
Di sebuah rumah sakit tampak ketegangan terjadi. Satu korban kecelakaan tampak bersimbah darah dengan beberapa luka yang cukup mengerikan.
Tubuh wanita itu segera dibawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan pertama.
Sementara keluarganya, datang satu jam kemudian dengan wajah panik dan khawatir.
“Korban kecelakaan atas nama Nyonya Eudora Tanu Wijaya masih berada di UGD,” jawab petugas informasi.
Alucard segera bergegas mencari ruang UGD yang dimaksud. Baginya waktu tampak begitu lamban, sudah menunggu cukup lama tetapi belum ada pihak dokter atau perawat yang keluar dari sana.
“Keluarga Nyonya Wijaya,” ucap perawat yang baru keluar dari ruangan.
“Saya suaminya. Bagaimana kondisinya?”
“Nyonya Wijaya mengalami patah tulang karena benda berat yang menimpa sehingga terjadi pergeseran tulang. Dokter akan melakukan operasi, jika Anda setuju silakan isi form persetujuan ini.”
Alucard menerima kertas-kertas itu dan mengangguk. “Lakukan yang terbaik untuk istriku.”
Setelah mengisi data diri, Alucard membawa berkas persetujuan itu ke arah administrasi sekaligus membayar tagihannya.
Hampir dua jam menunggu, tetapi operasi belum juga usai. Alucard mencoba menghubungi kedua putrinya untuk memberikan kabar. Pasalnya berita tentang kecelakaan Eudora sudah tersebar luas di media, tetapi satu pun putrinya tak ada yang bertanya atau mengkonfirmasi kebenaran tersebut.
“Halo, Alice! Ayah hanya ingin memberi kabar jika ibumu kecelakaan. Saat ini masih dilakukan operasi karena tulangnya patah. Kau bisa datang dan temani ayah?” Alucard berkata langsung begitu panggilan diterima.
“Bagaimana kondisinya?” tanyanya dengan suara yang cukup datar. Tak ada getar kecemasan yang terdengar.
“Ayah juga belum tahu.”
“Maaf, Ayah. Aku dan suamiku sedang di luar kota menghadiri pertemuan penting. Aku akan datang dua atau tiga hari lagi jika ada waktu senggang. Untuk saat ini kami berdua masih sibuk,” jawab Alice terdengar biasa.
“Alice?”
“Maaf, Ayah.” Setelah mengatakan kalimat terakhir panggilan langsung terputus begitu saja. Membuat Alucard menghela napas panjang dan berganti menghubungi anak bungsunya.
“Ada apa, Yah?” Suara Karina terdengar ringan.
“Kau di mana, Rina?”
“Aku di kantor suamiku. Ada apa?”
“Ibumu kecelakaan. Sekarang masih ada di rumah sakit sedang dilakukan operasi. Kau bisa datang tidak? Ayah sendirian.” Alucard memelankan suaranya diakhir kalimat.
__ADS_1
“Aku tahu. Beritanya sudah beredar di media,” jawab Karina.
“Jadi apa kau tidak ingin datang menjenguk ibumu?”
“Lain kali saja aku datang. Bruno masih marah pada ucapan ayah terakhir kali,” balas Karina segera mematikan panggilan.
Hanya helaan napas yang keluar dari bibir Alucard. Pria itu tampak menekan kemarahan di dada supaya tidak melebar ke mana-mana. Rasa kecewa pada kedua putrinya tak bisa terbendung lagi. Mereka yang dilimpahi banyak perhatian dan materi justru mengabaikan mereka—di saat dibutuhkan.
Di sisi lain, Karina tampak menghela napasnya dalam-dalam. Hubungannya dengan orang tuanya tidak ada masalah, hanya saja Bruno begitu sakit hati akibat ucapan Alucard yang mengatainya suami tak berguna.
Semenjak terakhir kali mereka keluar dari rumah, bahkan Karina sudah tak pernah menghubungi orang tuanya lagi karena Bruno melarangnya.
Sementara hubungan persaudaraannya tampak merenggang akibat Alice menolak membantu Karina. Itu sedikit membuat Karina yang terbiasa mendapat apa pun merasa kesal hingga mengatakan sesuatu yang membuat Alice marah.
Keluarga Richards yang selalu kompak pada akhirnya terpecah secara perlahan, akibat lisan yang tak terjaga dengan benar.
