Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 16 — Dikhianati


__ADS_3

“Aku sungguh tidak percaya dengan semua yang dikatakan ibu. Benarkah?” monolog Lylia pada dirinya sendiri. Dia yang baru sadar beberapa menit yang lalu sibuk dengan pikirannya. Masih tak mau percaya bahwa Eudora bukanlah ibu kandungnya.


Lalu, siapa ibunya? Di mana keberadaannya sekarang? Pertanyaan itu bersarang di benak Lylia.


“Kau sudah sadar,” kata Xavier yang baru memasuki kamar, membuat Lylia menoleh dan mengangguk singkat. “Ada yang sakit?” tanyanya penuh perhatian.


“Tidak,” jawab Lylia lirih.


Xavier membawa Lylia ke dalam dekapannya. Mengusap lembut punggung yang rapuh itu dengan penuh kasih sayang. Meskipun tak mengatakannya, dia tahu benar jika sang istri pasti memikirkan apa yang telah terjadi.


“Jangan berpikir terlalu banyak. Siapa pun orang tuamu, itu tidak akan mengubah apa pun. Kau tetaplah istriku yang sangat berharga.”


“Kau tahu?”


“Kakek pernah mengatakannya.”


Seketika Lylia mendorong tubuh suaminya menjauh. Matanya menatap penuh kemarahan pada suami yang telah membohongi dan menyimpan rahasia itu darinya.


“Kau tahu dan diam saja? Kenapa kau tak memberitahuku tentang kebenaran ini?” teriak Lylia sambil menatap suaminya nyalang.


Xavier membuang napas kasar, sudah menduga akan seperti ini. “Aku sudah berjanji dengan kakek untuk menyimpan rahasia ini.”


“Kau membuatku menjadi orang bodoh, tetap bertahan membela keluarga yang sama sekali tak mengharapkan aku.”


“Mengertilah ... kakek tidak ingin kau terluka.”


Lylia menggeleng dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. “Tapi pada akhirnya, aku akan terluka, ini hanya masalah waktu saja.”


“Semua orang menipuku, bahkan kau pun melakukan hal yang sama. Lalu di dunia ini, siapa yang harus aku percaya? Orang-orang yang mengatakan menyayangiku, menyembunyikan fakta menyakitkan.”


Xavier ingin menjelaskan, tetapi Lylia mengusirnya. Karena tak ingin memperpanjang masalah, dia memilih mengalah dan membiarkan istrinya untuk menenangkan diri.



“Gord Darel Bailey!” teriak Henry keras membentak putranya.


“Ada apa, Dad? Bicaralah perlahan. Telingaku tidak tuli,” ucapnya sarkas.


“Kau lihat, Xavier sudah kembali dan kita akan dalam masalah besar. Lakukan sesuatu!”


“Kau, Dad. Bukan aku ataupun kita. Karena aku tak pernah menyetujui apa pun yang kau lakukan,” koreksi Gord malas.


“Anak kurang ajar! Kau memang tidak berguna. Selalu saja seperti ini. Itu sebabnya kau tak bisa mengambil hati kakekmu. Kau sudah dewasa, Gord. Belajarlah bertanggung jawab agar kakek melihatmu pantas bersanding dengan Xavier.”

__ADS_1


Gord terkekeh sinis. “Sudah kukatakan, Dad. Aku tidak akan melakukan apa pun yang kau katakan. Aku bertindak untuk diriku sendiri dan jangan harap bisa mengaturku.”


Henry membanting pintu kamar putranya dengan keras. Emosi selalu naik ketika berhadapan dengan sang putra yang selalu menentangnya.


“Anak itu benar-benar tidak bisa diatur. Menyesal aku memiliki anak sepertimu!” umpat Henry, membanting pintu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.


Sang istri yang ada di dalam kamar segera bertanya, “Apa yang terjadi?”


Henry menatap istrinya tajam dan mendorong wanita itu menjauh. “Ini karena putramu yang tidak berguna itu!”


Starlight hanya mendengus pelan. Selalu saja. Jika dalam amarahnya, Henry selalu menyebut Gord sebagai anaknya saja, seolah tak mengakui jika Gord juga lahir atas benih yang ditanamkan.


“Ada apa lagi dengannya? Kau jangan terlalu keras dan menekannya. Dia akan semakin menjauh dan tak bisa digapai nantinya.”


“Itu karena kau terlalu memanjakan anak tidak tahu diri itu.” Henry masih dikuasai amarah yang meledak-ledak.


Pria paruh baya itu jelas tidak senang dengan kembalinya Xavier ke dalam kehidupan mereka. Salah satu alasan yang pasti adalah karena kembalinya Xavier jelas merusak tatanan yang telah disusun selama ini.


