
Suasana makan malam itu tampak tenang karena Lylia sama sekali tak merespons apa pun ucapan yang dilontarkan Eudora..
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Namun, sepasang suami istri itu masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka masih mengikuti alur apalagi yang akan dilakukan keluarga ini.
“Sudah tidak ada rahasia lagi yang tidak kau ketahui, Lylia. Benar, jika kau memang bukan putri Eudora, tapi kau tetaplah putriku.”
“Kau hanya anak yang tak diinginkan, Lylia. Kehadiranmu adalah kesalahan, kau harus tahu itu!” sahut Eudora menyela.
“Jaga mulutmu, Eudora. Bagaimana pun Lylia tetap putriku, ada darahku yang mengalir dalam tubuhnya.”
Eudora tesenyum sinis. “Ya bersama wanita rendahan itu.”
Lylia hanya menatap pemandangan itu datar. Kedua tangannya mengepal erat. Masih mencoba menahan sesak dan amarah yang telah menguasai hati.
“Diamlah dulu!” bentak Alucard menatap tajam istrinya.
“Berani sekali kau membentakku!” Suara Eudora tak kalah tinggi. Wanita itu menatap tidak terima ke arah suaminya.
“Miris sekali. Kau mengundangku hanya untuk menyaksikan drama pertengkaran kalian, Tuan Richards?” ucap Lylia dengan wajah menghina. Dia tak lagi memanggil pria itu dengan sebutan ayah.
“Benar-benar tidak sopan sekali. Yang kau panggil Tuan Richards itu adalah ayahmu sendiri, Lylia.”
“Apa peduliku?” Lylia mengangkat sudut bibirnya sinis. “Aku bahkan lupa jika kalian tak pernah benar-benar menganggap kehadiranku ada. Ayah ... aku bahkan lupa jika peranmu sudah lama mati dalam hidupku.”
“Lylia!”
“Jangan berani-beraninya membentakku, Tuan Richards!” Lylia menentang tatapan tajam Alucard.
Semua orang tercengang melihat keberanian Lylia. Dalam benak mereka semua berpikir, jika keberanian Lylia muncul karena dukungan suaminya.
“Jika kau menganggapku putrimu, kau tak akan membiarkan istrimu melakukan ketidakadilan padaku. Kau menyaksikan, kau tahu, tapi kau selalu diam dan membiarkan aku bertanya-tanya. Mengapa ayah dan ibu selalu mengabaikanku. Meraka menyayangi Alice dan Karina, tapi kenapa tidak denganku? Kini semuanya sudah jelas, karena aku bukan anak yang diinginkan. Kehadiranku hanya kau anggap kesalahan. Jika pun aku lahir dari kesalahan, seharusnya kebencianmu jangan kau lampiaskan padaku. Aku hanya seorang anak yang tak bisa meminta dari orang tua mana akan dilahirkan, dengan cara apa dan bagaimana.”
Lylia menarik napas dalam. Wajahnya tetap datar, meskipun matanya sudah berembun menahan tangis. Dia tidak boleh menangis dan terlihat lemah.
“Bagus jika kau sadar dan tahu diri, Lylia.” Eudora semakin menatap benci ke arahnya. “Kau memang tidak bersalah, tapi karena ulah ibumu. Kehidupan keluargaku berantakan.”
“Haruskah aku yang menanggung deritanya?” balas Lylia pelan.
__ADS_1
“Seandainya ibumu masih hidup, sudah kupastikan kehidupan kalian pun tidak akan tenang. Sayang sekali ibumu justru mati dan membuat dirimu yang harus menanggung segala dosanya. Jangan selalu menempatkan dirimu seakan paling tersakiti. Kau lihat aku. Apa kau tak pernah berpikir bagaimana rasanya, bagaimana sakitnya saat aku harus merawat dan membesarkan buah cinta suamiku di tengah-tengah luka pengkhianatan. Kau pikir hanya dirimu yang terluka? Aku pun demikian, Lylia!” teriak Eudora meluapkan amarah yang bercongkol di hati.
“Sudah cukup Eudora, Lylia. Cukup! Aku tahu ini semua salah, aku minta maaf karena kesalahan yang kulakukan kau harus menanggung akibatnya. Maafkan ayahmu yang tak berdaya ini, Lylia.” Alucard menarik napas panjang, dia memejamkan mata menahan sesak yang tiba-tiba datang menyerbu dalam dada. Menekannya dengan kuat hingga membuat napasnya sedikit tersengal. “Eudora ... seribu kali maaf pun aku tahu kesalahan itu tak pernah akan kau lupa.”
“Bagus jika kau tahu dan sadar diri!” potong Eudora cepat.
Alucard hanya menggeleng pelan. Jika mengungkit tentang kesalahan di masa lalu dia selalu tak berdaya, tampak lemah di depan istri dan anak-anaknya.