—
Eudora yang terbaring lemah mulai membuka matanya perlahan. Tubuhnya remuk redam dan sakit di sekujur tubuh. Meringis pelan saat merasakan kepalanya terasa berat.
Kepalanya mengedar mengamati ruang sekitar. Infus tertancap di punggung tangan dan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.
Ingatannya kembali berputar tentang apa yang menimpanya. Saat itu dirinya tengah dalam perjalanan untuk melakukan sesuatu, tetapi di tengah jalan tiba-tiba ban mobilnya pecah hingga laju kendaraan dengan kecepatan tinggi itu sedikit oleng hingga terjadilah kecelakaan tersebut.
Ban pecah? Itu mustahil terjadi karena semua mobil mewahnya selalu mendapatkan perawatan berkala.
“Kau sudah sadar ternyata. Bagaimana keadaanmu?” tanya Alucard yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Setelah operasi dan keadaannya stabil, dokter memindahkan pasien di ruang rawat seperti permintaan keluarga. Tentu saja ruangan VVIP dengan fasilitas seperti hotel berbintang lima.
“Seperti yang kau lihat. Aku masih hidup,” jawab Eudora sinis, meski dengan suara yang amat lirih.
“Baguslah. Polisi masih menyelidiki kecelakaan yang menimpamu. Dugaan pertama adalah kelalaian sopir karena mengemudi di atas rata-rata.”
“Ada seseorang yang ingin membunuhku,” ujar Eudora membuat Alucard menoleh.
“Jangan berlebihan, Eudora!” jawab Alucard sambil menggelengkan kepala.
“Aku mengatakan kebenaran. Ban mobil yang kupakai tiba-tiba pecah hingga aku harus berakhir di ranjang pesakitan ini. Kau pikir, itu masuk akal?”
“Tapi dari olah kejadian TKP tak menemukan bukti yang kau katakan. Mereka hanya melihat gesekan ban mobil mendekati area kejadian.”
__ADS_1
“Itu tidak mungkin. Aku yakin ada orang yang ingin membunuhku!” kekeuh Eudora.
Alucard tak menanggapi. Dia memilih istirahat di dalam kamar yang tersedia. Berdebat dengan Eudora tak akan menghasilkan apa pun. Wanita itu tak akan mau mengalah dan tetap pada pendiriannya.
Eudora kembali memejamkan mata saat rasa pusing menyergap. Dia yakin jika ada seseorang yang ingin mencelakainya.
Tapi siapa?
—
Sejak pagi senyum Lylia tak luntur menghiasi bibir, wajahnya begitu berseri dan tampak bersinar. Sesekali bibirnya bersenandung pelan ketika bermain dengan dua hewan peliharaannya.
Dua hewan yang diminta tadi diberi nama Kitty dan Doggie. Sedikit aneh ketika kucing jantan harus diberi nama ‘Kitty’. Namun, siapa yang berani protes dengan itu. Tidak ada!
Lylia keluar dari ruang ganti. Sedikit terkejut melihat kehadiran Xavier yang sudah duduk di tepi ranjang, menatapnya intens dan penuh selidik.
“Kau ... tumben sekali sudah pulang,” ujarnya pelan.
“Eudora kecelakaan.” Bukannya menjawab pertanyaan, justru informasi yang diberikan oleh Xavier.
“Aku tahu! Beritanya ramai dibahas media,” jawab Lylia.
Xavier masih menatap Lylia. Mencoba menyelami kedalaman hati dan isi kepala Lylia. Namun, semakin hari Lylia menunjukkan perubahan yang jelas.
“Ly!”
Jelas saja sikap Xavier yang menuntut membuat Lylia tidak nyaman. “Apa sebenarnya yang ingin kau ketahui?”
“Apa hubunganmu dengan kecelakaan itu?”
Lylia menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Kau menuduhku?”
“Kau dengan jelas tahu apa yang kumaksud Lylia!”
“Diakui atau tidak, aku tetap keturunan Keluarga Richards. Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan, Vier!” jawab Lylia datar.
Tak lama tawa Lylia terdengar riang tanpa beban. Wajah yang tadinya terlihat jenaka, berubah dengan cepat. Matanya menatap Xavier tajam, bibirnya menyeringai penuh arti.
“Jangan lupakan siapa ibuku. Aku menuruni darah yang sama dengannya!”
Mata Lylia mengerling ke arah Xavier yang hanya diam membeku.
__ADS_1
To Be Continue ....