
Jantungku berdebar tidak karuan, menunggu kabar dari Mas Aak yang bergegas ke bangsal Melati setelah mendapat panggilan dari perawat bangsal khusus bayi baru lahir yang butuh penanganan khusus itu. Dalam hati aku hanya bisa terus berdoa, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada putriku. Meskipun entah kenapa, pikiranku tetap berpikiran buruk, tidak mungkin dipanggil jam segini kalau hanya untuk mengurus administrasi, kan? Pasti ada berita penting yang harus segera disampaikan pada kami.
Setelah tersiksa karena menunggu, akhirnya Mas Aak datang dengan nafas yang memburu.
"Gimana, Mas? Ada apa?" tanyaku langsung pada Mas Aak.
Mas Aak mengusap wajahnya kasar. Aku bisa melihat kegusaran di wajah suamiku, mungkin memang terjadi hal yang buruk, tapi dia bingung mau memberitahuku atau tidak.
"Nggak papa, Mas. Bilang aja, apa yang sebenarnya terjadi! Kamu nggak perlu mengkhawatirkan keadaanku," ucapku lagi, meyakinkan suamiku.
Mas Aak menarik nafas panjang, "Anak kita, Dek. Tadi sempat henti nafas, jadi dipompa dengan tekanan 100% sama perawat. Saat ini masih bisa bernafas dengan bantuan alat itu, tapi badannya mulai kaku, kulitnya membiru, mulai ada pendarahan juga di saluran nafasnya," jawab Mas Aak sembari menarik nafas panjang.
Air mataku seketika jatuh menetes tanpa bisa dibendung lagi. Siapa yang tidak sedih, mendengar kabar yang menyeramkan itu? Aku bahkan belum sempat melihat wajah putriku, apa aku tidak akan sempat melihatnya?
"Jadi sama perawat aku diminta memutuskan, mau seperti itu terus, atau mengikhlaskan saja kalau terjadi hal paling buruk. Karena kalau seperti itu terus juga tidak akan bagus untuk bayi kita. Takut kalau paru-parunya rusak kalau dipompa dengan tekanan maksimal terus menerus. Aku tidak bisa memutuskan, jadi aku minta pendapatmu, Dek." Mas Aak kembali melanjutkan, menjelaskan inti dari pembicaraan dengan perawat tadi.
Jujur saja aku masih belum bisa menerima, tapi kasian juga kalau keegoisanku justru akan membuat bayiku tersiksa lebih lama, kan? Aku menimbang berbagai hal dari apa yang disampaikan Mas Aak, kemudian menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan pendapatku.
"Ya sudah, Mas. Mungkin memang belum rejeki kita untuk memiliki anak tersebut. Kalaupun akhirnya putri kita meninggal, aku akan mencoba ikhlas, Mas. Sekuat dia saja, kita tidak perlu memaksakan, daripada kondisinya justru semakin buruk, kasihan dia, Mas," ucapku masih sambil berlinang air mata.
Biar bagaimanapun, ini keputusan yang berat. Tapi sebagai seorang ibu, aku benar-benar tidak tega kalau anakku kesakitan terus menerus.
__ADS_1
Mas Aak memelukku, "Baiklah kalau memang seperti itu, semoga ini memang keputusan yang terbaik. Semua memang sudah digariskan. Semoga saja dia akan menjadi tabungan kita di akhirat kelak, Dek," ucap Mas Aak di belakang telingaku.
Aku mengangguk, meskipun dalam hati aku masih tetap menyalahkan diriku sendiri. Kalau saja aku bisa mengontrol pikiranku selama ini, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.
Setelah mendapat persetujuanku, Mas Aak kembali ke bangsal Melati untuk menandatangani keputusan kami. Aku hanya bisa pasrah, detik demi detik terasa sangat lama. Tak sedikitpun mataku bisa terpejam.
Mas Aak belum juga kembali lagi, padahal katanya bangsalku dan bangsal khusus bayi bersebelahan, jadi tidak membutuhkan banyak waktu untuk berjalan ke sana. Tapi kenapa lama sekali?
