Suami Milyarder

Suami Milyarder
Bab 6 — Keluarga Bailey


__ADS_3

Langkah kaki Lylia agak gemetar saat Xavier menuntunnya memasuki kediaman keluarga Bailey yang sangat megah. Mungkin bisa dikatakan mansion itu lebih mirip istana. Di setiap sudut bangunan terdapat beberapa pengawal yang berjaga melindungi benteng istana.


Meskipun bisa dikatakan Lylia juga dari keluarga kaya, tetapi kekayaan keluarga Richards tentu tak ada seujung kuku pun bagi keluarga Xavier. Lylia menunduk malu, keluarga Richards sudah sering kali menghina Xavier dengan ucapan dan perbuatan yang buruk.


Lylia merasa rendah diri. Mungkinkah dia akan diperlakukan sama di keluarga Xavier?


“Kenapa?” tanya Xavier saat langkah kaki Lylia terhenti.


“Tidak apa-apa.” Lylia menampilkan senyum tipis menenangkan.


Xavier semakin mengeratkan genggaman di tangan istrinya yang terasa dingin.


“Selamat datang kembali, Tuan muda.” Di pintu utama mereka disambut beberapa pelayan yang langsung menunduk hormat.


Salah satu orang yang diketahui sebagai kepala pelayan mengarahkan mereka untuk masuk. Lylia mengamati sekitar, di beberapa dinding ada potret keluarga besar yang tampak sangat menawan.


“Akhirnya kau kembali. Bahagia karena mendengar kau masih hidup, Xavier!” Suara berat dan dingin mengintrupsi, membuat Lylia tersadar dan menoleh ke sumber suara. Entah sejak kapan, mereka sudah tiba di sebuah ruangan yang sudah dipenuhi beberapa orang yang menatap ke arah mereka.


Xavier mengangguk. Dia mengajak Lylia masuk dan mendekati pria tua itu.


“Salam, Kakek. Berkat Tuhan bersamamu,” ucap Xavier memeluk pria tua yang dipanggil kakek.


“Kenalkan dia istriku ... Lylia,” lanjutnya lagi memperkenalkan sang istri.


Lylia menyapa kakek tua itu dengan hormat seperti yang dilakukan Xavier.


“Kau cantik sekali, Nak. Xavier tidak salah memilih seorang istri, dia selalu yang terbaik.” Roger tersenyum tipis sambil menyentuh kepala Lylia yang menunduk.


Di dalam ruangan itu ada beberapa orang. Xavier mengenalkan mereka. Ada nenek, paman dan bibi, juga beberapa sepupu.


Lylia menyapa mereka semua dengan sopan. Namun, dia bisa merasakan aura seseorang yang tak menyukai kehadirannya. Ada pandangan jahat yang tertuju ke arahnya.


“Senang bisa melihatmu kembali,” ucap Layla sambil memeluk Xavier dan Lylia bergantian.


“Kau cantik sekali, Nak,” pujinya pada Lylia yang dibalas dengan senyum tipis.


Meskipun semua orang tampak menyunggingkan senyum, tetapi itu adalah sandiwara. Siapa pun bisa melihat tiada ketulusan di mata orang-orang itu.


Mereka semua tak ada yang bertanya tentang kepergian Xavier dan bagaimana ceritanya dia bisa selamat. Sama sekali tak ada yang membahas hal tersebut.


“Bagaimana bisa kalian tiba-tiba menikah, Xavier?” tanya Odette dengan tatapan tajam menusuk ke arah Lylia.

__ADS_1


“Tentu karena kami saling mencintai,” jawab Xavier santai.


“Benarkah?” Odette tampak tak suka mendengar jawaban itu.


“Kau tak perlu menutupi keburukan keluarga istrimu. Keluarga Richards menghina dan merendahkanmu, kenapa kau diam saja!” ucapan Odette membuat Xavier mengeraskan rahang marah.


“Anda tidak perlu ikut campur dengan urusanku,” balas Xavier dingin. Tampaknya hubungan mereka terlihat tidak baik.


“Sudahlah, Odette. Jangan mengusik dan mencampuri urusan Xavier.” Roger mengatakan itu penuh peringatan, membuat Odette menatap kesal.


Lylia hanya menunduk. Dia cukup tahu diri bahwa ucapan itu adalah sebuah sindiran.


Seorang kepala pelayan datang dan memberitahu jika makan malam sudah siap. Roger meminta seluruh anggota keluarganya menuju ruang makan.


Hidangan mewah tersedia di depan sana berbagai macam hingga memenuhi meja panjang tersebut.


Masih tak dapat dihindarkan, sindiran halus dari Odette membuat Lylia kembali mengingat saat Xavier berada di tengah keluarganya.


Lylia hanya menunduk dengan senyum miris. Tidak, dia tak akan sakit hati. Mengingat selama ini Xavier tak pernah mengambil hati apa pun yang dikatakan keluarganya. Bahkan bisa dikatakan hinaan yang diterima suaminya lebih buruk daripada yang diterima saat ini yang hanya sebatas sindiran.


