Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 33


__ADS_3

"Kita lihat perkembangannya dua hari ke depan ya, Pak. Sekalian kita berikan suntik penguat paru, jadi kalaupun harus dilahirkan segera, setidaknya paru janin sudah dipersiapkan," jawab dokter sambil tersenyum padaku juga pada suamiku bergantian.


Aku tidak membalas senyuman dokter itu sedikitpun, begitu pula Mas Aak yang wajahnya nampak gudar. Bagi kami, ini adalah keputusan yang sangat berat, jadi sangat sulit bagi kami untuk tersenyum. Tapi bagi dokter yang sudah berpengalaman, mungkin saja sudah banyak menangani kasus yang serupa denganku, jadi beliau masih bisa tersenyum dan bersikap tenang. Kami berdua, juga termasuk ibuku tidak bisa menjawab apa-apa.


"Jadi, kita lihat perkembangan dua hari ke depan ya, Pak. Kami akan usahakan yang terbaik sesuai dengan protokol, meskipun hasilnya tetap kita serahkan pada Yang Maha Kuasa, karena Dia-lah yang menentukan semuanya. Kami harap, Ibu untuk tidak terlalu banyak pikiran, karena itu bisa memperburuk keadaan," lanjut dokter itu lagi, karena tidak mendapat tanggapan apapun dari kami.


Pada akhirnya aku, suamiku dan juga ibuku hanya bisa mengangguk. Kamis serahkan semuanya pada yang lebih berpengalaman, dokterlah yang lebih tau apa yang terbaik untuk kondisi saat ini.


Setelah selesai memberikan penjelasan, dokter beserta rombongannya yang sedari tadi sibuk mencatat meninggalkan ruanganku. Tinggallah aku, suamiku yang masih berdiri di sisi kanan ranjangku juga ibuku yang duduk di kursi plastik di sisi kiri ranjangku. Aku menatap wajah suamiku yang tertunduk lesu.


"Mas, gimana nanti kita bayar biaya rumah sakit? Aku nggak punya jaminan kesehatan apapun. Gimana kalau ternyata aku harus dioperasi? Posisi bayi pasti belum pas, karena memang belum waktunya untuk keluar," ucapku pada Mas Aak, setelah dokter keluar dari bilik kamarku.


Meskipun dokter berpesan supaya aku tidak boleh banyak pikiran, tapi tetap saja kepikiran. Banyak hal yang kukhawatirkan, terlepas dari kondisiku saat ini. Tanpa terasa air mataku kembali menetes tanpa bisa ditahan.


"Sudahlah, Mel. Kamu nggak perlu memikirkan hal itu. Biar kami yang sehat yang memikirkan. Kamu fokus pada kesehatanmu dan janinmu saja, ya!" Ibu menjawab pertanyaanku, sebelum Mas Aak angkat suara.


"Iya bener, Dek. Kamu tidak perlu memikirkan itu. Biar aku yang urus semuanya," ucap Mas Aak pada akhirnya.


Meskipun suamiku berkata demikian, aku tetap ragu. Darimana dia akan mendapat uang? Apa mau minta sama bapak atau ibu mertuaku? Kalau berhutang bagaimana? Hanya akan menambah beban masa depan saja!

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala pelan, pusing sekali memikirkan semua ini. Tapi apa aku bisa bersikap masa bodoh? Padahal semuanya sedang dalam kesulitan seperti ini, gara-gara aku?


"Aku keluar dulu ya, Dek. Bu, titip Mela ya, nanti kalau ada apa-apa, tolong kabari saya," ucap Mas Aak tiba-tiba.


"Mau kemana, Mas?" tanyaku lirih.


"Mau cari info-info, kamu di sini aja, ya. Istirahat, biar cepet membaik," jawabnya sambil tersenyum tipis. Aku mengangguk pelan.


Setelah itu, suamiku pergi, membiarkan aku ditemani ibuku. Aku tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Mas Aak. Aku hanya berusaha percaya dengan apa yang dia katakan padaku tadi.


Selama aku dirawat, Mas Aak terlihat sibuk mengurusi banyak hal yang tidak dia katakana padaku. Mungkin dia memang tidak mau membuat beban pikiranku bertambah. Hanya pernah memintaku untuk berfoto, meskipun kondisiku sangat payah.


