Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 16


__ADS_3

"Dulu aku pernah lewat sini, tapi lupa. Hehe." Mas Aak nyengir tanpa merasa bersalah.


"Jalan seperti ini masuk di google map nggak ya?" Aku mengambil ponsel dari dalam tas kecilku. Mencoba mencari solusi.


"Ya nggak tau, kan jalannya kecil dan rusak, mobil google mungkin belum pernah lewat sini." Mas Aak menghentikan laju vespa kesayangannya.


"Coba tanya sama orang aja deh, Mas! Apa mau puter balik, ke jalan utama aja!" Aku memasukkan lagi ponselku, aku sadar kalau aku tida terlalu bisa membaca map, kalau malah membuat jadi makin tersesat, bisa gawat!


"Yaudah, puter balik aja, deh. Malu kalau tanya sama orang. Masa pakai vespa kok nggak tau jalan. Kan menghancurkan harkat dan martabat vespamaniac." Mas Aak tertawa, sok sekali dia. Sok punya harkat dan martabat.


"Heleh."


Akhirnya kami berdua putar balik, kembali melewati jalan yang rusak cukup parah lagi. Padahal sudah lumayan lama kami berada di jalan ini. Meskipun Mas Aak melajukan vespanya tidak terlalu cepat, tapi tetap saja punggungku rasanya seperti mau rontok. Kalau ini sih bukannya menyegarkan pikiran, malah membuat sakit badan! Kapok deh, pakai motor vespa. Mending pakai motor bebek biasa aja.


Akhirnya kami kembali mendengar keramaian jalan utama.


"Mas, udah nggak jauh lagi sampai ke jalan utama!" Aku berteriak girang, sambil menepuk-nepuk pundak suamiku.


"Iya. Kita jadi mau piknik apa pulang aja?"


"Lah, kok pulang, Mas?" Aku melongokkan wajahku melalui samping kepala Mas Aak. memastikan aku tidak salah dengar.


"Kasian kamu kalau jadi tambah sakit badannya. Kalau aku sih udah biasa seperti ini." Mas Aak menjawab tanpa beban.


"Kan, emang dia itu labil banget, kok. Pikirannya gampang banget berubah," batinku.


"Yaudah, udah tanggung juga, Mas. Sayang kalau nggak dapet apa-apa." Aku memutuskan.

__ADS_1


"Oke deh, ke tempat wisata mana saja yang kelewatan ya."


"Terserah, Mas."


Akhirnya kami berdua mapir ke beberapa tempat wisata yang searah, sampai akhirnya tujuan terakhir kami adalah pantai pasir hitam yang ada di luar kota. Kami menikmati sunset di pantai. Sesekali kami mengambil foto bersama, meskipun sebenarnya kami berdua sama-sama bukan orang yang pintar foto bergaya. Tapi lumayan lah, untuk kenang-kenangan. Bisa ditunjukkan ke anak-anakku kelak.


Ternyata ada berkahnya juga aku menikah dengan Mas Aak. Aku yang selama ini jadi anak rumahan, tidak pernah kemana-mana, jadi bisa jalan-jalan menghabiskan waktu seharian bersama. Ternyata seperti ini rasanya pacaran setelah menikah. Meskipun aku belum yakin aku sudah mencintainya, tapi aku akan tetap berusaha untuk segera mencintai suamiku beserta semua kelebihan dan kekurangannya.


***


Hari berikutnya aku sudah harus kembali ke sekolah. Ternyata cukup repot menjadi ibu rumah tangga, sekaligus jadi guru. Waktuku jadi harus terbagi-bagi, untuk urusan rumah juga urusan sekolah.


"Mas, hari ini kamu udah mulai kerja belum?" Aku bertanya pada Mas Aak, setelah aku selesai mandi dan harus segera bersiap untuk berangkat sekolah. Mengingat jarak sekolahku sekarang jadi lebih jauh, jadi aku harus berangkat lebih pagi.


"Enggak. Belum ada panggilan lagi. Nunggu kalau ada panggilan, baru kerja." Mas Aak menjawab tanpa melihat ke arahku, dia sibuk bermain game sambil rebahan di kasur. Membuatku dongkol lagi.


