Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 27


__ADS_3

"Kamu jangan ngomong seperti itu, Mel. Sampai kapanpun, kamu tetap anak kami. Meskipun kamu sudah menikah, sudah menikah, bahkan sampai kami matipun, kamu tetap anak kami, Mel. Jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap tolong menolong. Begitu juga dengan kamu, Mel. Suatu saat mungkin Bapak Ibu butuh bantuan kamu, atau adik-adik kamu yang butuh bantuan kamu, maka tolonglah, selama kamu bisa. Karena sampai kapanpun, kita tetap keluarga, Mel." Ibu tersenyum, terlihat begitu tulus. Semoga saja aku bisa jadi sekuat Ibu dan setulus ibuku dalam menyayangi anak-anakku kelak.


"Trimakasih ya, Bu. Mela bingung mau dapat uang dari mana lagi, kami nggak bisa kalau cuma ngandelin uang bayaran Mas Aak sama honor sekolahku, Bu. Cuma cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Belum bisa untuk menabung sama sekali. Padahal kebutuhan ke depannya pasti akan lebih banyak lagi. Ini aja mending, keluarga Mas Aak nggak menganut paham yang harus syukuran empat bulanan, tujuh bulanan dan lain sebagainya. Lumayan bisa membuat pikiran sedikit tenang. Tapi untuk kebutuhan persalinan dan setelahnya, Mela takut kalau ada kebutuhan tak terduga, Bu." Aku kembali meneritakan apa yang terus saja membebani pikiranku.


"Kamu tenang aja, Mel. Selama kamu cerita, Bapak nggak akan membiarkan kamu memikirkan itu sendiri. Bapak pasti akan membantu, bagaimanapun caranya. Entah itu dicarikan hutangan, atau jual apa yang dipunya. Pokoknya kamu nggak perlu khawatir. Yang terpenting kamu jaga kesehatan, juga jaga kewarasan. Kalau capek istirahat, jangan dipaksa. Dan yang penting, kalau ada apa-apa cerita." Ibu kembali memberiku nasehat yang mungkin akan sulit kulakukan. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan permasalahan hidup keluargaku dan justru meminta orang tuaku untuk terus memikirkan masalahku? Padahal dulu tujuanku menikah salah satunya supaya mengurangi beban pikiran Bapak, kan?


"Kalau suamimu kurang bisa kamu ajak berbicara mencari solusi, kamu masih punya kami, Mel. Bapak dan ibumu. Nggak masalah berbagi cerita pada kami, itu lebih baik, daripada kamu mencari solusi dari luar rumah. Biar bagaimanapun, kamu harus menjaga harkat dan martabat suami kamu, seburuk apapun kelakuannya terhadapmu, kamu harus tetap menghormati dia. Kamu harus tetap ingat itu ya, Mel!" Ibu menambahkan lagi.


Aku mengangguk, " Iya, Bu. Aku nggak pernah berkeluh kesah ke luar kok, Bu. Apapun yang Mela rasakan, selalu Mela pendam sendiri. Makanya Mela jadi agak kurusan, meskipun sedang hamil yang seharusnya berat badan Mela nambah, yang ada malah turun terus." Aku melihat pergelangan tanganku yang semakin terlihat jelas tulangnya menonjol. Padahal dulu jarang sekali seperti ini.


"Jangan terus terusan seperti ini, Mel. Kasihan kamu, juga anak kamu, kalau dia kurang gizi bagaimana? Kalau dia nggak tumbuh sesuai yang seharusnya bagaimana? Coba lebih diperhatikan lagi makanmu, Mel. Coba diperiksakan, di USG. Semoga saja tetap tumbuh sesaui dengan usia kehamilanmu. Jadi mungkin saja yang membuat kamu kurus itu karena sari makanan yang seharusnya untuk tubuhmu, diserap janin kamu. Tapi kamu ada rasa lemes dan lain sebagainya atau enggak? Ibu kok jadi khawatir." Ibu memberiku perhatian yang memang selalu beliau berikan padaku.


Suamiku bahkan tidak peduli tentang hal ini. Meskipun saat diberi nasehat oleh bidan dia mengangguk-angguk, siap memperhatikan semua kebutuhanku, membantuku mengerjakan pekerjaan rumah supaya meringankan bebanku dan lain sebagainya, tapi nyatanya tidak terbukti sama sekali. Hanya di awal saja. Aku bahkan tidak tau, apa Mas Aak menginginkan anak ini atau tidak.

__ADS_1


"Mela baik-baik saja kok, Bu. Memang katanya awal-awal kehamilan biasa seperti ini. Semoga saja setelah ini berat badan Mela bisa naik, sesuai yang seharusnya. Ini kan udah empat bulan lebih, Mela juga udah doyan makan kok, Bu. Semoga saja semuanya baik-baik saja." Aku tersenyum, menenangkan ibuku yang terlihat sangat khawatir.


"Aamiin, Mel. Tapi tetap Ibu sarankan kamu periksakan ke dokter kandungan, biar di USG. Kamu sudah pernah USG belum?"


Aku menggeleng pelan, " Belum, Bu. Biaya USG lumayan mahal, aku baru ngumpulin uangnya." Mungkin memang sangat telat, ataupun terlalu lama aku mengumpulkan uang. Tapi mau bagaimana lagi? Memang nyatanya uangku belum kunjung cukup. Padahal aku bukan orang yang boros. Tapi ternyata kebutuhan orag berumah tangga memang jauh lebih besar daripada kebutuhan saat masih gadis dulu.


"Suamimu kerjanya lancar, Mel?" Ibu kembali bertanya.


"Alhamdulillah, Bu. Setiap hari Mas Aak pergi, tapi bayarannya memang nggak banyak, Bu. Jadi Mas Aak sama aja nggak bisa bantu banyak." Aku menjawab lemah, selama ini aku memang selalu berpositif thingking kalau suamiku berangkat kerja setiap hari.


"Aamiin, Bu. Makanya Mela mau berusaha mencari jalan untuk mencari rejeki yang lebih luas lagi, Bu. Siapa tau dengan bertani, hasilnya bisa lumayan. Ya meskipun waktunya memang lama."


"Iya, Mel. Besok ditanami beberapa jenis sayuran aja, jadi panennya bergantian, biar ada pemasukan terus. Kalau cuma satu jenis, nanti sudah selesai panen ya sudah. Nunggunya lama lagi, kan enak kalau berkesinambungan." Ibu memberiku saran.

__ADS_1


"Iya juga sih, Bu." Aku mengngguk setuju. Biar bagaimanapun, Ibu yang sudah sangat berpengalaman dalam bertani, jadi beliau yang lebih tau daripada aku yang baru akan mencoba ini. Tapi aku bingung juga, bagaimana nanti kalau aku sudah hamil besar, sudah melahirkan dan punya bayi? Masa iya, aku yang tetap bertani? Siapa yang akan menjaga anakku nanti? Ibu mertuaku tida mungkin kurepoti, kasihan beliau kalau kecapean gampang sakit. Kakak iparku juga sibuk dengan anak bungsunya yang masih balita.


"Kamu tenang aja, Bapak sama Ibu bantuin, kalau kamu nggak bisa ke sawah nggak masalah. Karena besok kamu akan disibukkan dengan anak kamu, kan?" Ibu memang luar biasa, beliau bisa tau apa yang kupikirkan.


"Trimakasih banyak ya, Bu." Aku tersenyum, merasakan ketenangan yang luar biasa. Karena aku tau, ucapan Ibu bukan hanya omong kosong belaka. Beliau pasti akan melakukan apa yang sudah beliau ucapkan, tidak seperti Mas Aak yang masih labil, kadang iya, kadang tidak. Benar-benar menyebalkan.


"Assalamu'alaikum."


Aku dan Ibu menengok ke sumber suara, "Wa'alaikumussalam, udah pulang, Git?" tanyaku pada Sigit.


"Nggak jadi touringnya, jadinya pulang aja." Sigit menjawab dengan muka lesunya.


"Oh, ya udah nggak papa. Malah bisa istirahat, besok kan sekolah." Aku membesarkan hatinya.

__ADS_1


"Iya. Mbak Mela udah di sini dari tadi? Aku tadi lihat Mas Aak nongrong di tempat biasa," ucap Sigit sambil melepas jaketnya. Namun aku merasa janggal dengan ucapan Sigit.


"Nongkrong ditempat biasa? Emang biasanya Mas Aak nongkrong di mana?"


__ADS_2