Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 51


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


XyRa yang kembali ke kamar di antar lagi oleh Axel. Ia tak punya banyak waktu untuk sarapan bersama lalu mengantar Sean ke sekolah karna belum membersihkan dirinya sama sekali. Badannya yang masih lemas pun tentu tak di izinkan pergi oleh Sang suami meski sebenarnya ia bisa cukup membasuh wajahnya saja.


"Sean nanti bisa di antar supir, kamu jangan khawatir," ucap pria yang kini sedang menyiapkan obat untuk XyRa.


"Kasihan, Mas. Biasanya kan sama aku."


"Tapi kamu juga harus pikirkan kesehatanmu. Sean pasti paham dengan kondisimu sekarang," tambah Axel yang tak di jawab apapun oleh XyRa.


Melihat anak itu di urus Maya, hatinya kini mencelos sedih. Ada tangan lain yang sekarang menyentuh tubuh mungil Sang putra setelah ia Sah menjadi ibu sambung.


Mau merasa tak ikhlas, bukankah itu terlalu egois sedangkan posisi Maya bukan orang lain, jika tak ada wanita itu sudah bisa di pastikan Sean pun tak akan ada di dunia ini.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Axel.


"Tak ada, Mas. Aku mau mandi. Oh ya, jadwal kontrol dan terapi Mbak Maya kapan ya? aku lupa," tanya XyRa yang baru ingat hal tersebut.


"Entah, biar ku tanya Suster nanti."


"Memang kamu tak ingat?" tanyanya lagi yang di jawab gelengan kepala.


"Banyak hal yang jauh lebih penting dari itu, Sayang. Lagi pula untuk apa aku menyewa perawat jika hal seperti ini saja harus ku ingat? biarkan ia yang ingatkan nanti jika akan pergi ke rumah sakit," jawab Axel sambil mengelus perut istrinya.

__ADS_1


Ke khawatiran yang jauh lebih nyata kini bertambah satu yaitu calon anaknya bersama dengan Nona muda Rahardian. Nyawanya seakan jadi jaminan untuk beberapa bulan ke depan jika terjadi sesuatu pada keturunan Gajah tersebut. Axel yang dari keluarga biasa yang kini sukses karna kerja keras dan kepintarannya saja memang tak punya nama keluarga yang bisa di banggakan jadi mau tau mau nama Rahardian Wijaya sepertinya akan tersemat di belakang nama anaknya kelak.


XyRa tersenyum simpul mendengar jawaban santai namun masuk di akal yang di lontarkan suaminya barusan. Memang pria itu tak harus mengurusi mantan istrinya sebab beban pikirannya sudah sangat banyak sekarang. Tak adanya rasa dalam hati Axel pun membuat pria itu tak acuh, ia benar benar menganggap Maya adalah teman dan ibu dari putranya saja.


Rasa sakit hati mungkin akan hilang dengan seiringnya waktu dan permintaan maaf. Tapi sulit jika rasa itu sudah ke tahap kecewa. Hanya karna rencana konyol Maya buktinya kini Axel kehilangan sosok sahabat yang begitu sangat ia sayangi sebab seperjuangan saat mereka dalam posisi sama-sama tak punya.


Lalu, dimana Rian saat ini?


Tak ada kontak sama sekali diantara mereka setelah kejadian malam panas Axel dan Maya yang berujung hadirnya Sean. Rasa kecewa dan sakit hati yang Axel rasakan tak sebanding dengan Rian yang merasa di khianati kekasih dan sahabatnya sendiri.


.


.


.


Banyak pesan yang terlontar dari Si Menantu Rahardian untuk anak perempuan satu-satunya tersebut. Mulai dari apa yang harus dan tak boleh XyRa lakukan selama hamil. Ingin rasanya ia ikut mengurus dan memanjakan XyRa tapi Amih paham jika itu adalah di luar kuasanya sebab masih ada suami yang lebih bertanggung jawab atas putrinya. Sehebat apapun mereka tapi paling pantang untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anak jika bukan datang sendiri meminta tolong.


"Mih, kita makan dulu ya, XyRa udah lapar," ajaknya yang di setujui oleh semua orang yang ada di ruang tamu.


"Baiklah, tapi mana ibunya Sean, Amih tak melihatnya," tanya wanita itu yang membuat anak dan menantunya saling pandang.


"Ada dikamar, Mih. Sedang istirahat," jawab Axel.

__ADS_1


"Minta ia untuk makan malam bersama, hargai Sean karna itu ibunya, jangan sampai ia berpikir ibunya di asingkan disini. Bukankah semua sama?" pinta Amih yang seolah menjadi tamparan.


"Mih, bijak banget? makin cinta ma anak curut," timpal Apih dengan senyum menggodanya.


"Diem! aku lagi dapet wangsit nih dari Ummi Yayang," balasnya pada sang suami.


"Omegot! jangan ada yang bersin lagi kaya kemarin pas ngomongin Buaya," ujar ArXy yang memeluk adik iparnya dari samping.


"Eh.. eh... apa apaan nih?!" omel Axel sambil mendorong kakak ipar rasa musuh tersebut.


"Yaelah reflek, Dud." ArXy yang kesal malah meninju lengah Axel sampai yang lain akhirnya hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah dua pria dewasa tersebut.


"Makanya, cepet nikah biar ada yang peluk," sindir si adik kembar sambil mencebikkan bibirnya.


"Nah, betul. Masa iya ponakan lahir itu Unclenya masih jomblo," timpal Apih sambil tertawa.


"Iya, dan yang paling parah jomblonya dari lahir," sambung Amih yang membuat semua orang akhirnya benar-benar tertawa lepas.


.


.


.

__ADS_1


Gimana mau nikah, jodohnya aja masih jajan Cilok entah dimana!


__ADS_2