“Hentikan perdebatan tak berguna ini. Kau mengundang kami bukan untuk menyaksikan dan mendengarkan ucapan tak penting ini, kan? Jadi selesaikan dengan cepat karena aku mulai bosan dengan drama ini.” Xavier menyela. Menatap semua orang dengan malas.
Alucard mengangguk.
“Sombong sekali kau. Dasar pria tidak berguna!” umpat Eudora lupa jika Xavier—menantu yang selalu dianggap sampah adalah milyarder.
Xavier hanya terkekeh pelan.
“Ini tentang ibu kandung Lylia.”
Lylia tampak menegang. Dia penasaran sekali mendengar siapa ibu yang telah melahirkannya.
Sepanjang cerita Eudora selalu menimpali dengan ucapan sinis. Sampai Alucard menyelesaikan ceritanya pun, Eudora selalu merendahkan Ling Hua yang dianggap telah menggoda Alucard.
Lylia hanya menyimak dalam diam. Sementara Xavier diam-diam tersenyum tipis saat Alucard tak menceritakan apa pun tentang asal usul ibu kandung Lylia. Itu artinya pria paruh baya itu tidak tahu apa pun.
Jika sebenarnya Ling Hua bukanlah wanita biasa.
“Sudah selesai, ayo pergi!” Xavier langsung bangkit dari duduk dan mengulurkan tangan pada Lylia.
Namun, kepergian mereka tertahan karena lagi dan lagi Eudora seperti tak pernah lelah mencari masalah.
Wanita paruh baya itu melemparkan setumpuk dokumen ke arah Lylia dengan kasar.
“Tanda tangani surat itu. Kau tak pantas mendapat apa pun dari keluarga ini. Kau tak berhak mendapatkan bagian karena kau hanya anak dari wanita yang sama sekali tak jelas asal usulnya.”
Lylia tersenyum. Saat inilah yang ditunggu. Ketika Eudora meminta sesuatu yang bukan haknya, dengan mengungkit asal usul kehadirannya.
“Kau benar-benar tidak punya malu, Nyonya Richards. Kau meminta sesuatu yang bukan hakmu, itu memalukan sekali.”
__ADS_1
“Beraninya kau!” geram Eudora.
“Kenapa? Kau bukan ibuku, tidak ada hak kau mengatur dan meminta apa pun padaku. Aku bukan anakmu, sungguh ... aku sedikit bersyukur untuk hal itu,” jawab Lylia dengan senyum samar.
“Tidak seharusnya kau berkata seperti itu, Lylia. Kau harus ingat jika ibu yang bersedia merawatmu saat ibumu mati. Inikah balasanmu padanya?” sahut Alice.
Merawatku? Sejak kecil aku bersama dengan pengasuh. Ibumu hanya peduli dengan kalian, bukan denganku. Aku ada tapi tak dianggap, hanya statusku yang terlihat, tidak dengan keberadaanku.
“Apa aku memintanya? Tidak!”
Aku tidak pernah meminta untuk lahir dan hadir di tengah-tengah keluarga ini. Jika bisa aku ingin memilih lahir dengan cinta kedua orang tua.
“Kau sungguh keterlaluan, Lylia!” Karina ikut berdiri membela ibu dan saudarinya.
“Wow! Seharusnya kalian yang tahu balas budi. Keluarga ini sudah mengorbankan banyak hal untuk anak-anak tak berguna seperti kalian,” balas Lylia tanpa rasa takut sedikitpun.
Pada kenyataannya ucapan Lylia memang benar. Paras Alice dan Karina memang cantik dengan tubuh semampai bak model catwalk, tetapi otak mereka kosong.
Sejak memasuki bangku senior high school ayah dan ibunya harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit agar mereka bisa diterima di sekolah favorit.
Mereka berdua hanya wanita yang pintar menghabiskan uang dan merongrong dengan manja.
“Wanita tidak tahu diri!” umpat Alice tak terima. Ingin maju menghampiri, tetapi suaminya segera mencegah karena tak ingin menyingung Xavier sebagai suaminya.
Hanzo cukup tahu diri untuk tak berurusan dengan Xavier yang bisa melakukan apa pun dengan kekuasaan yang dimiliki.
Lylia menantang tatapan mata Eudora. Dia mengambil berkas yang berada tepat di kakinya dan merobek kertas itu hingga tak lagi berbentuk.
“Sialan kau!”
Bibirnya tersenyum sinis dan mengandeng suaminya pergi diiringi umpatan Eudora yang tak habis-habis.
Namun, sebelum benar-benar pergi, Lylia menghentikan langkahnya di gawang pintu dan menoleh kembali pada seluruh Keluarga Richards.
“Setelah ini kita tak ada urusan apa pun lagi. Jangan mengganggu atau kalian akan terima akibatnya. Jika tak bisa berbuat baik lebih menyenangkan saling menjauh dan tak terlibat apa pun.”
To Be Continue ....
__ADS_1