
"Kita kan udah suami istri, Dek. Jadi kamu ngapain tutup mata begitu?" Suara Mas Aak terdengar semakin dekat. Aku menutup mata semakin kencang. Pikiranku melayang, membayangkan banyak hal yang sebenarnya belum kulihat.
Aku bisa merasakan, Mas Aak kini berada di hadapanku. Kalau aku membuka mataku, pasti aku akan segera melihat tubuh Mas Aak, apapun kondisinya saat ini. Segera saja aku memalingkan wajahku.
"Kamu itu kok aneh sih? Aku nggak mau ngapa-ngapain juga." Mas Aak justru terkekeh, lalu berjalan menjauh.
"Biarin!"
Aku sudah merasa aman, jadi aku membuka mataku. Tapi emang dasar, sifat manusia yang selalu ingin tau, begitu juga dengan aku. Aku refleks saja mencari keberadaan Mas Aak.
"Cie, cie! Malu-malu tapi mau!" Mas Aak langsung saja meledekku, saat melihat gerak-gerikku. Ternyata dia sudah berbaring di kasur, dengan kaos oblong dan celana pendek.
"Apaan sih, Mas! Udah, sana keluar dulu! Sembahyang dulu atau gimana gitu! Aku mau ganti baju juga, Mas. Belum sembahyang juga!" Sontak saja aku mengomel, untuk menutupi rasa maluku karena ketahuan curi-curi pandang sebenarnya.
"Kamu nggak mau dibantuin ganti bajunya?" Mas Aak beranjak dari kasur, dia kembali meledekku. Nada bicaranya benar-benar terdengar menyebalkan di telingaku.
"Nggak! Udah, sana keluar!" Aku berjalan mendekati Mas Aak, kemudian mendorongnya mendekati pintu kamar yang terkunci.
"Iya, iya! Susah, lho lepasinnya. Apalagi itu hijabnya kan banyak aksesorinya, banyak jarumnya. Kamu yakin nggak butuh bantuan?" Mas Aak masih saja tersenyum meledekku. Aku berpikir sejenak. Benar juga yang dikatakan Mas Aak. Pasti akan sulit melepaskan hijab super ribet ini sendirian.
"Minta tolong sama Mbak Rina aja deh, Mas. Tolong dong, panggilin Mbak Rina!" Aku mencari jalan keluar. Mbak Rina adalah iparku, istrinya Mas Imron.
__ADS_1
"Kasian Mbak Rina, dia pasti repot sama Habibi. Kalau Habibi nangis gimana? Trus malah ikut ribet sama kamu gimana?" Mas Aak tidak setuju dengan usulku. Tapi mau bagaimana? Aku baru kenal Mbak Rina saja, karena tinggal satu rumah dengan Mas Aak saat ini. Sedangkan dengan ipar yang lain, aku tidak terlalu paham, karena memang belum pernah bertemu sebelumnya.
"Trus gimana dong, Mas?" Aku kebingungan, kalau saja sekarang aku ada di rumah, pasti aku bisa meminta tolong pada siapapun. Tetanggaku, keponakanku, sepupuku. Aku tidak akan sungkan untuk meminta tolong.
"Udah, sini aku bantuin aja! Aku nggak bakalan apa-apain kamu, kok. Nanti setelah ini, kita sembahyang berjamaah."
Baru kali ini, ucapan Mas Aak terdengar sangat menyejukkan hati. Tanpa gombalan ataupun kata manis, mengajak untuk sembahyang berjamaah, dia jadi imam dan aku makmumnya, ah, benar-benar impianku sejak dulu.
"Yaudah deh, Mas." Akhirnya senyumku mengembang, setelah dari tadi bawaannya sewot terus.
"Nah, kenapa nggak nurut aja dari tadi, sih? Malah ngajak debat segala. Kan jadi lama." Giliran Mas Aak yang mengomeliku, dia mulai melepas mahkota yang masih bertengger di kepalaku.
"Duduk dulu di sana! Biar gampang nyari jarumnya." Mas Aak menunjuk sebuah kursi di depan meja rias. Aku baru sadar, kenapa ada kursi dan meja rias di sana? Sangat kontras dengan suasana kamar yang terlihat selera cowok banget.
"Kok ada meja rias di sini, Mas?" Aku bertanya, sembari berjalan mendekati meja rias, lengkap dengan lampu-lampu di samping cerminnya, sudah seperti milik artis-artis.
"Iya, Ibu yang beliin, khusus buat kamu. Aku sih awalnya nolak, nggak cocok banget dengan seleraku. Tapi kamu tau sendiri, kan. Ibuku nggak pernah bisa dibantah. Jadi, ya sudah deh. Dengan terpaksa." Mas Aak menjelaskan, raut wajahnya meyakinkan kalau dia benar-benar terpaksa.
"Ih, jahat banget! Makasih mama mertua!" Aku tersenyum sendiri, sengaja meledek Mas Aak yang masih cemberut.
"Dasar, mar'atun!" Mas Aak mengumpat, membuatku tersenyum makin lebar, karena aku tau apa yang dimaksudkan Mas Aak. Dalam Bahasa Arab, Mar'atun artinya perempuan, sifatnya mirip seperti mir'atun yang artinya cermin.
__ADS_1
"Mas kok tau mar'atun segala, sih?" Aku duduk di depan meja rias, sedangkan Mas Aak mulai membongkar hijabku.
"Ya taulah. Itu kan kata-kata populer, jadi ya nggak mungkin aku nggak tau." Mas Aak menyombongkan dirinya.
"Heleh." Aku memiringkan bibirku, meledek Mas Aak, meskipun entah dia melihat atau tidak.
Kami berdua terlibat dalam obrolan-obrolan ringan, sambil melepas hijabku. Ternyata Mas Aak tidak seburuk yang kupikirkan. Dia punya selera humor yang tinggi, meskipun humor tidak akan pas kalau ditempatkan saat keadaan serius, seperti tadi pagi. Aku sudah bisa merasa, Mas Aak memang jodoh yang tepat untukku, dia bisa membuatku yang cenderung kaku ini menjadi lebih rileks dan santai.
"Mas, jadi kita gimana makannya? Kalau tinggal satu rumah dengan mertua dan juga kakak ipar?" Aku mulai mengajak Mas Aak membicarakan masalah yang menurutku paling penting dalam berkeluarga.
"Kalau Mbak Rina sih biasanya masak sendiri, soalnya selera Mbak Rina beda sama Bapak Ibu. Bapak Ibu nggak suka makan pedes, karena memang usianya yang sudah lanjut. Jadi harus hati-hati sama makanan. Kalau aku selama ini ya santai aja, mana yang ku suka, aku ambil. Kadang makan masakannya Mbak Rina, kadang makan masakannya ibu. Suka-suka aja gitu." Mas Aakn menjawab tanpa beban.
"Ya, itu kan dulu pas kamu masih bujang, Mas. Sekarang kamu kan udah berkeluarga, jadi ya nggak bisa kalau seperti itu. Masa aku juga cuma ikut makan di sana atau di sini sih? Kan nggak bagus buat kita, Mas? Jadi nggak mandiri." Aku sedikit kecewa sebenarnya, ternyata Mas Aak belum memikirkan hal ini.
"Udah, makannya ikut sama Bapak Ibu aja. Nasi dan lain sebagainya, mereka juga nggak mungkin bisa menghabiskan makanannya, kok. Tapi kalau kamu pengen makan menu lain, ya itu, baru kamu masak. Tapi nasinya pokok ikut Bapak Ibu aja." Mas Aak akhirnya memberikan jawabannya.
"Kenapa nggak masak nasi sendiri sekalian, Mas? Kan jadi benar-benar seperti orang yang berkeluarga. Tidak mengandalkan orang tua, gitu. Kalau dari yang kudengar, tinggal satu rumah dengan orang tua itu nggak papa kalau memang terpaksa belum mampu, tapi setidaknya pidah dapur. Dalam artian mengurus dapur sendiri, masak sendiri, begitu, Mas." Aku mencoba membuat Mas Aak membuka pikirannya.
"Ngapain repot-repot sih? Dipermudah kok nggak mau. Aneh kamu itu, Dek. Tinggal ikut aja kan gampang?" Mas Aak masih tetap pada pendapatnya.
Aku terdiam. Seperti yang sudah kupikirkan sebelumnya, Mas Aak memang masih belum bisa berpikir dewasa. Dia masih suka menggantungkan diri pada orang tuanya.
__ADS_1