
Lylia meremas ponselnya kuat. Sejak pagi Alucard tak berhenti menghubunginya. Meninggalkan pesan untuk memintanya datang ke rumah sakit.
Mungkin Alucard berpikir bahwa dia tidak tahu tentang kecelakaan yang menimpa istrinya.
Membicarakan tentang Keluarga Richards membuat luka hati Lylia kembali muncul ke permukaan. Bagaimana perilaku mereka semua padanya selama ini.
Aku masih mengingat jika kau dan istrimu telah berkorban untuk membesarkan diriku di tengah-tengah kalian. Tapi sungguh ... perilaku dan kekejaman istrimu yang membuatku seperti ini. Andai tak mengingatnya mungkin aku sudah mengirim istrimu menemui Kakek untuk meminta maaf.
Andai kau tahu, jika istrimu yang telah merencanakan pembunuhan Kakek. Apa yang akan kau lakukan?
Satu tetes air mata jatuh mengingat sang kakek yang sangat amat menyayanginya telah pergi dengan cara paling tragis.
Lylia tersentak saat menyadari ada sentuhan bulu-bulu lembut di kakinya. Saat menunduk dia bisa melihat Doggie bersimpuh di kakinya sambil menggerakkan ekornya pelan.
“Kenapa?” tanyanya sambil mengusap kepala anjing Alaskan Malamute itu.
Anjing jenis Alaskan Malamute memiliki bulu yang sangat tebal, ekor yang lebat, dan telinga yang tegak. Meski tampak besar anjing itu tampak menggemaskan.
Beginilah hari-harinya saat tak melakukan apa pun. Bosan, ya satu kata itu pasti dirasakan setiap hari. Saat suaminya pergi, Lylia hanya akan memanjakan diri bak putri raja.
Semua yang diinginkan sudah ada yang melayani.
Bersama dengan hewan peliharaannya, Lylia bisa banyak bercerita meski sebagai pendengar anjing itu tak bisa memberi jawaban apa pun.
Lylia ingin berteman dengan para pelayan, tetapi Xavier telah mengingatkan untuk tetap menjaga batasan dalam berinteraksi. Bukan memandang derajat yang berbeda, hanya saja memang itulah peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi. Bahwa pelayan dan tuannya tak boleh memiliki kedekatan apa pun.
Sekuat apa pun Lylia memaksa, justru para pelayan yang akan menerima akibatnya.
Berbeda kondisi di rumah dan di tempat Xavier. Pria dengan setelan jas mahal itu tampak menggeram marah saat ada seseorang yang menerobos ke ruangannya tanpa sopan santun.
“Xavier, izinkan aku bicara!” ujarnya dengan napas tersengal. Pasalnya dia harus melewati beberapa penjaga yang tak mengizinkannya memasuki gedung.
Yang diajak bicara hanya diam dengan tatapan tajam.
“Maafkan aku, Xavier. Aku menyesal dengan apa pun yang telah terjadi di masa lalu. Tolong berikan kesempatan lagi padaku.”
Tidak tahu malu.
“Walau waktu telah memupus hubungan kita, aku yakin masih ada sisa-sisa perasaan di dalam hatimu. Kebersamaan kita selama bertahun-tahun tak akan mungkin kau lupakan hanya dalam waktu lima tahun. Benar, kan?”
Yang tersisa hanyalah kekecewaan dan kebencian. Waktu telah menghapus semuanya, segalanya tentang dirimu tak lagi berarti untukku.
Wanita itu terus mengeluarkan bualan omong kosongnya. Xavier hanya diam dan tak menanggapi sama sekali.
“Aku masih sangat mencintaimu. Waktu telah banyak berlalu, jarak telah memisahkan, tapi namamu tak pernah lekang dalam ingatan. Kau masih menjadi seseorang yang istimewa yang mengisi singgasana.”
__ADS_1
Wanita itu memupus jarak. Berjalan semakin dekat, tetapi Xavier mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan.
“Kau sangat tidak tahu malu, Nona Roxanne,” ujar Xavier dengan senyum sinis.
“Aku melakukan kebodohan demi dirimu dan kau ... mengatakan aku tidak tahu malu. Bukankah kau sangat kejam?”
Xavier abai. Dia justru berteriak memanggil Jensen untuk mengusir lalat menjijikan di depannya. Andai waktu mampu diputar, Xavier sama sekali tak ingin mengenal atau berhubungan dengan seorang wanita bernama Miranda Roxanne.
—
“Vier, bolehkah aku pergi jalan-jalan?” tanya suara Lylia yang tengah terhubung dengan Xavier melalui panggilan telepon.
“Ke mana?”
“Aku bosan. Ingin ke salon atau ke mall. Bolehkah?” tanya Lylia penuh harap.
“Tentu. Tapi jangan jauh-jauh dari Miya. Nanti aku akan menyusul,” jawab Xavier lembut, membuat beberapa orang terkesiap mendengarnya.
