
Malam semakin merangkak naik ketika mobil yang membawa sepasang suami istri mulai melesat membelah jalanan. Senyum di bibir kedua pasangan itu tak pernah.
Sementara di kursi depan, Moskov dan Miya hanya diam dan fokus mengamati jalanan yang entah mengapa malam ini tampak tak seperti biasa. Sebagai seseorang yang terlatih, keduanya memiliki insting dan dugaan yang sama.
Ada yang tidak beres.
“Aku mengantuk, Vier.” Lylia menyandarkan kepalanya di bahu Xavier. Matanya terpejam dengan bulu mata lentik yang sangat cantik.
“Tidurlah,” sahut Xavier menyentuh pipi Lylia dan mengusapnya perlahan.
Brak!
Suara guncangan keras membuat Lylia sontak terbangun. Dia menoleh ke arah Xavier yang hanya diam dengan ekspresi dingin.
“Vier,” panggil Lylia sambil menoleh keluar.
“Kita diserang, Tuan!” Suara Moskov terdengar setelah benturan keras kembali menghantam mobil mereka.
“A—pa yang terjadi?” tanya Lylia terbata.
“Tidurlah lagi. Tidak akan terjadi apa pun.” Xavier menoleh dan tersenyum lembut.
Tidur di saat seperti ini?
Di mana pikiran Xavier sebenarnya?
“Apa saya perlu memanggil Hayabusa, Tuan?” Suara Moskov kembali terdengar. Namun, nada suaranya tetap tenang.
“Tidak perlu. Hanya tikus-tikus kecil kalian berdua saja cukup.”
Guncangan kembali terasa. Kini semakin keras karena mobil mereka ditabrak dari dua sisi berbeda. Lylia yang sebelumnya belum pernah berada di posisi seperti ini hanya memeluk Xavier dengan wajah ketakutan.
“Berapa?”
Miya menoleh keluar dan melihat dua mobil tengah mengejar mereka. Sementara satu mobil lagi seperti menunggu instruksi.
“Sniper, Tuan!” teriak Miya membuat Xavier memeluk Lylia cepat dan menundukkan kepala tepat saat sebuah peluru melesat di antara mereka.
Sialnya lagi mereka tak menggunakan mobil yang telah dilapisi anti peluru. Mobil itu baru dibeli dan belum sempat untuk dilakukan pergantian kaca.
Lylia menjerit keras, tubuhnya gemetar dan rasa takut menyelimuti. Sementara Xavier tetap memasang wajah datar dan santai seperti tak terjadi apa pun.
__ADS_1
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi diikuti dua mobil yang ikut mengejar. Perlahan Moskov mengurangi laju mobil dan membuat salah satu mobil penyerang sejajar.
Kedua mobil itu kini kembali melaju dengan kecepatan tinggi.
Dengan gesit Miya membuka kaca mobil dan melesakkan dua tembakan ke arah ban sehingga mobil yang dikendarai penyerang itu kehilangan kendali dan terguling beberapa kali menabrak mobil rekannya.
Miya kembali melesatkan tembakan ke arah tangki mobil yang telah bocor. Sehingga terjadi ledakan hebat hanya dalam hitungan detik.
Untuk beberapa saat Lylia kagum dengan kecepatan menembak Miya yang luar biasa.
“Sepertinya sniper itu bukan komplotan mereka.” Suara Lylia yang tiba-tiba memecah ketegangan.
“Dari mana kau tahu?” tanya Xavier sambil menoleh. Alisnya mengernyit penuh tanya.
“Entahlah, hanya menebak. Buktinya mereka tak mengikuti kita atau melakukan serangan lagi. Jika mereka satu komplotan mungkin mereka masih tetap mengejar kita,” papar Lylia membuat ketiga orang itu mengangguk. Prediksinya cukup tepat sasaran dan masuk akal.
“Benar, kan Vier?” tanya Lylia menoleh dengan senyum polos.
“Kau selalu benar dan tak pernah salah, Sayang.”
Di kursi depan, Miya dan Moskov saling pandang dengan wajah sama-sama datar, kemudian menghela napas pelan.
