
“Lylia?”
“Hum, aku memang sudah tahu, Vier. Jangan terlalu terkejut begitu. Kau tampak jelek sekali,” jawab Lylia kembali tertawa pelan. Apalagi saat melihat wajah Xavier yang melongo.
“Kau .... darimana kau tahu?” tanya Xavier dengan rasa penasaran.
“Kakek Robert yang memberitahu. Beliau menceritakan banyak hal tentang ibuku.”
Robert jelas tahu karena dia berteman baik dengan Federick. Latar belakang ibu Lylia jelas sudah dikorek habis oleh kedua tetua itu. Hanya saja Alucard terlalu bodoh untuk tak mencari tahu siapa wanita yang tengah mengandung anaknya.
Xavier mengembuskan napas kencang. Kakeknya itu benar-benar mengambil langkah seribu.
“Jangan marah padanya. Beliau menceritakan itu hanya agar aku bisa lebih berhati-hati, mengingat peranan ibuku yang sangat istimewa,” lanjutnya.
“Kapan kakek datang? Kau tak mengatakannya.”
“Kakek sendiri yang meminta untuk merahasiakan kedatangannya, tapi aku tak bisa berbohong di depanmu, Vier.”
Xavier mengangguk dan tersenyum. “Bagus. Istriku tentu harus patuh dan tak boleh menyembunyikan apa pun dari suaminya.”
“Jadi, bagaimana bisa kau terlibat dalam kecelakaan Eudora?”
Lylia tersenyum samar. “Karena aku punya dia!”
“Dia siapa?” tanya Xavier dengan
“Sui Miya.”
“What!” pekik Xavier terkejut. “Miya orang kepercayaan kakek?”
“Benar,” jawab Lylia dengan senyum terkembang sempurna.
“Tapi bagaimana bisa?”
“Kau tanyakan saja pada Kakek Robert. Sekarang Miya adalah milikku. Dia akan menjadi asisten sekaligus pengawalku,” ledek Lylia.
“Kakek benar-benar tidak adil!” gerutu Xavier kesal. Jelas kekesalan itu penyebabnya adalah karena sejak dulu mengincar Miya untuk jadi orangnya. Namun, wanita itu menolaknya hanya karena memilih setia dengan Robert.
Sekarang? Lihat! Kakek tua itu dengan sukarela memberikan Miya untuk Lylia.
Benar-benar tidak adil.
—
Sui Miya atau lebih dikenal dengan nama Miya. Tangan kanan Robert yang tak bisa disepelekan.
Wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan itu adalah putri dari seorang pelayan pribadi Ling Hua—ibu Lylia.
Sengaja di didik langsung oleh Robert dan memang dipersiapkan untuk menjaga Lylia suatu saat nanti atas permintaan ibunya sendiri. Sebagai bentuk pengabdian menurun, karena ibu Miya merasa sangat berhutang budi pada Ling Hua yang telah banyak berjasa.
__ADS_1
Dulu sekali Robert pernah berkeinginan menjadikan Lylia cucu menantunya. Takdir membuat harapannya terkabul meski dengan cara yang berbeda.
Miya adalah seseorang yang hanya tunduk pada Robert. Dia telah disumpah untuk setia dan hanya kematian yang akan mengugurkan sumpahnya. Setiap ucapan Robert adalah perintah dan dia telah bersumpah untuk mengabdikan diri pada Lylia. Menjaga wanita itu seperti ibunya menjaga ibu Lylia.
Karena mulai detik ini identitas Lylia Federick Richards bukan hanya putri keluarga kaya, tetapi istri dari seorang milyarder sekaligus keturunan Dua Dinasti Ling.
—
“Argh!!!”
“Tidak! Tidak mungkin!”
“Sialan! Aku tidak mau mau! Sembuhkan kakiku!”
Eudora meraung begitu mendengar penjelasan dari dokter jika salah satu kakinya mengalami kelumpuhan.
Wanita yang baru menyadari jika salah satu kakinya tidak merasakan apa pun itu mengeluh. Dia merasa kakinya mati rasa, sementara sebelah kakinya yang baru saja dioperasi mulai terasa nyeri.
Dokter belum bisa memastikan penyebab kelumpuhan yang terjadi. Entah itu karena terbentur benda keras atau karena ada salah satu syaraf yang bermasalah.
Begitu mendengar penjelasan dokter, tangis Eudora langsung pecah. Raungan kemalangan terdengar diiringi tangisan wanita paruh baya itu.