"Hmmm."


"Nyebelin banget!" Gerutuku.


"Oke, aku anggap artinya mau!" Aku berpakaian seadanya, baju seragamku masih di rumah Bapak, jadi pagi ini aku harus mampir dulu ke sana. Salahku, kemarin malah jalan-jalan, bukannya mempersiapkan diri untuk hari ini.


"Aku berangkat dulu, Mas!" Aku henda menyalami suamiku yang masih tetap sibuk dengan game online-nya itu.


"Iya, hati-hati. Nggak perlu salaman, tanganku lagi sibuk buat mabar nih, takut kalah, disalahin temen-temen." Mas Aak tetap saja tidak melihat ke arahku. Benar-benar menyebalkan. Dia lebih mementingkan mabar, dari pada berkomunikasi yang pantas denganku.


"Oke. Assalamu'alaikum." Aku mengucap salam dengan ketus. Pagi-pagi begini Mas Aak sudah merusak mood-ku.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Mas Aak tetep saja tidak memandang ke arahku sama sekali. Aku segera saja keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan kasar. Biar aja kalau rusak. Salah sendiri aku dicuekin!


Aku berjalan ke garasi dan baru ingat sesuatu.


"Ya ampun, motornya kan masih di rumah Bapak! Aku kemarin ke sini kan pakai mobil?" Aku menepuk jidatku.


"Mas Aak pasti nggak bakalan mau nganterin aku ke rumah Bapak, aku pamit aja responnya kaya gitu. Pakai motor vespa juga nggak bisa. Gimana ya?" Aku mencoba berpikir cepat.


"Pinjam punya Bapak aja, deh." Aku melihat motor bebek biasa di parkiran paling depan. Mungkin akan sulit mengeluarkannya, tapi nggak apa, deh. Daripada nggak jadi berangkat.


Akhirnya aku memakai motor Bapak, setelah bersusah payah mengeluarkannya dari garasi. Masih pagi seperti ini, sudah harus berkeringat, gara-gara ngeluarin motor. Mas Aak bener-bener menyebalkan! Aku masih saja bersungut kesal, dengan kekuatan emosi, aku menyalakan motor yang harus di genjot itu, karena tombol starternya mati. Untungnya motornya bisa menyala, meskipun katanya lama tidak dipakai.


Aku melihat jam di HP-ku, sudah jam enam lebih. Aku segera melajukan motor mertuaku, tujuan pertamaku sekarang adalah rumah Bapak. Aku cukup beruntung, jalanan masih lumayan sepi. Jadi aku bisa melajukan motor dengan kecepatan tinggi dan kurang dari lima bekas menit, aku sudah sampai di rumah Bapak.


"Assalamu'alaikum." Aku mengucap salam sebelum masuk rumah. Aku langsung membuka pintu depan yang biasanya tidak pernah dikunci.


"Wa'alaikumussalam. Eh, Mel. Pagi-pagi kok udah sampai sini?" Ibuku menyambut kedatanganku.


"Iya, Bu. Udah mau sekolah lagi." Aku menyalami dan mencium tangan ibuku. Rumahku masih sangat berantakan, kasihan ibuku, pasti kerepotan membereskan sisa-sisa pernikahanku kemarin. Aku menyesal, kemarin malah jalan-jalan, tidak ingat dengan kondisi rumahku yang seperti ini. Harusnya kemarin aku membantu Ibu beres-beres rumah.


"Emang udah selesai cutinya?"


"Udah, Bu. Nggak enak kalau terlalu lama libur, kasihan anak-anak, sama guru yang menggantikan juga." Aku memberi alasan yang akan sangat masuk akal.


"Yaudah, sana siap-siap! Nanti kamu telat. Udah sarapan belum? Ibu masak makanan kesukaan kamu. Seragammu juga udah Ibu setrikain."


"Ya Allah, Bu. Maaf ya, jadi merepotkan." Aku meneteskan air mata, aku terharu, ibuku benar-benar luar biasa. Bahkan aku yang sekarang sudah jadi istri orang, masih saja dibantu untuk mempersiapkan keperluan sekolah, tanpa kuminta.

__ADS_1


__ADS_2