Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 14


__ADS_3

"Baru bangun tidur udah langsung ngerokok? Apa kamu nggak sayang sama tubuh kamu sendiri, Mas?" Aku menatap suamiku dengan tatapan tajam.


"Ya habisnya gimana ya, Dek. Udah kebiasaan, kalau nggak ngerokok malah mulutnya rasanya nggak enak. Kalau sehari nggak makan, aku masih kuat, Dek. Tapi kalau sehari nggak ngerokok? Nggak kuat! Kalau puasa aja, yang jadi makanan pembuka ya rokok, masalah makanan sih belakangan. Rokok udah jadi kebutuhan pokok." Mas Aak menjawab dengan santai, membuatku semakin sebal.


"Kalau aku minta kamu untuk berhenti merokok, kira-kira gimana, Mas? Dulu pas kita kenalan, katanya kamu sanggup untuk memperbaiki diri?" Aku kembali mengingatkan Mas Aak, barang kali dia lupa dengan hal ini, jadi masih belum menunjukkan perubahan sama sekali.


"Kalau berhenti total bakalan sulit, Dek. Kamu nggak tau sih, gimana perjuanganku saat pertama kali merokok? Sakit, batuk-batuk. Jadi sekarang udah bisa merokok dengan lancar itu hasil dari perjuangan jaman dulu. Kamu juga pasti nggak mau kan, kalau apa yang kamu perjuangkan dari dulu, akhirnya harus kamu tinggalkan?"


Aku geleng-geleng kepala, aku benar-benar tidak paham bagaimana logika yang dipakai Mas Aak.


"Ya kamu yang aneh, udah tau merokok itu menyakitkan, masih aja diterusin. Dan juga jangan samakan merokok dengan perjuangan dalam hal positif, Mas. Itu jelas nggak sebanding!"


"Ya iya, tapi perumpamaannya kan seperti itu."


"Jadi intinya, kamu mau berusaha berhenti dari rokok apa enggak, Mas?" Aku mensedekapkan tangan dan mengangkat sebelah alisku. Aku mencoba menantang Mas Aak, siapa tau cara ini akan berhasil, karena aku sadar diri, Mas Aak tidak seperti cowok-cowok yang bucin sama pacarnya dan rela melakukan apa saja demi menyenangkan pacarnya, termasuk meinggalkan hal yang sangat ia gemari.


"Ya, tapi nggak bisa langsung. Harus bertahap." Mas Aak menjawab dengan ragu.


"Oke, kalau gitu, dimulai dari mengurangi jumlah konsumsi rokok. Sehari kamu biasanya habis berapa batang?" Aku mencari data terlebih dahulu.


"Ya biasanya sih sebungkus itu habis sehari." Mas Aak terlihat mengingat-ingat, bola matanya melihat ke atas.


"Oke, mulai besok sebungkus buat dua hari. Aku kasih waktu selama seminggu. Gimana, Mas? Berani, nggak?"


"Oke! Siapa takut?"


Dalam hati aku bersorak, taktikku berhasil.

__ADS_1


"Tapi gantinya, beliin permen yang banyak ya, Dek."


"Huu. Dasar!" Aku melempar bantal yang sedang kurapikan, tepat mengenai Mas Aak.


"Hahaha. Nanti kita jalan-jalan yuk? Naik vespaku? Mau nggak?"


"Jalan-jalan kemana, Mas?"


"Kemana aja nanti, ikutin vespaku mau jalan ke mana. Kamu pasti belum pernah jalan-jalan naik vespa kan?"


"Mmm, belum pernah sih, Mas. Bayanginnya aja udah pegel duluan. Gimana ya?" Aku berpikir sejenak.


"Kalau kamu nggak mau, nanti aku jalan-jalan sama temen-temenku aja kalau gitu. Hari ini mereka mau touring." Mas Aak mulai memberikan ancaman.


"Kalau aku ikut, berarti ikut temen-temenmu touring juga? Apa jalan-jalan berdua aja?"


"Ya berdua aja, Dek. Itung-itung liburan, biar kita tambah kenal satu sama lain kan? Dengan suasana baru gitu, biar kamu nggak cuma marah-marah." Mas Aak kembali tersenyum menggodaku.


"Oke, sip! Nati kita berangkat kalau udah siap aja. Toh cuma berdua, nggak diburu-buru waktu." Mas Aak tersenyum girang.


"Oke, Mas."