—
“Ya, hanya sedikit terkejut dengan situasi yang tiba-tiba.”
Keduanya melangkah keluar dari mobil dan memasuki rumah yang sudah dalam keadaan sepi. Tidak ada lagi pelayan yang berkeliaran sebab waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka duduk di sisi ranjang dengan pikiran yang berbeda.
“Bahumu kenapa, Ly?” tanya Xavier yang menyadari jika ada luka gores di bahu Lylia.
“Kenapa? Tidak apa-apa,” balas Lylia yang tak menyadari.
Xavier segera memeriksa luka yang ada di bahu Lylia. Sepertinya luka itu didapat karena pecahan kaca mobil yang mungkin terlempar dan mengenai tubuh.
Helaan napas Xavier menerpa kulit Lylia. Pria itu segera beranjak dari ranjang dan pergi mengambil kotak obat.
“Aku akan bersihkan lukanya dulu. Agar tidak infeksi,” kata Xavier sambil mengeluarkan beberapa kotak obat. “Tahan, mungkin ini agak sedikit perih.”
Lylia hanya mengangguk. Dia meringis saat dinginnya alkohol menyentuh kulitnya yang terluka. Ada sensasi perih yang membuatnya sedikit meringis.
__ADS_1
“Sebenarnya siapa mereka?” tanya Lylia mengalihkan perhatian.
“Orang jahat,” balas Xavier singkat. Tidak ada penjelasan apa pun. “Sudah.”
Xavier memaksa memeriksa seluruh tubuh Lylia. Takut ada luka lain yang tak disadari wanita itu.
Setelah memastikan Lylia sudah tidur dengan nyaman, Xavier perlahan keluar menuju ruang kerja.
“Hayabusa telah mendapatkan sniper itu, Tuan,” lapor Moskov yang sejak tadi telah menunggu.
“Petunjuk?”
“Prediksi Anda tepat sasaran, Tuan.”
Senyum di bibir Xavier semakin lebar. “Meski begitu aku tak akan bisa membunuhnya. Sayang sekali,” keluhnya.
“Perketat pengawalan untuk Lylia. Lengkapi setiap mobil dengan kaca anti peluru dan keamanan tingkat tinggi.”
Xavier melakukan itu untuk berjaga-jaga. Ancaman bisa datang dari mana saja. Dia hanya bisa berusaha melindungi Lylia agar tak sampai terluka.
Meski telah mengusahakan banyak hal. Namun, dia masih belum bisa memprediksi pergerakan musuh-musuhnya.
Terlampau banyak orang-orang yang ingin menumbangkan dirinya hanya demi kekuasaan.
—
Di satu sisi, di tempat yang berbeda seorang pria tengah mengumpat dengan kasar mendengar laporan orang kepercayaannya.
“Dasar bodoh. Menangkap satu wanita saja tidak becus. Dasar payah!”
Pria itu terus mengumpat dengan kasar karena rencananya gagal. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk membunuh target, hanya ingin sedikit memberi peringatan dan juga ancaman. Namun, sayang sekali orang-orang bodoh dan payah itu sama sekali tak berguna.
“Sudahlah. Tenangkan dirimu, jangan terlalu emosi. Masih banyak waktu untuk melakukannya,” ucap seorang wanita sambil mengelus bahu pria yang masih mengeluarkan segala umpatannya.
“Orang-orang itu memang payah, menghadapi mereka yang hanya berempat saja gagal. Padahal aku sudah mengeluarkan uang yang banyak!”
“Aku sudah memperingatkan dirimu. Mereka bukan orang sembarangan yang bisa disentuh. Algojonya terlalu banyak jika kau ingin bermain-main.”
Bukannya menenangkan, wanita itu semakin membuat suaminya murka. Ucapan itu justru seperti hinaan tersirat, bahwa dia tak akan bisa melawannya.
“Ck, Xavier Thomas Bailey ... bajingan tengik itu ingin sekali kulenyapkan.”
__ADS_1
To Be Continue ....