
Sinar mentari telah menyingsing. Kemilau sinarnya masuk melalui cela jendela kaca yang tirainya tak tertutup rapat.
Seorang wanita menggeliat pelan saat merasakan cahaya itu menyilaukan dan mengganggu. Kepalanya menoleh ke arah samping dan tak melihat siapa pun. Ranjang di sebelahnya kosong dan sudah rapi.
Ke mana Xavier pergi, pikirnya.
Lylia memilih bangun lalu membersihkan diri dan mencari sang suami. Sejenak dia berpikir apakah suaminya telah berangkat ke kantor atau masih di rumah.
“Di mana suamiku?” tanya Lylia pada pelayan yang lewat.
“Tuan ada di ruang olahraga, Nyonya.”
Lylia mengangguk dan meminta pelayan mengantarnya. Belum sampai mereka di tempat yang dituju, di tengah jalan mereka bertemu dengan Odette yang mencibir perilakunya.
Karena sedang tak ingin berdebat, Lylia melanjutkan langkah tanpa menimpali. Dia hanya menyapa wanita tua itu sebagai bentuk penghormatan.
Semalam saat melihat wanita yang menyapa suaminya, Lylia tampak kesal karena gelagat wanita itu sungguh tidak tahu malu. Meskipun Xavier tak melakukan apa pun dan mengabaikan wanita seksi itu, tetap saja dirinya merasa kesal. Lebih tepatnya cemburu.
Dibumbui kekesalan dan rasa cemburu yang membara, Lylia memperkosa suaminya dan terjadilah pergumalan panas di atas ranjang.
Sementara Xavier tentu saja amat senang. Dia bahkan memanjakan istrinya dan membuat wanita itu melupakan kemarahan berganti kenikmatan yang luar biasa.
Bahkan mereka baru menyelesaikannya ketika waktu menjelang pagi. Setelah membersihkan diri mereka berdua sepakat kembali ke rumah utama.
Sampai di ruang olahrga dia bisa melihat Xavier tengah bermain dengan treadmill. Tubuhnya yang telanjang membuat kulitnya yang berkeringat tampak berkilau.
Selalu mempesona, bisik hati Lylia.
“Vier!”
“Masuklah. Sejak kapan kau bangun?” Xavier menoleh dan mengangguk dengan senyum menyadari kehadiran sang istri.
“Setengah jam yang lalu.”
“Lapar? Aku sengaja meminta pelayan tidak membangunkanmu. Kau masih lelah dan butuh istirahat,” kata Xavier mematikan mesin treadmill dan menyahut handuk untuk mengusap wajahnya.
“Kenapa tidak bangunkan aku. Nanti keluargamu pikir aku pemalas,” kata Lylia. Walaupun memang sebenarnya dia memang pemalas, tetapi itu tak terjadi setiap hari. Selama hidup sederhana, dia tetap melayani suaminya dengan baik meskipun kadang ada beberapa pekerjaan yang tertunda.
“Tidak akan ada yang berani mengomentari dirimu.”
__ADS_1
Lylia menggeleng sebagai bentuk tidak setuju.
“Ada dan kau tahu siapa orangnya.”
“Abaikan saja. Dia tidak penting.” Xavier tahu maksud sang istri adalah Odette. Wanita tua itu selalu saja mencari gara-gara dan mengomentari apa pun yang dilakukan Lylia.
“Kukira kau akan mulai ke kantor hari ini.”
“Tidak. Besok saja.”
Xavier mengajak Lylia kembali ke kamar dan segera membersihkan tubuhnya yang berkeringat.
“Kita kembali ke penthouse hari ini.”
Lylia mengangguk dengan antusias. Lebih baik di penthouse kesepian daripada di rumah mewah ini, tetapi selalu terintimidasi oleh orang-orangnya.
—
“Mau jalan-jalan dulu?” tawar Xavier saat mereka dalam perjalanan.
“Tidak. Aku sudah ada janji dengan kakek. Beliau akan datang ke penthouse, tidak masalah, kan?”
“Tentu saja. Apa pun yang kau inginkan, Sayang.”
