Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 7 — Karakter yang berbeda


__ADS_3

“Sayang ... kenapa kau bangun?” Xavier yang baru saja kembali ke kamar sedikit terkejut saat mendapati Lylia terjaga. Seingatnya saat meninggalkan sang istri, wanita itu tengah terlelap dengan nyaman.


Xavier mendekati sang istri dan menjatuhkan tubuhnya di sisi wanita itu. “Apa kau butuh sesuatu?” tanyanya lagi yang dibalas gelengan kepala.


“Aku hanya sedang mencarimu. Kau tidak mengatakan akan pergi,” balas Lylia dengan nada kesal.


“Aku hanya menemui kakek di ruang kerjanya.”


“Selarut ini? Apa yang kalian bicarakan? Apa ini tentangku?” cecar Lylia dengan tatapan menuntut.


Xavier tersenyum. Dia menggeleng untuk menenangkan sang istri. “Urusan perusahaan, Sayang. Aku harus kembali ke perusahaan meneruskan tampuk kepemimpinan.”


“Apa kakek tidak bicara apa pun tentangku?” Lylia masih menuntut jawaban lebih.


“Tentu saja kakek memujimu. Mengatakan aku pria beruntung yang bisa menjadikanmu istri.” Xavier tersenyum lembut, sangat kontras dengan wajahnya yang datar saat berhadapan dengan seluruh keluarga.


“Jangan berbohong, Vier!” Lylia tampak memberengut kesal.


Xavier menggeleng. Gemas sekali dengan tingkah istrinya yang sibuk dengan pemikiran buruknya. Kenyataannya sang kakek benar-benar memuji Lylia dan mengutuk keluarga Richards yang telah berbuat kejam padanya.


“Untuk apa aku berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya,” balas Xavier yakin.


“Ya sudahlah. Tidak ada gunanya bertanya padamu!” Lylia bangkit dari sofa, tetapi dengan cepat Xavier menarik tangannya hingga dia jatuh tepat dipangkuan suaminya yang tersenyum menggoda.


“Kenapa marah-marah? Tidak perlu khawatir tentang apa pun, Lylia. Tidak akan ada yang berani mengusik posisimu. Kau adalah istriku dan tak akan kubiarkan orang lain berkomentar buruk tentang dirimu atau hubungan kita,” bisik Xavier seperti sebuah janji, diakhiri gigitan kecil yang membuat Lylia memekik terkejut.


Sejurus mereka bertatapan, Lylia merasakan pipinya panas ketika melihat kobaran panas di mata Xavier.


“Aku sangat mencintaimu, Lylia.”


Tanpa memberi kesempatan Lylia untuk menjawab, Xavier membawa bibirnya untuk menyatu dengan bibir ranum sang istri.


Sejauh menyangkut ciuman, harus Lylia akui Xavier adalah pencium yang andal. Dia suka sekali saat bibir suaminya menjelajah setiap rongga mulutnya. Ciuman itu penuh kekuatan dan tuntutan, membuat Lylia memejamkan mata karena desakan hasrat yang mulai bangkit.


Mereka berciuman dengan penuh hasrat yang membara, mulut mereka terkunci diiringi desah lirih yang menggoda.


Ini adalah ledakan kebutuhan yang sama-sama mereka rasakan. Pengakuan atas hasrat dan keinginan yang mengunci satu sama lain untuk segera melebur menjadi satu.

__ADS_1


Tangan Xavier menyentuh dua gumpalan menantang yang menjadi favoritnya.


“I want you, Ly!”



Lylia menatap pantulan dirinya di cermin untuk memastikan penampilannya tidak memalukan. Berada di tengah keluarga Bailey membuat Lylia benar-benar harus memperhatikan banyak hal, termasuk penampilan visual.


Sambil memperhatikan lehernya yang penuh bekas kemerahan, dia mendengus dan meraih foundation untuk menutupinya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan bekas percintaan itu menjadi tontonan.


Lylia kembali melihat penampilannya, ada ragu yang menyusup hatinya. Perlukah dia ganti baju yang lebih tertutup lagi? Entah sejak kapan Lylia baru menyadari bahwa lemari telah penuh berisi pakaian dan segala kebutuhan penunjang lainnya.


Lylia tidak tahu saja bahwa sebelum dirinya bangun, Xavier sudah memerintahkan orang-orangnya untuk memenuhi isi lemari dengan keperluan pribadinya.


Suara bel di pintu kamar membuat lamunannya buyar. Lylia segera membukanya dan kepala pelayan memberitahu bahwa Xavier menunggunya di teras samping.


Lylia mengikuti wanita paruh baya itu menuju tempat suaminya berada. Saat hampir mencapai pintu, dia berpapasan dengan pria kurang ajar yang sangat ingin dihindari. Pria itu menatapnya dengan sorot tajam, tetapi ada seberkas kekaguman yang tergambar. Muak, satu kata itulah yang saat ini bersarang di kepala Lylia. Tanpa basa-basi atau sekadar menyapa, dia melewati pria itu begitu saja.


Dia melihat Xavier dan sang kakek tengah mengobrol. Lylia tersenyum, sedikit gugup jika harus berhadapan dengan pria tua yang sangat berwibawa itu.


“Duduk di sebelah kakek, Cantik.” Roger menepuk bangku sebelah sambil tersenyum ramah ke arah Lylia.


“Menginap lagi di sini, ya. Kakek masih sangat merindukan Xavier.”


Lylia sedikit keberatan. Sejak awal menginjakkan kakinya di rumah ini, dia memang merasa kurang nyaman dan aman.


“Terserah Xavier saja,” jawab Lylia yang memilih mengikuti apa pun keputusan suaminya.


Xavier mengangguk setuju dengan permintaan sang kakek, lagipula banyak hal yang masih perlu dibahas. Salah satunya tentang perusahaan yang akan kembali di bawah kendalinya.


Selama Xavier tidak ada, perusahaan dikelola oleh Henry—adik dari mendiang ayahnya. Terpaksa Roger melakukan itu karena tidak ada pilihan lain, dirinya sendiri tak mungkin kembali ke perusahaan dengan keadaannya yang sudah menua.


Obrolan seru mereka terhenti saat pelayan mengatakan sarapan telah siap. Mereka semua menuju ruang makan dan sudah ada seluruh keluarga di sana. Lylia kembali canggung, apalagi saat tatapan matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata pria yang menatapnya begitu dalam.


“Ada apa kau menatap istriku? Ada yang salah dengan penampilannya atau justru kau terpesona dengan kecantikannya?” ujar Xavier yang mengamati sepupunya.


“Kau terlalu berlebihan,” balas Zilong dengan dengusan pelan.

__ADS_1


Odette memutar bola matanya malas, dia menatap Lylia dengan tajam kemudian berdecak lirih, “Jangan memulai pertengkaran di meja makan hanya karena kehadiran orang baru!”


“Yang Anda sebut orang baru adalah istriku, Nyonya Odette! Ketahui batasan Anda sebelum bicara,” balas Xavier tak kalah dingin.


Roger menghela napas panjang. Xavier dan istrinya memang tak pernah bisa akur, selalu saja ada pemicu yang membuat hubungan mereka berdua semakin memburuk.


Sarapan pagi itu sangat membuat Lylia tidak nyaman. Bahkan, hanya untuk menelan makanan saja rasanya sangat sulit. Lylia menatap seluruh anggota keluarga Bailey dengan helaan napas pelan. Ternyata bukan hanya dalam keluarga Richards saja perselisihan itu ada, bahkan di sini dia harus dihadapkan dengan orang-orang baru dengan karakter yang berbeda.



Ponsel Lylia terus berdering berulang kali, tetapi sang pemilik hanya meliriknya sinis tanpa minat.


Panggilan itu berulang kali dilakukan, nama yang tertera di layar pintar tersebut pun bergantian. Dari orang tua, kakak dan adik. Lylia hanya tersenyum sinis, tetapi ujung matanya sedikit basah oleh air mata yang menggenang.


“Kalian butuh aku makanya mencari. Saat aku ada, kalian menghina, mencaci dan memperlakukan aku dengan tidak layak,” gumamnya pelan.


Lylia tentu saja sudah mendengar kabar tentang apa yang terjadi di luaran sana tentang perusahaan keluarga Richards yang kini tengah dalam kesulitan. Tanpa bertanya pada suaminya pun, Lylia sudah tahu siapa yang melakukannya.


Tak sampai dua puluh empat jam setelah apa yang terjadi dengannya, Xavier berhasil membuat Stefen Howard terbaring di ranjang pesakitan, belum lagi dari kabar yang didengar pria itu akan berurusan dengan hukum karena terbukti telah melecehkan dan melakukan kekerasan.


Lylia mengulum senyum, Xavier-nya kini bukan lagi pria miskin, bukan lagi pria yang baik hati dengan memaafkan segala yang telah terjadi. Xavier telah menunjukkan taringnya dan akan menjadi perisai untuknya.


“Senyummu bangga ya. Kau pasti sangat bahagia mengetahui siapa Xavier sebenarnya. Dasar wanita tidak tahu malu! Keluargamu memperlakukan Xavier seperti sampah, tapi bisa-bisanya kau masih memiliki muka untuk tetap bersanding dengannya.”


Lylia yang mendengar ucapan pedas itu segera menoleh dan menarik bibirnya ke dalam saat Odette berjalan mendekat. Wanita tua itu menatap sinis ke arahnya, seakan ingin memakannya hidup-hidup.


Namun, Lylia memilih tak menjawab, dia hanya tersenyum dan menggeser duduknya. Matanya kembali menatap ke depan, sebuah halaman luas dengan banyak pepohonan yang rindang dan menyejukkan.


“Seharusnya kau malu. Keluargamu telah banyak menghina dan merendahkan Xavier.”


“Yang melakukannya adalah keluargaku, bukan aku. Sama seperti Anda yang terus mencecar dan menyudutkan kesalahan keluargaku, melemparkannya seakan aku yang harus menanggungnya,” balas Lylia pelan membuat kilat di mata wanita tua itu semakin menyala.


Lylia memilih bangkit dan pergi tanpa menimpali. Tidak ada gunanya mendebat orang-orang yang tidak menyukai kita, itu adalah hal yang sia-sia dan melelahkan. Sedari awal Lylia pun tahu bahwa wanita tua itu tidak menyukainya.


“Kurang ajar!”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2