“Kamarku masih ada, kan?” tanya Xavier tiba-tiba setelah usai makan.


“Ada. Kamarmu dan segala isinya masih tetap utuh dan bersih, Xavi. Kami selalu membersihkan dan merawatnya dengan baik,” sahut Starlight dengan senyum bangga. Tidak ada salahnya dia mempertahankan kamar tersebut saat Odette berniat mengosongkan kamar itu dan membuang barang-barang Xavier.


Starlight mengangguk dan tersenyum penuh arti.


Xavier segera pamit untuk mengajak sang istri istirahat. Malam ini dia akan menginap karena ada banyak hal yang perlu dibicarakan dengan keluarga besarnya.


Xavier melempar tubuhnya ke arah sofa, membiarkan Lylia berkeliling kamar yang luasnya sama dengan satu paviliun tempat mereka tinggal di keluarga Richards.


“Abaikan saja ucapan orang-orang di keluarga ini yang tidak terlalu penting,” kata Xavier buka suara saat Lylia duduk di ujung ranjang dengan tatapan yang sulit dipahami.


“Mana bisa kulakukan, aku punya telinga yang bisa mendengar setiap ucapan mereka,” jawab Lylia pelan.


“Kau hanya harus patuh dan mendengarkan ucapanku, Sayang. Apa pun yang dikatakan keluargaku itu tidaklah ada artinya,” kata Xavier lagi menghampiri sang istri dan menyentuh bahunya.


“Apa ini balasan atas perbuatan buruk keluargaku?”


Xavier menggeleng tegas. Dia tidak suka Lylia mengatakan hal itu. Apa pun yang dilakukan keluarga Richards tak ada hubungannya dengan Lylia.


Selama ini Lylia sudah menjadi wanita dan istri yang baik bersamanya. Tak pernah sekalipun wanita itu merendahkan, menghina bahkan mengucapkan kata-kata buruk. Justru Lylia selalu menjadi tameng yang akan melindunginya dari hinaan orang-orang di luar sana.

__ADS_1


“Tidak akan ada yang bisa menyakitimu, Lylia. Aku janji, bahkan jika itu keluargaku sendiri.”


Xavier membawa Lylia ke dalam pelukan dan mengecup pucuk kepalanya penuh cinta, berulang kali.



Lylia terbangun di tengah malam saat mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Tidak ada Xavier di sana. Lylia bangun dari ranjang dan mencari keberadaan suaminya, barangkali pria itu ada di kamar mandi atau balkon. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di kamar itu.


Lylia memasang jubah tidur untuk menutupi lingerie yang dikenakan. Dia berniat keluar kamar mencari keberadaan Xavier.


Suasana ruangan dalam keadaan remang-remang, lampu utama telah dimatikan karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Perlahan kakinya melangkah menyusuri lorong dan turun ke bawah. Namun, sesampainya di sana dia kebingungan harus mencari suaminya ke mana.


Rumah ini sangat besar, tidak ada lagi pelayan yang berkeliaran. Apakah dia harus mengetuk satu persatu pintu ruangan yang ada di sana? Ide yang buruk sekali.


“Apa yang kau cari?”


Lylia berjingkat terkejut saat mendengar suara yang tiba-tiba. Dia tidak menyadari bahwa di dekat minibar ada seorang pria yang tengah duduk dalam kegelapan.


“Maaf, aku tidak melihatmu. Apa kau melihat Xavier?” tanya Lylia pelan.


“Tidak,” balas pria itu malas sembari berjalan mendekat.


“Ya sudah, aku akan mencarinya. Terima kasih,” kata Lylia, berniat berbalik pergi. Namun, genggaman di pergelangan tangannya membuat dirinya kembali menoleh.


“Bukan hanya cantik, kau juga sangat seksi. Pantas Xavier jatuh cinta padamu,” kata pria itu dengan kurang ajar.


Lylia menyentak tangannya kuat, dia menatap pria itu dengan tajam. Raut wajahnya tampak begitu dingin dengan mata yang menatap nyalang penuh amarah.


“Jaga bicaramu, Tuan. Aku istri sepupumu!” bentaknya dengan keras.


“Apa yang sebenarnya membuatmu jatuh cinta dengan Xavier? Dia hanya pria miskin saat menikah denganmu. Apa yang bisa kau banggakan dari pria sepertinya.”


Lylia tak merespons, dia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.


“Apa permainannya di atas ranjang yang membuatmu tergila-gila padanya?” lanjut pria itu dengan penuh ejekan hingga membuat langkah kaki Lylia terhenti.


“Meskipun miskin, dia tetap terhormat di mataku. Karena pria terhormat belum tentu punya adab dan sopan santun,” balas Lylia dengan senyum yang menawan. Membalas perkataan pria itu dengan sindiran yang pedas.


Setelah kepergian Lylia, pria itu tersenyum penuh arti sambil terus menatap punggung wanita yang begitu berani.


“Menarik sekali,” ucapnya.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2