Sesampainya di penthouse Lylia segera menghubungi kakeknya dan sebelum makan malam pria tua itu datang setelah mendapatkan alamat tempat tinggalnya yang baru.
“Ahh ... aku merindukanmu, Kakek.” Lylia memeluk pria tua itu dengan erat.
“Kakek juga merindukanmu, Sayang.”
Federick menepuk bahu Xavier pelan dengan senyum bangga.
Setelah makan malam bertiga, mereka bersantai di ruang televisi. Lylia merengek meminta kakeknya untuk menginap. Rengekan manja yang sudah cukup lama tak terdengar di telinga Federick. Mau tak mau demi menyenangkan hati cucu kesayangannya dia mengalah.
“Itu baru kakekku!” ujar Lylia dengan senyum penuh kemenangan.
“Ohh jadi jika kakek tidak menginap. Pria tua ini bukan kakekmu lagi? Berani sekali,” balas Federick pura-pura marah.
“Selamanya aku adalah cucumu. Meskipun kau menolaknya aku akan tetap bertahan untuk menjadi kesayanganmu.” Dengan senyum jahil Lylia mengedipkan mata menggoda.
__ADS_1
“Oh ya, aku lupa ... sejak kemarin ibu dan Karina menghubungiku.”
Federick tampak malas menjawab, “Abaikan saja.” Tak ada sedikitpun niat Federick untuk membantu anak dan menantunya untuk membujuk Lylia. Jika diingat apa yang terjadi masih ada kemarahan di hatinya.
“Saham perusahaan menurun. Itu sebabnya mereka menghubungiku, benar begitu, kan?” tanyanya miris.
“Sudah tidak perlu membahas orang-orang tidak penting seperti mereka. Kakek tidak peduli.”
“Katakan saja apa yang kau inginkan untuk membalas keluargamu. Aku akan mengabulkannya, Ly,” sahut Xavier.
Lylia menggeleng pelan.
“Biarkan saja. Bagaimana pun mereka tetap keluargaku meskipun banyak perbuatan tak menyenangkan yang kita dapat. Aku tak ingin berurusan dengan mereka lagi, itu sudah cukup. Asal mereka tak mengusik kita lagi.”
“Bagaimana dengan ibumu?”
“Dia tetap ibu yang telah melahirkanku. Aku tak ingin menyakitinya.”
Saat Lylia menjawab kedua pria berbeda usia itu saling pandang dalam diam.
“Kau memaafkan mereka?” tanya Xavier memastikan.
“Tidak semudah itu. Kau sudah menghancurkan perusahaan mereka, itu sudah cukup sebagai peringatan agar mereka tak mengusik kita lagi.”
“Kau tak perlu bersedih lagi, Sayang. Sekarang aku adalah rumah dan juga keluarga untukmu. Meskipun seluruh dunia menolakmu, aku akan tetap berdiri di garda terdepan untukmu.” Xavier berucap sungguh-sungguh.
Federick tersenyum. Dia tidak salah menyerahkan Lylia untuk Xavier. Karena dirinya sendiri yakin bahwa Xavier adalah pria yang bertanggung jawab. Bahkan dia yakin jika Xavier berani mengorbankan nyawa demi melindungi istrinya.
“Maafkan kakek, Lylia.”
“Untuk apa! Kakek tidak bersalah sama sekali. Justru aku harus berterima kasih karena kakek aku bisa bertemu dan menikah dengan Xavier.”
“Maaf kakek tidak pernah tahu dengan apa yang kau alami di rumah utama. Seandainya kakek tahu ... semua ini tak akan terjadi.” Wajah Federick tampak begitu menyesal.
“Aku menyayangimu. Hiduplah dengan tenang, menikmati hari tua yang bahagia.”
Federick mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya malam ini begitu hangat, apalagi pelukan cucunya menambah semangat dalam dirinya.
Diam-diam Federick menyembunyikan penyakitnya. Itulah salah satu alasan yang membuatnya yakin untuk menepi dan mencari ketenangan.
__ADS_1
“Kakek sudah tenang kau berada di tangan pria yang tepat.”
To Be Continue ....