Henry berharap Xavier tak pernah kembali agar perusahaan jatuh ke tangannya. Namun, nasib malang menimpanya, harapannya tak terkabul dan dia harus bersiap dengan segala konsekuensi yang akan diterima.



Lylia mendiamkan Xavier dan mengabaikan kehadiran pria itu. Hatinya masih saja dikuasai amarah saat tahu jika sang suami ternyata menyembunyikan hal besar ini sekian lama.


Xavier menghela napas pelan dan mengangguk dengan senyuman. “Aku pergi.”


Namun, Lylia tetap acuh tak acuh, bahkan tak menoleh sedikitpun.


Waktu merangkak naik dengan cepat. Lylia merasa lapar karena pagi itu dia mengabaikan sarapan dan hanya meminum segelas susu. Suara bel membuatnya bangkit dengan malas dan berjalan ke arah pintu. Sebelum membukanya, Lylia mengkonfirmasi siapa tamu yang datang.


“Saya resepsionis di lobby utama, Nyonya. Ada pesanan yang dititipkan di lobby untuk Anda.”


Lylia segera membuka pintu dan melihat seorang wanita yang mengulurkan sebuah paper bag berlogo restoran ternama.


“Titipan dari siapa?” tanyanya.


Belum juga sempat resepsionis itu menjawab, suara panggilan telepon membuat Lylia berterima kasih dan masuk. Baru juga telepon terangkat, panggilan sudah terhenti, membuatnya sedikit menggerutu kesal.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Lylia memilih kembali ke kamar dan tidur karena matanya sungguh terasa berat.



Xavier pulang terlambat karena ada rapat dadakan. Dia sudah mengirim pesan pada Lylia meski tak ada balasan apa pun.

__ADS_1


“Di mana Lylia?” tanya Xavier yang tak melihat keberadaan sang istri menyambutnya.


“Sejak sore nyonya sama sekali tidak keluar kamar, Tuan.”


“Sejak sore?” ulangnya dengan alis bertaut. “Dan kalian diam saja?!” Suara Xavier sudah naik dua oktaf dengan aura dingin.


Kedua pelayan itu menunduk takut dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.


Tanpa menunggu jawaban Xavier segera berlalu dan masuk ke kamar. Lampu kamar bahkan masih gelap dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.


“Lylia,” panggilnya seraya mencari saklar lampu. Matanya segera tertuju ke arah ranjang di mana ada tubuh sang istri masih meringkuk dengan tenang. Mendekat dan duduk di sisi ranjang sambil mengusap pipinya pelan. “Lylia, bangun. Ini sudah malam,” ujarnya dengan pelan, takut mengejutkan.


Namun, hampir lima belas menit menunggu tidak ada tanda-tanda Lylia akan bangun. Beberapa kali juga Xavier sengaja menggelitik sang istri, tetapi sama sekali tidak ada respons yang berarti. Pria itu segera berjalan keluar dan berteriak memanggil pelayan.


“Apa yang Anda butuhkan, Tuan?” tanya salah satu pelayan dengan kepala menunduk, takut dengan reaksi sang tuan yang tampak marah.


“Apa yang terjadi dengan istriku?!” Suaranya menggelegar, mampu merusak gendang telinga siapa pun andai itu diteriakkan tepat di telinga.


Pelayan itu tampak bingung dan semakin menunduk takut. “Nyonya baik-baik saja, Tuan. Beliau tidak mengeluhkan apa pun dan pamit tidur karena mengantuk. Hanya itu yang saya tahu karena nyonya langsung masuk ke kamar,” jelasnya dengan gemetar.


“Apa yang dia lakukan seharian ini?”


“Nyonya melakukan kegiatannya seperti biasa, Tuan. Setelah itu saya pergi berbelanja.”


“Panggil dokter!” perintah Xavier dengan wajah semakin dingin dan auranya tampak mengerikan.


Setelah pelayan itu pergi, datang pelayan yang tampak lebih muda. Dia menghadap Xavier dan mendapatkan pertanyaan yang serupa.


Di penthouse ini memang hanya ada tiga pelayan. Namun, salah satunya tengah libur dan pulang ke rumah keluarganya.


“Nyonya menikmati makan siangnya dari Anda. Setelah itu —”


“Apa!” teriak Xavier sekali lagi membuat pelayan muda itu semakin gemetar. “Makan siang apa?”


“Bukankah Anda mengirim makan siang untuk nyonya?” tanya pelayan itu dengan ekspresi bingung.


“Sialan!”


Seketika itu juga Xavier kembali ke kamar dan memeriksa keadaan Lylia.


Untuk memastikan sesuatu.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2