Dua hari dirawat ternyata tidak membuat kondisiku membaik. Tekanan darahku bukannya turun, justru semakin naik, membuat kepalaku terasa mau pecah. Padahal aku sudah diberikan obat juga banyak makan makanan penurun tekanan darah.


Aku akui, aku memang banyak pikiran, juga banyak hal yang kutakutkan. Jadi sepertinya wajar kalau obat saja tidak mempan untukku. Saat ini aku hanya bisa pasrah, apapun yang akan menjadi keputusan dokter, aku akan terima.


"Pak, Bu, seperti yang kita ketahui bersama ya, kondisi Bu Mela ternyata tidak mendukung untuk terus mempertahankan janin sampai usia yang seharusnya. Jadi, kita tetap harus mengeluarkan janin Bu Mela, sambil terus berdoa, semoga ibu dan juga bayinya selamat dan sehat sampai nanti ya, Pak, Bu," dokter memberikan penjelasan kepada kami melihat kondisiku secara objektif.


Aku dan Mas Aak hanya bisa mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Baik, Dok. Tolong lakukan apa saja yang terbaik, untuk keselamatan istri juga anak saya," jawab Mas Aak dengan suara parau. Aku tau, Mas Aak pasti juga tertekan dengan keadaan ini.


"Kami akan lakukan sebisa kami, Pak. Tolong dibantu doanya, semoga semua berjalan dengan lancar dan keduanya bisa selamat," ucap dokter lagi sembari tersenyum.


"Pasti, Dok. Pasti akan saya doakan," jawab Mas Aak mantap.


"Baik, Pak. Tapi harus kami sampaikan juga, kita harus mengeluarkan bayi dengan operasi ya, Pak. Karena kondisi kesehatan Bu Mela saat ini tidak memungkinkan untuk melahirkan dengan normal, dikhawatirkan justru akan menambah kesakitan yang membuat kondisinya semakin buruk." Dokter kembali memberikan penjelasan yang belum pernah disampaikan pada kami sebelumnya.


Ketakutanku benar-benar terjadi. Jujur saja aku tidak memikirkan kondisiku, yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana cara kami membayar tagihan rumah sakit setelah aku keluar nanti. Belum lagi, bayiku pasti akan menerima perawatan di ruang khusus. Pasti membutuhkan banyak biaya. Ya Tuhan, apa yang bisa kujual untuk membayar semua biaya rumah sakit nanti?


"Baik, Dok. Lakukan apapun demi keselamatan istri dan anak saya," jawab Mas Aak mengulangi kalimat yang sama seperti sebelumnya.


Dokter mengangguk, "Baik, Pak. Tapi mohon maaf sebelumnya, ini saya katakan diawal untuk kemungkinan terburuknya, supaya Bapak dan Ibu tidak salah paham. Kalau setelah melahirkan dengan operasi, setidaknya butuh waktu tiga tahun untuk memulihkan kondisi Bu Mela untuk siap mengandung lagi, memang lebih lama daripada yang melahirkan dengan normal. Jadi, kalau misalnya kemungkinan terburuk, bayi ini tidak bisa bertahan, Bapak dan Ibu harus bersabar, jangan terburu-buru hamil lagi, setidaknya tiga tahun ya, Pak, Bu," jelasnya kemudian.


Aku dan Mas Aak mengangguk paham, saat ini aku tidak bisa berbuat apapun, selain terus berdoa yang terbaik untuk kami semua. Meskipun dalam hati, aku merasa sangat bersalah pada bayiku, dia harus mengalami hal buruk seperti ini, karena aku tidak bisa mengontrol pikiranku.


Air mataku tiba-tiba saja mengalir. Pikiranku kembali terbang kemana-mana. Tapi apa yang bisa kulakukan saat ini? Semua sudah terlanjur terjadi. Aku mengusap perutku yang buncit, merasakan gerakan-gerakan janin di dalamnya, membuatku tersenyum perih.


'Maafkan Ibu, Nak! Semoga kamu bisa bertahan, meskipun kondisimu masih belum matang untuk hidup di luar rahim Ibu. Tapi, Ibu sangat berharap, kamu bisa bertahan! Ibu yakin, kamu anak yang kuat!'

__ADS_1


__ADS_2