
Suasana ruangan rapat itu agak memanas setelah sang pengacara—Cannor Meyer membacakan surat wasiat pelimpahan saham untuk ketiga cucunya.
Mereka bertanya-tanya, mengapa saham yang mereka terima tidak sama.
Mengapa hanya cucu kedua Federick yang menerima hampir sebagian besar.
Banyak pertanyaan muncul di benak mereka. Namun, tak pernah benar-benar terucap seperti yang diinginkan.
Semua orang yang ada di sana pun bisa menyadari jika tatapan kakak beradik bersaudara itu tidak ramah sama sekali. Ada gurat permusuhan di antara mereka.
Ketika Lylia memilih bangun dari kursinya, dia langsung memperkenalkan diri dengan suara tegas dan tenang.
“Saya selaku pemilik saham terbesar di perusahaan ini, tetap akan menunjuk Tuan Andre Rain Meyer sebagai CEO,” ujarnya tegas.
“Tidak bisa!” balas Alice ikut berdiri dengan cepat. “Saya tidak setuju!”
Lylia tak terkejut sama sekali. Dia yakin Alice dan Karina tidak akan rela melepas jabatan itu untuk diserahkan ke orang lain.
“Dia hanya orang luar yang sama sekali tidak berhak ada di posisi itu!”
“Benar. Tapi orang luar itu sudah membuktikan dia mampu dan bisa menjadi pemimpin. Jika bukan Tuan Rain, apa Anda punya kandidat lain, Nona Pertama Richards?” sahut Lylia dengan senyum samar yang membingkai sudut bibirnya.
“Silakan jika Anda tidak setuju dengan keputusan saya. Silakan pilih kandidat yang kalian punya? Biarkan pemegang saham yang lain juga memilih. Tapi saya akan tetap menunjuk Tuan Rain sebagai pilihan.”
“Atau mungkin Nona Pertama dan Kedua Richards ingin duduk di posisi itu?” lanjut Lylia dengan senyum mengejek.
Tampak kedua bersaudara itu mengepalkan tangan. Wajahnya tampak memerah karena malu. Meski mereka ingin, siapa yang akan menjadi pendukung mereka yang minim pengalaman.
“Benar. Selama ini Tuan Federick sudah percaya dan memilih Tuan Rain, itu artinya beliau memang mampu dan bisa mengemban tugas ini.” Salah satu pemegang saham menjawab dengan yakin. Dia ikut menyuarakan Rain untuk tetap menduduki posisi CEO.
“Saya juga ikut dengan Tuan Rain. Beliau sudah membuktikan mampu dan memberi perusahaan ini keuntungan,” lanjut yang lain menimpali.
Celetukan seseorang pria paruh baya dengan kumis tebal membuat suasana semakin ricuh saat dia melemparkan tanya pada kedua bersaudara Richards. “Jika Nona Pertama dan Kedua Richards ingin menduduki posisi CEO. Pengalaman apa yang Anda miliki? Jelas kami ragu dan tak ingin merugi hanya karena kalian tidak kompeten.”
“Anda sama saja dengan menghina kami, Tuan!” Tidak terima, Karina langsung bangkit sambil mengarahkan jari telunjuknya.
“Saya tidak menghina, saya di sini bicara sesuatu yang rasional. Hanya karena Anda cucu Tuan Federick bukan berarti kami akan percaya begitu saja. Selama ini kalian berdua tidak memiliki pengalaman dalam dunia bisnis. Track record kalian tidak pernah tertulis. Jika kami memilih Anda, bukankah kami mendorong diri sendiri dalam kehancuran? Kecuali jika Nona Kedua Richards yang menunjuk diri, mungkin kami bisa mempertimbangkan beliau. Jelas karena pengalaman dan track record yang baik dalam memenangkan setiap tender yang menjajikan,” jelas pria itu dengan tenang. Pemilihan katanya meski sopan tetap membuat dua bersaudara itu merasa direndahkan.
Mendengar penjelasan panjang lebar dari pria itu, semua orang setuju. Pada akhirnya semua orang tetap memilih Rain sebagai pemimpin, berdasarkan jumlah suara terbanyak.
Rapat berakhir meski kedua bersaudara itu tak terima. Namun, jelas mereka kalah jumlah dan tak memiliki dukungan.
Lylia tersenyum tipis menatap ke arah dua saudarinya.
“Kau benar-benar kurang ajar, Lylia.” Alice menatap tajam.
“Kau memang berniat mempermalukan kami. Benar, kan?” Karina ikut angkat suara.
__ADS_1
Lylia menggeleng tanpa mempedulikan dua bersaudara itu. Dia melewati mereka begitu saja. Namun, cekalan tangan Alice membuat langkahnya terhenti.
“Jangan menyentuhku, Nona Pertama Richards!” sentak Lylia dengan kasar hingga pegangan itu terlepas. Dia menatap pergelangan tangannya yang memerah karena cengkeraman Alice.
“Menjauh dariku atau aku akan benar-benar menghancurkan keluarga kalian tanpa sisa. Jika aku diam, itu artinya aku masih berbaik hati. Jadi jangan coba-coba memancing kemarahanku, Nona-Nona!”
—
Xavier yang tengah berkutat dengan pekerjaan menoleh saat mendapati pintu ruangannya terbuka. Sosok pria dengan senyum menghiasi bibirnya muncul kemudian.
“Ada apa?” tanya Xavier langsung pada intinya.