"Yaudah, sana masak dulu! Cacingku udah teriak-teriak minta makan nih!" Mas Aak membalas melempar lagi bantal tadi ke arahku.


"Katanya nggak makan nggak papa, yang penting udah ngerokok?" Aku membalikkan perkataan Mas Aak tadi.


"Kan bukan aku yang minta makan, tapi cacing-cacingku, Dek."

__ADS_1


"Heleh, alesan!" Aku memutuskan untuk meninggalkan Mas Aak di kamar. Toh kamar sudah beres lagi, memang lebih baik aku kembali ke dapur saja. Lebih cepat masak, lebih cepat mateng, lebih cepat makan, lebih cepat berangkat jalan-jalan. Kalau terlalu siang, nanti udaranya panas, ditambah suara vespa yang berisik. Menambah susana hati jadi makin panas pastinya.


Sesampainya di dapur, ibu mertuaku sudah selesai memasak. Tapi aku dari tadi tidak melihat iparku di dapur. Apa mungkin hari ini sedang tidak memasak?


"Mbak Rina kok dari tadi belum kelihatan ya, Bu?" Aku menyamarkan pertanyaanku yang sebenarnya.


"Oh, mungkin lagi masak. Biasanya jam segini masak, mumpung anaknya belum bangun." Ibu mertuaku meletakkan bekas alat masak di tempat cucian, bukan wastefel seperti rumah di kota-kota, tapi lebih seperti tempat untuk wudhu di masjid-masjid itu, jadi tempat cucian piringnya luas, bisa untuk meletakkan banyak barang yang kotor.


"Loh, apa masaknya nggak di sini, Bu?"


"Enggak. Dia punya dapur sendiri, di belakang rumah ini. Nanti cobalah kamu jalan-jalan keliling rumah, Mel! Biar tau ada apa aja di rumah ini."


"Hehe, iya, Bu." Aku tersenyum, memang masih banyak hal yang belum ku ketahui di sini. Tapi aku rasa hal yang wajar, karena belum genap 24 jam aku ada di sini.


"Yaudah, kamu lanjutin masak, ya. Ibu mau naruh sayur di meja makan." Ibu mertuaku sudah membawa satu mangkuk sayuran di tangan kanannya, entah sayuran apa, juga membawa tempe goreng di tangan kirinya. Aku melihat tempe yang tadi kuambil dari kulkas, ternyata sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin tempenya sudah digoreng itu.


"Baik, Bu."


"Oh ya, itu cuciannya biarin aja, nggak perlu kamu cucikan, Mel. Nanti biar bapak yang cuci. Ibu nggak bisa kena air dingin terlalu lama, gampang masuk angin soalnya." Ibu mertuaku kembali berpesan, sebelum melanjutkan langkahnya.


"Oh, iya, Bu." Aku melihat ke arah cucian, tidak terlalu banyak barang yang ada di sana sebenarnya, nanti aku cucikan sekalian juga nggak masalah sebenarnya.


Aku melanjutkan memasak seperti rencana, mencoba menghidangkan makanan yang enak untuk suamiku tercinta (sedang kuusahakan sebenarnya).


"Bismillah, semoga Mas Aak suka." Gumamku sebelum mulai memasak.Entah kenapa, jantungku kembali berdebar dengan cepat. Aku takut kalau tidak bisa memasak dengan enak. Apalagi aku memang tidak pernah memasak, hanya dulu sewaktu jadi anak kos saja, memasak kalau lagi mau. Selebihnya memilih beli masakan yang sudah matang.


Sedangkan di rumah, ibuku yang memasak. Aku paling cuma membantu saja. Meskipun bisa sambil belajar memasak, tapi kata orang, beda tangan beda rasa. Dan aku tidak yakin kalau tanganku bisa menghasilkan masakan yang enak. Aku benar-benar khawatir kalau nanti masakanku dikomentari, ala-ala perlombaan chef di TV itu.

__ADS_1


Dengan kekuatan icap-icip berkali-kali, akhirnya masakanku matang, sop bening dengan sambel. Ternyata Mas Aak sudah menunggu di ruang makan, sepertinya dia memang sudah kelaparan. Dia langsung mengambil masakanku yang baru saja kuletakkan di meja, kemudian menyantapnya, tanpa menungguku, ataupun Bapak Ibu.


"Gimana rasanya, Mas?" Aku harap-harap cemas, menunggu jawaban dari Mas Aak yang masih mengunyah.


__ADS_2