwa apa yang kau miliki hanya titipan,” balas Xavier datar tanpa ekspresi.
Henry terlihat menggeram pelan. Giginya bergemeletuk menahan kekesalan. Namun, dia tetap menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang. Ketika tak ada lagi yang dibicarakan dia memilih pergi karena muak dengan tingkah sombong yang ditunjukkan keponakannya.
Henry dan Helcurd adalah kakak beradik. Semasa muda keduanya telah diberikan tanggung jawab untuk membesarkan perusahaan yang telah diberikan Roger. Namun, karena sikap Henry yang ceroboh dan arogant, berkali-kali perusahannya tersandung masalah hingga berakhir bangkrut ketika Roger tak ingin membantunya lagi. Berbeda dengan Helcurd yang sukses karena kecerdasan dan tanggung jawabnya.
Hingga perusahaan dan seluruh kekayaan itu akhirnya jatuh pada Xavier sebagai keturunan satu-satunya. Semuanya berkat usaha dan kerja keras Helcurd.
Pada saat Xavier dinyatakan meninggal dalam kecelakaan, Roger menunjuk Henry untuk memegang peranan penting dalam perusahaan. Terpaksa.
Itulah sebabnya tidak ada yang berani dengan Xavier. Karena selain Roger, dia yang memegang kendali.
“Kau tidak seharusnya bicara seperti itu.” Roger bicara setelah pintu ruangan tertutup setelah kepergian Xavier.
“Kakek tidak tahu apa pun, selama ini paman menipu kakek,” balas Xavier melempar map berwarna biru dengan kasar. “Dia sudah cukup mengeruk uang di perusahaan tanpa kakek tahu.”
Roger mengambil kacamata dan segera membaca berkas tersebut. Bola matanya membesar karena tidak tahu apa pun yang telah dilakukan anaknya.
Henry menjual lima persen saham milik Xavier dan ternyata yang membeli saham tersebut adalah Henry sendiri. Namun, dia menggunakan orang lain saat melakukan transaksi.
Belum lagi dengan laporan keuangan yang selama ini dimanipulasi demi keuntungan pribadi. Sungguh keterlaluan!
“Anak kurang ajar!” gumam Roger sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
To Be Continue ....