“Sembuhkan kakiku! Aku tidak mau lumpuh!” Suaranya terdengar bergetar.
“Alucard! Katakan pada dokter untuk mengembalikan kakiku seperti sedia kala. Aku tidak mau lumpuh!”
“Tenanglah, Dora. Dokter pasti melakukan yang terbaik,” sahut Alucard sambil meringis pelan. Sebab Eudora memukuli dadanya dengan sekuat tenaga.
Bukannya tenang, Eudora justru mengamuk. Dia memaki semua orang yang ada di ruangan. Jelas keadaan itu benar-benar mengejutkan dan membuat syok.
Terpaksa dokter harus memberikan suntikan penenang supaya wanita itu tidak histeris dan berontak. Sebab masih banyak alat-alat yang menempel di tubuhnya.
—
Xavier yang melihat istrinya tengah sibuk di ruang ganti, mendekat dan memeluknya dari belakang.
“Kau mau ke mana? Rapi sekali.”
Lylia tersenyum. “Aku akan pergi ke HR Company. Tuan Meyer akan melakukan rapat dengan seluruh pemegang saham. Tentu aku harus hadir, kan?”
“Kenapa baru bilang?” tanya Xavier seraya mengecup tengkuk leher istrinya.
“Aku juga baru tahu. Semalam Rain hanya meninggalkan pesan dan baru kubaca tadi pagi,” jawab Lylia yang masih memilih pakaian.
“Bersama Miya?”
Lylia mengangguk. “Jangan memulai. Kau juga harus ke kantor.” Peringat Lylia saat Xavier semakin membenamkan bibirnya di ceruk leher.
“Kau benar. Kita bisa melakukannya nanti malam saja. Bukan begitu?”
__ADS_1
Bukannya berhenti, tangan Xavier justru menjelajah bagian depan tubuh istrinya. Tangannya dengan nakal bergerilya dan menyusup ke dalam kimono.
“Terserah apa kata suamiku saja.”
Setelah sama-sama bersiap dengan pakaian rapi, keduanya turun menuju ruang makan dan sarapan bersama.
Bibi Bea datang dan mengabarkan jika Miya sudah datang dan tengah menunggu.
“Apa boleh Miya tinggal di sini?” tanya Lylia.
“Boleh. Dia bisa tinggal di paviliun seperti yang lain.”
Para pelayan dan seluruh pengawal memang tinggal di paviliun. Letaknya tepat di sebelah rumah mewah mereka. Hanya terpisah sebuah taman kecil sebagai batas dengan rumah utama.
“Miya.” Xavier menggamati wanita yang sudah sangat dikenalnya. Seperti biasa wanita itu mengenakan setelan jas berwarna hitam. Wajahnya tampak datar dan dingin dengan tatapan tajam.
Ah ... Xavier masih benar-benar kesal karena wanita itu dulu selalu menolak berada di pihaknya.
“Saya, Tuan.”
“Jaga istriku dengan baik. Jika ada sesuatu hubungi Moskov atau Jensen.”
“Baik, Tuan.”
Keduanya berpisah menuju tujuan masing-masing.
Lylia ditemani satu sopir dan Miya. sementara Xavier seperti biasa, bersama Moskov dan Jensen beserta satu sopir.
—
Perjalanan yang ditempuh Lylia cukup melelahkan. Hampir tiga jam karena perusahaan tersebut ada di bagian utara kota.
Sampai di depan lobi perusahaan, Rain sudah menunggunya.
“Selamat datang, Nona.”
“Terima kasih.”
Miya mengekor di belakang mereka. Namun, wanita itu tidak diizinkan masuk ke ruangan rapat.
Saat memasuki ruang rapat, wajah yang tadinya tersenyum lembut langsung berubah tegas.
“Selamat siang. Saya Lylia Federick Richards, cucu Kakek Federick,” ucapnya memperkenalkan diri.
Ada sekitar sepuluh orang yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Termasuk dua saudari tirinya—Alice dan Karina.
Lylia mendapatkan tempat duduk di antara Alice dan Karina. Dia memilih duduk tanpa melihat mereka berdua, benar-benar menganggap seolah mereka tidak ada.
Jelas sikap Lylia membuat kakak beradik itu menatap sinis dan penuh permusuhan.
__ADS_1
“Seharusnya kau malu untuk datang ke tempat ini. Sadar diri, Lylia. Kau tidak lebih dari anak haram yang menghancurkan kebahagiaan keluarga.”
To Be Continue ....