Aku melihat jam dinding yang dipasang di tembok sampingku, sudah satu jam lebih Mas Aak belum juga kembali. Aku benar-benar khawatir. Beruntung tak lama kemudian, Mas Aak sudah kembali.
"Gimana, Mas?" tanyaku lagi, entah jawaban apa yang sebenarnya kuinginkan, tapi aku sangat penasaran.
"Ikhlaskan putri kita ya, Dek. Tuhan lebih sayang sama dia," jawab Mas Aak dengan mata yang masih merah, tanda dia sudah menangis lebih awal.
"Rumah udah dikabari, Mas?" tanyaku saat sudah bisa mengatur diriku.
"Sudah, Bapak Ibu juga sudah ku kabari. Mereka titip pesan, kamu harus sabar dan kuat, ya," jawab suamiku lirih. Aku mengangguk, meskipun masih belum bisa berhenti menangis.
"Mas, aku mau pulang juga hari ini. Pokoknya aku harus ikut pulang!" ucapku di sela isakan tangisku.
"Sabar ya, Dek. Nanti Mas coba bilang ke perawatnya, biar kita bisa pulang bareng," jawab Mas Aak menenangkanku. Aku kembali mengangguk.
__ADS_1
Beruntung, tak lama kemudian perawat datang ke ruanganku. Padahal ini bukan jam kunjungan perawat. Ternyata perawat bangsalku sudah mengetahui kabar meninggalnya bayiku, jadi menawariku untuk ikut pulang sekalian atau tidak. Tentu saja aku memilih ikut pulang.
Aku pun pulang menggunakan mobil ambulance yang disediakan pihak rumah sakit. Aku duduk di sebelah sopir sambil menggendong bayiku yang sudah terbungkus kain bedong seluruhnya. Tak hentinya aku menangis di sepanjang perjalanan pulang.
"Sudah lah, Bu. Diikhlaskan saja, ini sudah kehendak yang Maha Kuasa," ucap sopir ambulance.
"Iya, Pak. Saya masih butuh waktu," jawabku pelan.
Sesampainya di rumah mertuaku, aku sudah disambut keluarga, termasuk Mas Aak yang tadi pulang mengendarai motor. Dengan sigap mereka menangkapku yang berjalan dengan lemah. Ada juga yang mengambil bayiku dari gendonganku.
Aku memilih untuk ke kamar saja, kembali hanyut dalam perasaan sedihku. Aku tidak sanggup melihat wajah putriku, yang pastinya sudah pucat pasi. Aku takut menimbulkan kenangan buruk kalau memaksa untuk melihatnya. Ibuku beserta ibu mertuaku terus menerus menguatkanku.
"Sudahlah, Mel. Ini semua sudah digariskan, kamu tidak perlu sedih terlalu lama. Yakin, semua ini pasti ada hikmahnya," ucap ibu mertuaku, sambil mengusap-usap pundakku.
"Tapi, Mela ngrasa ini semua salah Mela, Bu," jawabku, mengutarakan apa yang kurasakan saat ini.
"Tidak ada yang salah, Mel. Memang ini sudah kehendak-Nya. Mungkin Allah melihat kalian belum siap menerima titipan itu, jadi Allah mengambil kembali putrimu. Kamu harus yakin, dia kelak yang akan menunggu kalian di surga," jawab ibu mertuaku lagi.
"Betul, Mel. Memang berat, tapi kamu harus tetap menatap ke depan. Kehidupan masih terus berlanjut. Yakinlah, besok akan diganti kalau memang kalian berdua sudah benar-benar siap," ucap ibuku membenarkan.
Aku mengangguk. Setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa kembali tegak, aku juga ikut mengantarkan putriku tempat peristirahatan terakhirnya. Aku melihat Mas Aak sangat lihai dalam mengurus jenazah putriku. Dari situlah aku kembali merasa kagum dengan suamiku.
__ADS_1
Aku kembali teringat, saat aku berada pada titik terlemah, nyatanya Mas Aak bisa berpikir cepat dan menyelesaikan masalah dengan baik. Aku jadi tersadar, mungkin ini cara Tuhan untuk membuat suamiku jadi lebih dewasa, juga membuatku menjadi benar-benar mencintai suamiku, sehingga pernikahan kami bisa kekal sampai ke surga-Nya.