
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Oooooekk...
Drama muntah mual nyatanya masih berlangsung hingga keesokan harinya dimana XyRa terus bolak balik di temani Axel ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang tak ada apa-apanya. Axel yang panik dan khawatir tentu masih mencoba merayu XyRa untuk kerumah sakit tapi wanita itu masih bersikeras untuk meminum obat yang kemarin di berikan dokter.
"Jangan bilang aku bau ya?!" ucap Axel saat tubuhnya di endus oleh sang istri.
"Iya, Enggak. Tapi kok aku enek banget ya?" tanya aneh XyRa pada Axel menang tak memakai baju atasan sebab mereka sehabis melalukan hal yang menyenangkannya sesuai rencana sebelum makan malam.
"Asam lambungku mungkin naik ya, Mas."
"Memang kamu punya penyakit itu?" tanya Axel.
"Enggak," jawab XyRa sambil tergelak dan berlari ke arah ranjang.
Axel yang gemas dan merasa di jahili pun mengejar istrinya yang sudah menyembunyikan wajah cantik sedikit Pucatnya itu di balik bantal.
"Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu, hem?"
Suara gelak tawa terdengar nyaring di kamar. Satu hal yang paling Axel sukai dari XyRa adalah ia tak pernah memperpanjang masalah, selalu mau di ajak diskusi setelahnya hingga tak berlarut panjang kecuali saat pertama mereka bertemu. Rasa terbuka dan sudah saling bisa menerima nyatanya membuat hubungan mereka kini jauh lebih baik.
Apalagi jika sudah menyangkut tentang rencana masa depan Sean, putra satu-satunya mereka saat ini. Kakayaan XyRa yang jauh lebih banyak dari suami tak membuatnya besar kepala, ia tetap manut dalam posisinya sebagai istri dan ibu.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Mandi duluan sana, aku masih cape," titah XyRa yang sudah entah berapa kali ia mengeluh hal tersebut.
"Semalam aku yang kerja keras loh, gak minta gantian," ledek Axel sambil tertawa.
"Hem, tetep capek. Kayanya aku harus nambah vitamin nih biar gak lemes," jawab XyRa dengan hembusan napas berat.
"Jangan terlalu banyak vitamin, bukankah kita sedang menunggu sesuatu?" ucap Axel mengingatkan tentang rencana mereka 3 bulan lalu.
XyRa pun bergeming, mana mungkin ia lupa akan hal tersebut, tapi mengingat rentetan masalah yang sedang ia hadapi rasanya wajar jika ia sampai mengabaikan satu hal tersebut.
Program hamil yang baru saja ingin mereka lakukan tersisihkan dengan masalah kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini, meski tak berakibat fatal tapi cukup menguras emosi, pikiran dan waktu.
"Iya, aku tahu."
.
.
.
Sambil menunggu suaminya selesai membersihkan diri, XyRa bergegas keluar kamar untuk menemui Sean. Tapi, hal yang di luar dugaan hinggap di benaknya saat melihat kamar itu kosong.
Dengan perasaan campur aduk, ia pun mencari sosok malaikat kecilnya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, meskipun anak itu sudah bangun, pastilah ia langsung ke kamar Mamih Papihnya tapi pagi ini Sean tak datang kesana sama sekali.
__ADS_1
"Kemana perginya anakku?" gumam XyRa sambil menuruni anak tangga dengan sangat terburu buru.
Layaknya rumah utama dan kediaman Rahardian lainnya kini rumah yang di tempati XyRa pun diminta untuk sudah bersih sebelum Tuan dan Nyonya besar bangun lalu turun ke bawah. Jadi tak salah jika bangunan mewah itu kini sudah nampak sepi tak ada yang bersih-bersih sebab semua sudah tertata rapih jauh sebelum jam sarapan pagi.
Mata XyRa kini tertuju pada kamar tamu yang di tempati oleh Maya juga perawatnya. Pintu yang terbuka membuat ia penasaran dan akhirnya mendekat.
Ia yang berdiri tak jauh dari benda bercat coklat itu langsung mencelos saat melihat wajah terutama pipi Sean sedang di usap lembut oleh tangan Maya.
"Tidak, aku tak boleh sedih, aku harusnya senang karna Sean sudah menemukan apa yang pernah hilang. Tapi kenapa rasanya tetap sakit?" bathin XyRa dengan meremat kain baju tidur piyama di bagian dadanya.
Selama bersama, tentu ini adalah yang pertama kali melihat putranya dengan orang lain yang justru sebenarnya adalah ibu kandungnya sendiri.
XyRa paham, sebaik dan sesayang apapun ia pada Sean, akan ada ruang dan ikatan tersendiri dalam perasaan anak itu khusus untuk Maya yang tak bisa ia sentuh.
Tak ada rasa kecewa dalam hati wanita itu apalagi Cemburu pada orang yang seharusnya mendapatkan kasih sayang sama sepertinya hanya saja sedikit takut kehilangan waktu bersama dengan anak itu yang biasanya hanya dengannya seorang.
.
.
.
Mamih Maya cepet sembuh ya, Sean mau kamar lagi, nanti Mamih XyRa cari cari...
__ADS_1