
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Angisin capa yaaaaaa?" jawabnya dengan memasang wajah sedih.
El yang awalnya tak paham langsung tergelak saat ia menyadari maksud dari kebingungan adiknya tersebut. El yang setiap hari membuat rusuh di rumah utama kini harus jadi anak manis saat tak ada yang bisa di ganggu. Abangnya tak mungkin marah apalagi menangis sebab kasih sayang Sean tentu tak di ragukan lagi.
"Ya udah, yuk masuk. Banyak angin," ajak Sean sambil mengulurkan tangan.
El yang mengangguk lalu turun dari kursi kayu, keduanya bergandengan tangan saat kembali memasuki rumah. Baru sampai tangga, nyatanya kedua anak hasil semburan Si ulat bulu jumbo bertemu dengan papihnya.
"Mau kemana?" tanya Axel yang baru saja berniat ingin menemani Sean dan El menonton TV.
Mau Didong
El yang mengangkat tangannya tinggi tinggi langsung di gendong sesuai permintaan bocah itu. Mereka yang baru mau naik ke lantai atas justru di ajak kembali ke ruang tengah oleh papihnya.
"Mau cemilan?" tawar Axel.
El menggelengkan kepala, ia sudah kenyang karna di mobil tadi meminum susu satu botol penuh, belum lagi sedikit kue saat menonton TV sebelum ia kabur ke halaman samping.
El yang ada di atas pangkuan Axel mulai melayangkan ke isenganya. Ia berceloteh dan banyak melontarkan pertanyaan, padahal jelas Axel tak terlalu paham dengan kosakata putranya tersebut.
__ADS_1
Mamih mbuh? nda umah acit agih?
"Iya, Mamih udah sembuh. Sekarang disini lagi ya," jawab Axel yang bisa bernapas lega sebab kalimat ini ia mengerti.
Nda inep umah Piuuuh?
"Enggak, kan ada Mamih disini," sahutnya lagi yang membiarkan El mencubit cubit pipinya.
Axel tahu, anaknya sudah mulai betah dan nyaman disana sebab banyak kakak sepupunya atau memang karna ia senang menjahili Lintang. Tak tahu saja ia yang tadi di katakan El di halaman sebelum kembali masuk kedalam rumah.
.
.
XyRa yang sudah cukup beristirahat, keluar dari kamarnya untuk menuju ke kamar Sean yang ternyata kosong.
"Abang kemana ya?" gumam XyRa yang keheranan, ia lalu turun ke lantai bawah yang mungkin saja anak anak ada di sana bersama papihnya.
Dengan pelan dan sangat hati-hati, XyRa menuruni anak tangga satu persatu. Kondisinya yang belum stabil membuat ia berkali-kali berhenti untuk menarik napas.
Sampai di bawah, ia edarkan pandangannya, rumah yang luas tentu tak bisa sekali jangkau ke semua ruangan jika tak sambil di cari.
__ADS_1
Dan ternyata ketiga pria kesayangannya itu sedang ada di depan kolam renang teras samping, tempat yang jarang sekali di buat berkumpul karna takut El tercebur ke kolam, bahkan pintunya saja sering kali di kunci. XyRa cukup tahu diri jika anaknya itu super aktif dan tak bisa di tebak kemana langkahnya akan bergerak.
"Pih, Abang, El--," panggil XyRa dengan senyum teduhnya. Tapi, hanya suami dan Si sulung saja yang menoleh. Tidak dengan anak kandungnya yang terlihat merengut.
Axel yang mengulurkan tangan langsung di Terima oleh XyRa dan duduk di sebelah suaminya, bersama dengan Sean yang ternyata sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
"Dingin loh, Mih. Ayo masuk."
"Gak apa apa, aku suka disini," tolak XyRa yang ingin di peluk tapi nyatanya kedua manik mata itu malah terus tertuju pada Si bungsu.
"El, kamu kenapa, Sayang?" tanya Amih
.
.
.
.
Nda ada yang bicik bicik yaaaa
__ADS_1