Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 31 — Wanita penghangat ranjang


__ADS_3

“Aku kesal sekali. Wajahnya tak sepolos sikapnya. Ingin sekali aku memukul wajahnya itu,” gerutu Olivia Ruby dengan kemarahan yang tak terbendung.


Wanita itu sungguh merasa harga dirinya jatuh saat Xavier membandingkan dengan istrinya.


Di depan banyak wanita sosialita dia harus rela dihina sampai untuk mengangkat wajahnya saja dia tak mampu.


“Olivia?”


Olivia Ruby terkejut mendapati sang kekasih ada di dalam apartemennya. Duduk dengan kaki terangkat dan laptop dalam pangkuannya.


“Kau di sini. Sejak kapan?”


“Kenapa wajahmu kesal?” Bukannya menjawab pria itu justru melemparkan tanya lain.


“Ini semua karena istri Xavier, dia berani-beraninya menghina dan mempermalukan aku di depan umum,” sungutnya kesal, melempar asal tas belanja dan duduk di samping sang kekasih. “Kau harus membalasnya. Aku sangat membencinya,” geramnya.


“Dia sombong sekali. Aku benar-benar muak dengan wajahnya yang kelihatan polos itu,” raungnya masih mengeluarkan kekesalan.


“Kau harus membalasnya, Zilong! Aku tidak mau tahu, kau harus membuat wanita itu membayar akibat karena telah merendahkanku.”


Zilong Dominic yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya, “Sebenarnya ada apa? Kenapa sampai kau berurusan dengan istri Xavier?”


Olivia Ruby menceritakan kejadian tadi, tetapi dalam versinya yang dilebihkan. Seolah dia hanya korban yang memang telah ditindas.


Zilong Dominic mengusap bahu kekasihnya. Meredam kemarahan wanita itu agar tak terus mengoceh dan membuat telinganya berdengung sakit.


“Tenang saja. Aku pasti akan memperingati wanita itu,” ucapnya.


Olivia Ruby bersandar di bahu Zilong Dominic dan menghirup aroma tubuh pria itu. Sambil memejamkan mata, tangannya bergerilya di dada bidang pria itu. Perlahan tetapi pasti, tangan lentik itu dengan lihai membuka kancing kemeja sang kekasih dan mencumbunya.


Suasana panas terasa sekali di dalam ruang tamu itu. Pakaian mereka berceceran di lantai, terdengar suara-suara kenikmatan saling bersahutan.


Decapan lidah dan lenguhan penuh gairah mengiringi penyatuan panas mereka.


“Aku akan kembali ke kantor. Kau baik-baik saja?” tanya Zilong yang telah kembali rapi.

__ADS_1


Di atas sofa, seorang wanita terkulai tak berdaya dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang yang menutupi.


“Pergilah. Aku akan tidur setelah ini,” sahut sang wanita lirih tanpa membuka mata.


Zilong Dominic meninggalkan apartemen kekasihnya dengan wajah penuh kepuasan. Setelah hampir seminggu dia tak melakukan penyaluran biologis, akhirnya hari ini tiba juga. Pusing di kepala agaknya sedikit terangkat setelah pelepasan yang terjadi.


Bibirnya tersenyum sinis mengingat cerita sang kekasih tentang bagaimana sikap istri Xavier.


“Lylia memang tidak salah. Kau bahkan tak akan bisa sejajar dengannya. Dia wanita terhormat sementara kau tak lebih dari wanita simpanan,” akunya jujur.


Sejak awal Zilong Dominic tahu jika Olivia Ruby tak lebih dari wanita rendahan yang bisa lari ke pelukan pria mana saja. Dia wanita gila yang akan


Didukung wajah cantik dan tubuh seksi serta pelayanan yang memuaskan, siapa yang akan menolak wanita sepertinya?


Zilong Dominic bukan pria bodoh yang akan percaya begitu saja dengan ucapan Olivia Ruby. Salah besar jika wanita itu mengira dia akan bodoh seperti Xavier yang mudah ditipu karena mengandalkan perasaan.


Sebagai pria dewasa dengan kehidupan bebas, dia lebih suka memakai satu wanita dengan service memuaskan. Dibanding harus setiap malam berganti wanita yang hanya akan memberinya citra buruk.


Jika Olivia Ruby menganggap Zilong Dominic adalah aset, maka bagi pria itu Olivia Ruby hanyalah pelacur tempatnya menghangatkan ranjang.


Bagi Zilong Dominic, wanita yang bisa menjadi istrinya haruslah wanita terhormat dan bisa menjadi pendukungnya.


Bukan wanita yang bahkan keluarganya telah jatuh miskin.



