
🍂🍂🍂🍂🍂
Perdebatan antara bocah kini sudah sering terjadi di rumah utama, 3 anak saja rasanya kadang membuat rumah itu bak pasar pagi kini di tambah 2 anak lagi. Tapi, semua yang ada disana sangat menikmati karna gelak tawa dan jerit tangis para anak seperti malaikat kecil bagi para orang tua.
"Lin, El nya gak mau," kata Phiu Samudera saat cucunya menarik tangan El yang entah akan di bawa kemana.
"Mau ih, halus mau!"
Mau na? alan alan ya?
"Iya, jalan jalan Nelaka, mau?" tanya Lintang masih mode kesal.
Meski tak selalu tidur bersama, tapi rasanya Lintang masih saja kesal jika menjelang waktunya istirahat malam. Selama ia hidup di dunia bisa di hitung hanya berapa kali tidur bersama Ayah dan Bubun, sebab selebihnya ia akan terlelap bersama Phiu. Tapi, kenyamanan itu terusik saat adik sepupunya datang mengganggu tempat semedi Lintang yang selama ini tak pernah terusik siapapun karna kedua kakaknya sudah punya pawangnya masing masing.
Laka laka apa? Piuuuh itut?
"Nda lah, Phiu kan sama Lilin ke Culuga," jawab Lintang yang semakin kesal, adik sepupunya itu tak pernah takut dan selalu menimpali apapun yang di ucapkan Lintang.
El itut Cugaaaa yaaaa.
"Ndaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Melihat Lintang berteriak El malah bertepuk tangan, entah apa yang ada di pikiran bocah itu sekarang yang malah terlihat senang.
Yiyin, mahu mana?
__ADS_1
El yang menawarkan minumannya langsung mengundang gelak tawa, apa yang di sodorkan nya tentu tak di Terima. Lintang langsung menarik tangan Sang Tuan besar menuju kamar di lantai dua.
Wah, El inggalin ya... Yiyin akal nih, ntal didit Ulel.
Sean yang melihat adiknya di tinggalkan langsung membawa El mendekat ke Fajar, ia yang sedang menggambar ikut di perhatikan juga oleh El.
Nih nuning ya... Jujus ucing
Fajar yang mendengar pun langsung menoleh.
"Aku paham kuning, tapi jujus ucing tuh apa?" tanya Si tengah pada Sean.
"Aku juga baru denger, A'. Apa ya? gak mungkin jus kucing dong?" Sean balik bertanya, otaknya kini sedang berpikir keras tentang apa yang barusan di katakan Sang adik.
"Jujus ucing apa, de'?"
"Iya, minum jus kan? abang juga tahu. Tapi, ucing nya apa? kucing?" tanya Sean lagi penasaran.
Butan mpus, Bang. Ucing.
"Pisang!" timpal suara pria dewasa yang tak lain adalah ArXy, uncle dari El dan Sean.
Semua mata tertuju pada Sang Tuan Muda Rahardian yang tampan tapi tak laku laku tersebut.
"Pisang?"
__ADS_1
"Iya, jauh banget kan, sejauh hatiku dan hatinya," jawab ArXy sambil memasang wajah sedih karna ingat kisah cintanya yang menyedihkan.
Iya, ntuuuuu.... ucing.
"Di balik aja ih, kaya PapAy," sahut Angkasa.
ArXy datang tentu bukan tanpa alasan, ia yang tadi mampir sebentar ke rumah sakit untuk melihat kondisi adiknya kini bisa bernapas lega sebab kembarannya tersebut kini sudah jauh lebih baik dan itu ia dengar sendiri dari dokter usai pemeriksaan.
Dan kini tentu bukan hanya ArXy yang bahagia, keluarga terutama orangtuanya langsung berkali-kali mengucap syukur karna ini benar-benar kabar baik untuk mereka dan juga anak-anak.
"Lalu kapan pulang?" tanya Amih dengan mata berkaca kaca.
"Paling lama akhir pekan ini, doakan saja XyRa cepat sembuh agar cepat pulang juga."
Amih yang senang tak terkira langsung mendekat kearah anak-anak, ia ciumi wajah Sean dan El secara bergantian.
"Sebentar lagi Mamih sembuh dan bisa pulang, kita juga nanti pulang ya," ujarnya sambil mengusap kepala kedua cucunya tersebut.
.
.
.
El ninih aja, etek nanan nanan Piuuuh
__ADS_1