
Setelah dikerok, badanku terasa lebih enak. Aku jadi ragu, antara hamil atau tidak. Tapi lebih pastinya, memang lebih baik diperiksakan saja. Daripada bingung dan salah penanganan.
"Siap-siap periksa ya, Dek! Nanti aku antar ke puskesmas." Mas Aak berkata, sekembalinya dari cuci tangan.
"Loh, Mas nggak kerja? Nanti dimarahin bosnya gimana? Kalau jadi nggak dikasih kerjaan lagi gimana?" Aku khawatir dengan segala kemungkinan yang terjadi kalau Mas Aak bolos kerja. Karena biar bagaimanapun, rasanya sayang kalau sampai kehilangan pekerjaan lagi, mengingat Mas Aak bekerja juga belum terlalu lama.
"Nggak papa, nggak bakalan dimarahin kok. Nanti aku ijin setengah hari. Ya pokoknya se selesainya kamu periksa. Aku kan pengen tau juga kondisi kamu yang sebenernya." Mas Aak mulai bersiap, berganti pakaian yang lebih pantas.
"Oh, oke deh kalau gitu." Aku juga ikut berganti pakaian, meskipun belum mandi, nggak papa lah, darurat, pikirku.
Kami pun pergi ke puskesmas pagi itu dan langsung mendaftar periksa di poli kebidanan. Karena memang kami curiga kalau aku hamil. Jadi, biar tidak kerja dua kali, aku langsung saja mendaftar di sana.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya namaku dipanggil. Aku dan Mas Aak masuk ke ruang bidan dan duduk di kursi yang disediakan.
"Bagaimana, Bu? Ada yang bisa kami bantu?" ucap Bu Bidan dengan senyum ramah.
"Ini, Bu. Pagi ini saya rasanya mual juga lemes. Mau minum obat takut kalau misalnya ternyata hamil. Soalnya sudah telat dua minggu, Bu." Aku menjelaskan kronologi berserta keluhanku.
"Belum dites ya, Bu?"
"Belum, Bu." Aku menggeleng pelan.
"Baik, kalau begitu tensi dulu saja, ya." Bu Bidan menuiapkan alat tensi digital yang ada di mejanya. Aku mengangguk lagi.
Setelah rangkaian pemeriksaan awal, Bu Bidan menuliskan sesuatu pada kertas yang bentuknya kecil tapi panjang.
"Silahkan ke lab dulu ya, Bu. Cek urine dan cek darah sekalian, jadi biar nggak bolak-balik cek lab, kalau memang ternyata hamil." Bu Bidan menyerahkan selembar kertas kecil dan panjang itu padaku.
"Baik, Bu. Permisi." Aku melihat tulisan yang di centang di sana. Istilahnya cukup asing bagiku, mengingat aku memang awam dalam hal kesehatan. Hal yang umum, karena aku memang bukan orang medis. Aku dan Mas Aak beranjak dari tempat duduk, bersiap untuk meninggalkan ruang bidan itu.
__ADS_1
"Nanti kalau hasilnya sudah keluar, di bawa ke sini lagi ya, Bu!" Bu Bidan berpesan, sebelum kami keluar dari pintu masuk ruangan.
"Baik, Bu." Aku menoleh sebentar, untuk menghormati beliau.
"Labnya di sebelah mana, Mas?" Aku bertanya, karena baru pertama kali ini aku ke puskesmas sini. Mengingat ini bukan puskesmas untuk daerahku.
"Mmmm, aku juga nggak tau." Mas Aak celingukan, mencari tulisan yang bisa dijadikan petunjuk.
"Lah, Mas juga nggak pernah ke sini?" Aku heran, kok Mas Aak juga tidak tau ruangan yang ada di puskesmas ini.
"Ya aku kan jarang sakit. Kalaupun sakit juga nggak pernah sampai periksa. Jadi, aku nggak tau, Dek. Lagipula ini bangunan baru, jadi udah beda banget tatanannya." Mas Aak menjelaskan, sebelum akhirnya memutuskan untuk bertanya pada petugas puskesmas yang kebetulan lewat.
"Mas, Mas! Ruang lab di sebelah mana, ya?" tanya Mas Aak pada petugas itu.
"Oh, lab ada di belakang, Mas. Lewatnya gang itu, nanti setelah kamar mandi, belok kiri," jelas petugas tersebut, sambil memunjukkan arah yang harus kami lewati.
