
Aku bersyukur, sejak hari itu, Mas Aak jadi mau menggarap lahan yang dia miliki bersama bapak dan ibuku, meskipun kadang tetap mengeluh capek, panas dan lain sebagainya. Kami menanam beberapa jenis sayuran dalam satu lahan, harapannya bisa panen bergantian, jadi tidak hanya sekali panen, kemudian ditanami lagi dan menunggu lama lagi untuk sampai masa panen.
Sejak menggarap sawah, aku melihat tubuh Mas Aak jadi sedikit lebih segar daripada dulu, mungkin karena efek bekerja sekalian olahraga. Selain itu, dia juga sudah jarang sekali merokok, hanya sesekali saja, itupun menjauh dariku. Sayangnya, Mas Aak kurang semangat kalau ke sawah sendiri, tidak betah lama. Jadi, kadang aku juga ikut kalau sedang libur sekolah.
Sejak aku mengambek saat itu, Mas Aak jadi mulai sering membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, jujur saja aku sampai kaget dengan perubahan sikap Mas Aak yang menurutku sangat drastis. Tidak seperti sebelumnya, perubahan sikap Mas Aak ke arah yang lebih baik ini berjalan cukup lama. Dia menjadi lebih perhatian padaku, apalagi karena perutku yang semakin membesar, membuatku menjadi lebih mudah mengeluh capek, pegal dan lain sebagainya. Rasanya benar-benar luar biasa.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Mas Aak saat melihatku meringis sambil mengusap-usap punggungku sendiri.
"Punggungku sakit, Mas, pegel-pegel nggak karuan, nih," jawabku rinci.
"Kamu dibilangin ngeyel, sih. Kan aku udah bilang, nggak usah ke sawah dulu nggak papa. Aku bisa sendiri, kok. Kan sekarang jado sakit punggung? Siapa yang repot?" Mas Aak berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku, kemudian mulai memijit badanku tanpa kuminta.
"Hehe, maaf deh, Mas. Bentar lagi kan kita mau panen pertama, jadi aku pengen tau gimana kondisi tanaman sayur kita, ternyata bagus-bagus, meskipun cuaca sedang tidak menentu. Semoga aja beneran bisa panen, lumayan kan, hasilnya bisa dipakai buat tabungan melahirkan." Aku tersenyum, membayangkan hasil panen yang bagus, pasti bisa mendapat bayaran yang bagus juga.
"Ya mudah-mudahan aja, Dek. Kadang kan kalau lagi panen malah harganya terjun payung. Jadi mendingan jangan terlalu berharap." Mas Aak mengingatkanku untuk tidak senang dulu.
"Haduh, kalau harganya terjun payung, susah juga ya. Padahal biaya perawatannya mahal, udah gitu nunggunya juga lama." Aku memijit pelipisku yang tiba-tiba saja terasa pening kalau membayangkan hal buruk itu terjadi.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Mas Aak yang sekarang sudah menjadi lebih peka kepadaku.
"Pusing aja kalau bayangin kenyataan nggak sesuai harapan, