
“Kenapa kau diam saja! Harusnya kau paksa anakmu yang tidak tahu diri itu untuk menyerahkan semuanya pada kita!” teriak Eudora marah. Dia berdiri berhadapan dengan Alucard, menantang matanya.
Eudora paham di dalam hati kecil Alucard masih tersimpan rasa sayang untuk Lylia. Bagaimanapun Lylia tetap putri dan mengalir darahnya di dalam tubuh itu. Jelas saja itu membuatnya tak senang.
“Sudahlah Eudora. Cukup sampai di sini saja. Lebih baik kita memang tak berurusan dengan Lylia dan suaminya. Untuk kebaikan kita sendiri, hentikan rencana apa pun yang ada di otakmu,” ujar Alucard.
Hentikan? Itu tidak akan terjadi Alucard! Dia tidak berhak atas apa pun yang dimiliki keluarga ini. Tidak seperpun aku rela dia mengambil sesuatu yang seharusnya jadi milikku dan anak-anakku.
“Kau pengecut, Alucard!” Setelah kalimat itu terucap, Eudora pergi begitu saja. Kakinya menghentak keras dan membanting pintu dengan kasar.
—
“Alucard sialan!”
“Aku membencimu, Lylia. Kau semakin menunjukkan bahwa dirimu adalah keturunan Ling Hua. Semakin berani sikapmu, semakin mirip kau dengan ibumu itu.”
“Kau memang pantas mati Ling Hua. Kau wanita murahan!”
Brak!
Eudora menghancurkan meja rias, membuat peralatan make up yang ada di atasnya jatuh berantakan. Emosi tengah menguasi hati dan pikirannya.
Setelah sekian lama, setelah menunggu waktu yang tepat, ternyata semua rencananya tak berjalan sesuai keinginan. Itu sungguh membuatnya muak dan kesal.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar suara ketukan di pintu membuat Eudora menghentikan segala aktivitasnya dan memilih duduk di ujung ranjang seraya mengontrol deru napas yang tak beraturan.
“Kamar ibu seperti kapal pecah,” komentar Alice saat memasuki kamar.
“Ada apa?” tanya Eudora.
“Aku dan suamiku malam nanti akan kembali. Urusan kami di sini sudah usai, Bu,” kata Alice tanpa rasa bersalah.
“Pergilah! Kau juga tidak berguna. Kau dan suamimu selalu datang di saat butuh, tapi kau pergi saat keluarga ini dalam masalah,” ujarnya tanpa menoleh.
“Aku tidak bermaksud seperti itu, Bu. Tapi melawan Lylia yang punya Xavier sebagai pendukung bukan hal yang mudah. Jangan sampai ibu menyesal karena jika Xavier turun tangan, kami pun tak akan bisa melakukan apa pun.”
Setelah guncangan hebat pada Richards Company. Alice dan suaminya memilih tak mau berurusan dengan pria itu. Bukan tak mungkin jika mereka mengikuti keinginan Eudora, maka Keluarga William bisa ikut terseret dan itu jelas merugikan.
__ADS_1
Meskipun kebencian itu ada, tetapi logika mereka tetap berjalan. Daripada sibuk membenci dan merugi, lebih baik menjauh seperti ucapan Lylia.
“Pergilah, tapi untuk terakhir kali jadilah berguna untuk keluarga ini. Minta suamimu membantu perusahaan ayah agar tetap stabil,” ucap Eudora tegas.
“Baik, Bu. Aku akan membujuk Hanzo untuk membantu perusahaan ayah.”
Setelah kepergian Alice, Eudora menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. Tangannya memijat pelipis yang berdenyut nyeri. Dia menggerutu pelan, menyadari jika kedua putrinya memang tak bisa diandalkan.
Richards Company memang belum stabil. Saham di perusahaan itu masih di batas merah. Kini setelah perusahaan itu jatuh ke tangan suaminya dan dia pun memiliki saham di sana. Eudora tak mau perusahaan itu bangkrut begitu saja.
Dia akan melakukan apa pun untuk membuat perusahaan itu bangkit lagi dan berada di puncak kejayaan.
“Jangan harap kau bisa hidup bahagia, Lylia. Tak akan kubiarkan kau bahagia setelah apa yang dilakukan ibumu pada keluargaku.”
Tampak seringai di bibir wanita paruh baya itu.
Kau akan menyusul mereka ke neraka!
—
“Lylia berubah dalam waktu yang cepat,” kata Karina. “Dia berani melawan ayah dan ibu begitu saja. Seharusnya dia tahu balas budi pada keluarga yang telah merawat dan membesarkannya.”
“Seharusnya ayah tidak diam saja,” tambahnya.
Karina tentu tidak terima dengan keputusan yang telah diberikan kakeknya. Bagaimanapun dia adalah cucu sah di keluarga ini. Seharusnya sang kakek tidak pilih kasih dengan memberikan warisan yang sama dengan Lylia.
“Diam dan urus urusanmu sendiri, Karina.”
“Tapi ayah —”
“Daripada kau sibuk mengurus Lylia, lebih baik kau minta suamimu untuk bekerja dengan benar. Keluarga Richards tak akan menanggung apa pun untuk Keluarga Miller lagi.” Sontak saja pernyataan Alucard membuat sepasang suami istri itu melebarkan mata.
Brengsek!
Bruno mengepalkan kedua tangannya. Jika saja tidak ingat keluarga ini adalah tambang emas, mungkin sudah sejak lama dia meninggalkan keluarga yang di dalamnya berisi orang-orang busuk.
“Ayah tidak bisa melakukan ini pada kami!”
Alucard tersenyum miring sambil menatap putrinya. “Sudah cukup kau bergantung pada keluarga ini, Rina. Perusahaan sedang tak stabil dan tak akan bisa membantu apa pun. Kini saatnya kau buktikan bahwa suamimu memang berguna.”
__ADS_1
Tua bangka sialan!
Andai tidak ingat jika di depan itu adalah ayah mertuanya, sudah pasti Bruno akan mengumpat dan memakinya.
“Gunakan warisan yang telah diberikan kakek untuk membantu suamimu. Untuk kali ini saja jangan merongrong pada keluarga ini. Jika tak bisa membantu setidaknya jangan menyusahkan,” kata Alucard menekan setiap kata. Pria paruh baya itu pergi begitu saja tanpa mempedulikan ekspresi anak dan menantunya.
“Ayah!” teriak Karina dengan kesal dan marah.
Sementara Bruno menahan amarah yang bersarang di dada. Beraninya pria paruh baya itu menghinanya.
Ada rasa tidak terima. Meskipun semua yang dikatakan mertuanya benar, bukan berarti bisa menginjak harga dirinya begitu saja.
Dulu saat Keluarga Miller masih memiliki segalanya, keluarga ini menyanjungnya. Kini saat dia meminta balasan atas apa yang dulu telah diberikan, ucapan menyakitkan itu justru terlontar. Sialan! Aku pastikan jika saatnya tiba, keluarga ini pasti akan hancur.
“Kemasi pakaianmu! Kita pulang,” perintahnya pada Karina yang hanya mematung.
“Lakukan, Rina!”
Karina tersentak mendengar bentakan itu. Dia menatap suaminya tajam. “Pulang ke mana yang kau maksud?”
“Tentu saja mansion Keluarga Miller! Kau pikir setelah ucapan ayahmu, aku akan tetap bertahan di sini? Tidak, Rina! Ucapan ayahmu melukai harga diriku,” teriak Bruno dengan rahang mengeras.
Penolakan yang dilakukan Karina sama sekali tak mengubah keputusan yang telah diambil oleh Bruno.
Untuk pertama kalinya Keluarga Richards berselisih paham dengan anak dan menantunya.
—
Mobil melaju membela jalanan. Sejak tadi Lylia hanya diam saja, tak ada tangisan atau keluh yang keluar dari bibirnya.
Xavier paham. Sangat paham jika ini tak mudah dilalui oleh Lylia. Setelah kehilangan orang terkasih, dia harus menerima fakta yang begitu mengejutkan.
“Kau hebat, Ly! Kau bisa melakukannya.”
“Tapi di sini sakit sekali, Vier. Ternyata hidupku semenyakitkan itu. Tidak diinginkan, lalu sekarang aku seperti dibuang begitu saja,” jawab Lylia dengan suara parau. Tangannya menunjuk dadanya sendiri dan menekannya pelan.
“Kau ingin aku melakukan apa? Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya untukmu.”
Lylia menggeleng pelan. “Cukup. Aku tak ingin berurusan dengan mereka lagi.”
__ADS_1
To Be Continue ....