"Sama-sama, Pak." Petugas tersebut berlalu meninggalkan kami berdua yang sudah tifak celuingukan lagi.
Kami segera berjalan, sesuai dengan petunjuk yang diberikan betugas tersebut. Meskipun aku harus berjalan pelan-pelan, mengingat kondisiku yang belum terlalu membaik.
Setelah menemukan ruang lab, aku meletakkan kertas panjang dari bidan tadi di keranjang yang disediakan. Kemudian kami duduk di kursi yang disediakan. Untungnya tidak terlalu banyak antrian. Jadi, tak lama kemudian, aku dipanggil oleh petugas lab. Aku segera mendekat lagi ke loket.
"Bu, ini untuk tempat urine ya. Silahkan ke kamar mandi dulu!" Petugas memberiku botol kecil yang biasa digunakan untuk tes urine. Aku segera menerimanya.
"Baik, Pak." Aku mengangguk, rasanya sedikit canggung, karena ternyata petugasnya laki-laki. Itu artinya, nanti yang akan mengambil sampel darahku juga dia. Jadi aku akan dipegang oleh dia? Pikiranku jadi tidak karuan. Padahal setengah mati aku menjaga diriku biar tidak disentuh oleh laki-laki yang bukan mahromku. Tapi kalau begini, bagaimana?
"Nggak papa, Dek. Darurat." Mas Aak menepuk pundakku. Aku menoleh padanya dengan pandangan aneh.
"Apa Mas Aak tau apa yang kupikirkan?" batinku. Tapi Mas Aak malah tersenyum padaku, sepertinya dia memang membaca kegelisahanku. Benar-benar aneh! Kadang nggak peka sama sekali, tapi ini kok malah bisa tau apa yang kukhawatirkan? Memang tidak bisa ditebak!
__ADS_1
"Oke, Mas." Aku mengangguk.
"Bisa sendiri? Apa mau kutemani?" Mas Aak menawarkan, mungkin dia khawatir kalau terjadi sesuatu di kamar mandi nanti.
"Aku bisa sendiri kok, Mas. Lagipula, kamar mandi juga cuma dekat."
"Oke."
Aku segera ke kamar mandi, mengambil sampel urine. Sedangkan Mas Aak masih duduk di kursi tunggu, tidak ikut mengantarkanku.
Setelah selesai, aku mengembalikan sampel urine ke wadah yang sudah disediakan. Kemudian duduk menunggu lagi. Namun, tak lama kemudian aku sudah dipanggil lagi, untuk pengambilan sampel darah.
"Rileks, Bu! Tenang! Jangan takut! Tarik nafas!" Petugas lab memberiku instruksi. Dia mengira kalau aku takut, padahal sebenarnya aku masih belum rela kalau tanganku dipegang-pegang oleh lelaki yang tidak kukenal sama sekali itu.
"Kalau tegang terus, nanti darahnya nggak keluar, Bu. Nanti malah disuntik di beberapa tempat, cari tempat yang bisa keluar darahnya. Nanti malah tambah sakit lho! Jadi lebih baik tenang, tarik nafas, rileks!" sepertinya petugas lab mulai gemas padaku, jadi dia mengeluarkan ancaman yang memang berhasil membuatku berusaha untuk rela.
"Nggak papa, Mel. Ini darurat. Toh petugasnya pakai sarung tangan, jadi nggak sentuhan langsung." batinku menenangkan diri, sambil menarik nafas dan buang nafas beberapa kali.
"Sudah siap?" tanya petugas itu lagi.
"Sudah, Pak." Aku mengangguk mantap. Aku memejamkan mataku, juga mengepalkan tanganku dengan erat.
"Bismillah, maaf ya, Bu. Suntik dulu." Petugas ternyata sangat menjaga etika dan sopan santun.
Akhirnya darahku berhasil diambil, aku masih harus menunggu lagi beberapa saat. Menunggu hasilnya keluar. Sekitar setengah jam kemudian, petugas kembali memanggilku dan memberikan hasil lab, sesuai yang diminta bidan lagi.
Aku melihat kembali hasil lab itu, mencari tulisan yang menunjukkan aku hamil atau tidak. Tapi tidak ada sama sekali tulisan yang menunjukkan positif hamil.
"Mana sih tulisannya?" Aku gemas pada diriku sendiri yang nggak tau apa-apa dalam hal ini.
__ADS_1