“Apa kau tak ingin mempersilakanku duduk lebih dulu? Aku tamu di sini,” ujarnya sambil mengamati sekitar.
“Sayang sekali kau bukan tamu yang diundang. Keberadaanmu bahkan membuatku sakit mata,” balas Xavier dingin.
“Xavier, ayolah. Jangan memperlakukan saudaramu seperti ini,” balas pria itu pelan.
“Saudara? Kita tidak memiliki hubungan darah, jika kau lupa,” balas Xavier dengan senyum mengejek.
Meski amarah coba diredam, tetapi gesture yang ditunjukkan pria itu tak dapat disembunyikan. Tiba-tiba wajahnya tampak pias dengan kedua tangan mengepal.
“Jaga batasanmu. Kau bukanlah anggota Keluarga Bailey! Kau hanya orang luar yang kebetulan ada karena kehadiran nenekmu.” Suara Xavier lebih dingin. Dia mengucap setiap kalimatnya dengan penuh penekanan.
“Zilong Dominic, dari namamu yang tak menyandang marga Bailey, seharusnya kau sadar diri dan tak terlalu ikut campur dalam urusan inti keluarga. Ingat siapa dirimu dan jaga batasanmu!”
Niat hati ingin memprovokasi Xavier, justru dirinya sendiri yang terprovokasi.
“Aku pasti akan membalasmu suatu saat nanti,” gumamnya pelan dengan kaki yang terus melangkah.
Xavier tersenyum penuh arti menatap kepergian pria itu. Dia memanggil Jensen masuk ke ruangannya.
“Bagaimana?”
“Tikus sudah mengambil ikannya, Tuan.”
“Bagus!” Xavier menyeringai. “Sebentar lagi mereka pasti akan bertindak.”
“Ini laporan rekening koran yang Anda minta. Semua aliran dana benar tertuju pada satu orang.”
Xavier mengangguk dan menerima berkas itu lalu berkata, “Bagaimana dengan istriku?” Mengalihkan pertanyaan lain.
“Nyonya mampu membungkam mulut kedua kakak beradik Richards.”
Senyum Xavier semakin mengembang sempurna. “Istriku memang luar biasa!”
—
__ADS_1
Pukul delapan malam, Xavier membawa Lylia keluar makan malam. Sudah cukup lama mereka tak memiliki waktu berdua seperti sekarang.
Banyak hal yang terjadi silih berganti. Melewati keadaan demi keadaan yang berbeda. Xavier ingin membuat Lylia tahu, jika dia tidak berubah meski keadaan tak lagi sama.
“Ini indah sekali, Vier,” ujar Lylia berbinar.
Xavier membawa Lylia ke salah satu cafe outdoor yang telah disewa hanya untuk mereka. Menyulap cafe tersebut dengan berbagai dekorasi indah yang memanjakan mata.
Kebetulan bunga di taman itu tengah bermekaran, hingga aroma harum alami menguar di indera penciuman.
Di dekat danau buatan, ada satu meja bundar dan dua kursi yang telah dihias dengan sangat cantik.
Lylia tersenyum ke arah suaminya. “Terima kasih.”
Xavier menggenggam tangan sang istri dan menuntunnya dengan lembut menuju kursi. Masih ada kejutan lain yang menanti.
“Bunga yang cantik untuk seseorang yang istimewa.” Xavier mengulurkan sebuket bunga yang membuat mata Lylia terbelalak lebar.
“Juliet rose,” lirihnya pelan.
Juliet rose atau mawar juliet termasuk bunga mawar yang sangat langka. Harganya sangat fantastis hanya untuk setiap tangkai. Mawar dengan warna yang super lembut dan aroma yang khas menjadi pesona yang menyihir banyak orang. Termasuk Lylia sebagai pecinta tanaman dan bunga.
Mawar ini bentuknya unik. Kelopaknya terlihat seperti pusaran yang dibungkus dengan kelopak yang lebih kokoh. Warnanya persik lembut dan terlihat sangat indah dan anggun.
Juliet rose merupakan bunga langka yang tidak bisa mekar di mana saja. Karenanya butuh waktu lebih dari puluhan tahun untuk memanen si mawar ini. Istimewanya lagi, bunga ini hanya bisa mekar dengan bantuan badai. Jika tidak terjadi badai, maka bunga ini akan gagal mekar dan tidak bisa dipanen.
Lylia tidak meragukan jika Xavier rela mengeluarkan jutaan dollar hanya untuk satu buket ini.
“Kau suka?”
“Sangat.”
Tiba-tiba terdengar suara angin berembus sedikit kencang. Saat mendongak Lylia dikejutkan dengan kehadiran helikopter yang berada di atas mereka meski jaraknya cukup tinggi.
Dari atas sana. Muncul kelopak mawar merah yang berjatuhan. Hembusan angin menerbangkan dan membuat hujan bunga di sekitar mereka.
Lylia tertawa pelan. Dia bangun dan mendekati Xavier. Mengajak pria itu untuk berdansa di bawah taburan bunga seperti pengantin baru.
Belum selesai keterkejutan itu, ada beberapa drone muncul dan bergerak di atas sana.
“Kejutan lagi?”
Xavier hanya mengangguk dan tersenyum. Dia memeluk Lylia semakin erat dan berbisik, “Lihat ke atas.”
Stay with me, Lylia. I Love U~
“I love you too, Vier!”
__ADS_1
To Be Continue ....