“Terima kasih. Aku mencintaimu, Vier.”
“Aku lebih mencintaimu, Ly,” balas Xavier membuat semua orang yang ada di ruangan rapat tercengang.
Sejak kapan pria itu bisa bicara dengan nada selembut itu?
Ada yang memuji dan menghina diam-diam, meski hanya dalam hati.
Dulu hubungan mereka menjadi sorotan karena status Xavier yang dianggap hina. Kini hubungan mereka menjadi sorotan karena status Xavier yang tak biasa.
Begitulah kehidupan. Orang-orang hanya tahu mengomentari dan menghakimi jika ada yang tak selaras dalam bayangan atau pikiran.
“Kau dengar, kan? Suamiku memberi izin. Aku akan bersiap.”
“Baik, Nyonya,” jawab Miya patuh. Sambil menunggu nyonya mudanya bersiap, wanita itu pun menyiapkan orang-orang yang akan mengawalnya.
Setengah jam kemudian Lylia dan orang-orangnya bergegas menuju pusat perbelanjaan.
Memasuki mall, seluruh mata menatap ke arah mereka. Jelas semua orang bisa menilai jika rombongan mereka bukan orang sembarangan. Terbukti dari beberapa pengawal yang mengekor di belakangnya. Jika bukan orang penting atau berpengaruh, mana mungkin pergi dengan pengawalan ketat seperti itu.
Merasa diperhatikan Lylia menoleh ke belakang dan mengembuskan napas pelan saat lima pengawal berwajah dingin berdiri tepat di belakangnya.
“Bisakah kalian menjaga jarak dariku? Setidaknya jangan terlalu dekat agar tak menjadi pusat perhatian.”
“Tidak bisa, Nyonya.”
“Miya,” sungut Lylia dengan wajah kesal.
__ADS_1
Setelah mendapat anggukan dari Miya, lima pengawal itu mundur dan menjaga jarak dari sang nyonya.
Kaki mulai berkeliling mencari apa pun yang menarik perhatian. Memasuki satu toko ke toko lain dan keluar dengan beberapa paper bag. Berbelanja tanpa mempedulikan harga, karena Xavier telah memberinya black card yang bisa digunakan sepuasnya.
“Apa yang ingin Anda beli lagi, Nyonya?” tanya Miya yang melihat jika barang belanjaan sang nyonya sudah sangat banyak.
“Aku ingin membeli lingerie,” bisik Lylia pelan yang langsung mendapat anggukan dari Miya. Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan wanita itu. Sementara Lylia sudah tersipu saat membayangkan pria-pria berwajah datar mengikutinya di toko pakaian dalam khusus wanita.
Berada di depan toko, Lylia memperingati para pengawal untuk tak mengekor.
“Aku mau yang ini,” tunjuk Lylia pada lingerie berwarna putih yang tampak cantik dan seksi.
“Aku sudah memilihnya lebih dulu,” teriak wanita yang juga menunjuk barang yang sama.
“Lingerie itu limited dan hanya ada tiga. Dua di antaranya sudah terjual,” jelas sang pelayan.
“Aku yang lebih dulu memilihnya! Cepat bungkus untukku,” aku wanita itu dengan arogan.
Sang pelayan segera memanggil manager untuk menengahi mereka. Manager mendengar pengakuan dari dua pelayan yang mengikuti dua nona muda di depannya.
“Tapi, Nona ini—”
“Aku akan membayarnya dua kali lipat,” ucapnya menggebu dan menyela ucapan begitu saja.
Sang manager tampak bingung. Sepertinya dua orang wanita di depannya bukan wanita sembarangan yang mudah disingung. Dia harus berhati-hati untuk menjelaskannya.
“Tiga kali lipat,” ucap Lylia.
“Lima kali lipat.” Tak mau kalah wanita itu ikut menaikkan harga.
“Tujuh kali lipat,” timpal Lylia sambil tersenyum. Baginya uang bukan masalah asal dia mendapatkan apa yang diinginkan. Toh Xavier sudah memberikannya hak penuh.
Wanita itu tersenyum miring. “Sepuluh kali lipat atau toko ini akan dalam masalah!” ucapnya bernada ancaman.
Sang manager benar-benar bingung harus berbuat apa. Ingin sekali dia mengatakan untuk tak menjualnya, tetapi itu akan menyingung kedua wanita itu. Namun, jika terus berebut dirinya sendiri yang pusing untuk menentukan sikap.
Para wanita-wanita kaya seperti mereka jelas tak akan ada yang mau mengalah.
Miya ingin maju dan balas memberi ancaman, tetapi dia ditahan oleh sang nyonya yang menggeleng pelan.
“Baiklah. Berikan saja pada nona itu. Aku akan cari yang lain,” dalih Lylia, tetapi senyum menghiasi bibirnya. Tak ada kekesalan karena tak bisa mendapat yang diinginkan.
“Kau menipuku?” tuduhnya dengan tatapan nyalang.
To Be Continue ....
__ADS_1