Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 42


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kini, Sean sudah ada di tengah-tengah orangtuanya dalam kamar anak itu. Apa yang ia dengat, tentu harus di luruskan dengan segera sebelum pikiran negatif merasukin otak polos Sean.


"Maafin Mamih ya," ucap XyRa yang tentunya tak akan menutupi apapun dari Sang putra.


"Kecelakaan kemarin sudah buat Mamih Maya sekarang belum bisa jalan lagi," tambahnya.


Ia tentu tak akan mengatakan Maya tak bisa jalan sebab memang tak mengalami kelumpuhan total, wanita itu masih punya harapan bisa beraktivitas seperti biasa setelah rutin kontrol dan terapi meski harus memakan waktu yang tak sebentar.


"Jadi itu Mamih Maya?" tanya Sean, ia menatap Mamih dan Papihnya yang mengangguk secara bersamaan.


"Sean gak marah kan sama Mamih XyRa?" pertanyaan pun langsung di layangkan oleh Axel saking ia khawatirnya.


Sean yang masih diam dan belum menjawab membuat XyRa menoleh kearah suaminya. Matanya berkaca kaca karna takut anak yang sudah kurang lebih satu tahun dan 24 jam bersamanya akan kecewa bahkan membencinya karna masalah ini.

__ADS_1


"Kasihan Mamih Maya," jawabnya pelan.


Satu tetes air mata pun jatuh di pipi XyRa, ia langsung meraih tangan mungil Sean untuk di ciuminya seraya meminta maaf, masih bisa di selamatkan saja kedua mata anak itu terlihat begitu sedih lalu bagaimana jika justru kecelakaan itu berakibat Fatal? tentu XyRa tak bisa membayangkan semua itu pastinya.


"Mamih XyRa dan Papih akan bantu sampai Mamih Maya sembuh, Sean tak perlu khawatir ya," jawab Axel yang hanya di balas anggukan kepala saja.


Dalam pelukan XyRa anak itu akhirnya meneteskan air matanya. Siapapun harusnya paham tentang yang sedang di rasakan Sean saat ini. Jangankan 4 tahun berpisah, puluhan tahun tak berkabar ikatan bathin ibu dan anak tetap ada. Jika Sean merasa sedih da kasihan itu pun hal yang sangat wajar terjadi sebagai bentuk emosinya. Anak kucing yang tertabrak saja ia tangisi, apalagi ini jelas ibunya yang melahirkan dengan bertaruh nyawa. Sean yang dasarnya sudah baik di pertemukan dengan XyRa yang berhati lembut, wanita tersebut selalu mengajarkan apa itu arti berbagi dengan porsi adil dan indahnya saling menyayangi satu sama lain.


.


.


.


Pagi hari, jam yang sebenarnya belum waktunya Sean bangun tapi anak itu malah sudah keluar dari kamarnya menuju kamar Mamih Maya di lantai bawah.

__ADS_1


Maya yang sedang duduk bersandar usai membersihkan diri tersenyum senang anaknya datang sendiri.


"Sean, Sayangnya Mamih, sini, Nak."


Sean yang awalnya masih di ambang pintu langsung masuk dengan langkah pelan pastinya sebab masih ada rasa takut dan belum terbiasa pastinya.


"Ada apa, Sayang? Sean sendiri kesini?" tanya memastikan karna masih sedikit belum percaya sang putra mau mendekat padanya. Sungguh, ini sangat sangat di luar dugaan wanita itu.


"Iya, Sean baru bangun bobo, mau sekolah nanti," jawabnya yang sudah berdiri tepat di sisi ranjang.


Maya yang ingat dengan pesan Axel untuk tidak terburu-buru tentu masih menahan diri untuk tidak menyentuh Sean padahal ia ingin sekali meraih tangan anak itu dan juga mencium kening dan pipinya. Disini ia di minta untuk bersama mengurus Sean, sebab anak itupun milik bersama yang bukan barang bisa di oper alih atau di patenkan hak miliknya.


"Ayo, katakan pada Mamih, ada apa, Sayang?" tanya Maya penasaran dan mencoba memulai obrolan.


.

__ADS_1


.


"Sean mau minta maaf, ini semua karna Sean. Mamih Maya jangan marahin Mamih XyRa ya, Mamih XyRa gak hati-hati soalnya lagi cium Sean, Mamih gak liat liat, Sean janji gak akan ganggu Mamih XyRa lagi pas anter sekolah."


__ADS_2