Setelah menjalani serangkaian perawatan yang menyakitkan, akhirnya Eudora diizinkan pulang setelah dipastikan kondisinya lebih baik.


Sejak kecelakaan dan sebelah kakinya lumpuh, wanita itu agaknya sedikit pendiam. Mulutnya pun tak lagi setajam pedang yang baru diasah. Wanita itu lebih banyak diam dan terlihat tertekan dengan kondisinya.


Belum lagi kedua putrinya yang sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Alice dan Karina berjanji akan datang, tetapi sampai berminggu-minggu dirawat, tak ada kunjungan dari mereka. Sebagai ibu tentu hati Eudora terluka melihat perlakuan anak yang selalu disayang dan dimanja.


Mereka bisa datang ke perusahaan saat ada rapat, tetapi tak bersedia mengunjungi ibunya yang ada di ranjang pesakitan. Bahkan untuk menghubungi dan bertanya kabar saja tidak. Alice dan Karina seolah lupa akan keberadaan orang tuanya.


“Kau mau mampir ke suatu tempat?” tanya Alucard menatap Eudora yang justru terkekeh mendengar pertanyaannya.

__ADS_1


“Apa kau ingin mempermalukanku? Menunjukkan ke khalayak umum jika istrimu kini menjadi wanita cacat dan tidak berguna? Begitu, maksudmu?” pekiknya dengan wajah pias.


“Bukan begitu maksudku, mungkin kau bosan dan ingin menghirup udara. Katakan saja ke mana kau ingin pergi, aku pasti akan menemani,” jelas Alucard dengan helaan napas pelan.


“Sekarang aku telah cacat dan tak berguna. Kau pasti akan mencari Ling Hua lain di luar sana,” tuduhnya.


Alucard memejamkan mata, dia tak ingin terpancing dan berakhir mendebat istrinya. Umur tak lagi muda, meski keadaan tak lagi sempurna, dia berharap di masa tua bisa menuai kedamaian bersama. Meski Alucard tampak terlihat tampan dan bugar dari usianya, sama sekali tak ada niat untuk bermain atau mencari wanita lain.


Andai mau mungkin banyak wanita muda yang butuh materi akan dengan sukarela menjadi simpanannya. Namun, Alucard tak ingin mengulang kesalahan yang sama dan menyebabkan kehidupan baru yang tak bersalah menjadi korban.


Dia tak ingin ada Lylia lain di luar sana yang akan merasakan penderitaan dan kepedihan yang sama.


Pernah suatu ketika, Alucard bermimpi tentang Ling Hua yang menatapnya sambil menangis darah. Entah apa maksudnya, dia menyimpulkan jika Ling Hua merasakan kepedihan putrinya.


Sejujurnya Alucard tak pernah menaruh perasaan sedikit pun terhadap Ling Hua. Kala itu keduanya sama-sama dijebak hingga terjadi malam panas yang tanpa disadari menumbuhkan benih di rahimnya.


Sebagai bentuk tanggung jawab akhirnya Ling Hua diungsikan di mansion Federick yang sudah tahu semuanya. Ling Hua berjanji akan menghilang setelah bayinya lahir dengan selamat. Namun, belum sempat itu terjadi Eudora mengetahui semuanya hingga muncul bibit-bibit kebencian di sana.


Ling Hua adalah sekretaris Federick. Namun, saat pria itu mundur dari jabatan otomatis wanita itu menjadi sekretarisnya.


Kepercayaan yang diberikan penuh oleh Eudora pada keduanya, dikhianati dengan menyembunyikan fakta kelam itu.


Lalu, siapa yang patut disalahkan?


“Kau terlalu berpikir jauh, Dora. Ubahlah pikiranmu menjadi positif, jangan selalu berpikir buruk.”


“Aku pernah menaruh kepercayaan lebih padamu, tapi kau mengkhianatinya.” Eudora menyusut air mata yang menetes tanpa disadari.


“Tidakkah kau bisa berdamai dengan keadaan? Meski tak bisa memaafkan, setidaknya jangan pernah mengungkitnya lagi. Aku, kau dan Lylia sama-sama menahan luka meski dalam versi yang berbeda.”


“Dia memang pantas mendapatkannya. Aku justru berpikir, Lylia adalah sebuah kesialan yang dititipkan untuk mengacaukan keluarga kita. Seharusnya dia menyusul ibunya saja, itu mungkin bisa mengobati sedikit luka hatiku dan memaafkan apa yang telah terjadi.”


“Eudora!!!” bentak Alucard dengan napas tersengal.


Sepertinya membiarkan Eudora diam tertekan lebih baik dibandingkan harus banyak bicara yang justru membuatnya tertekan.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2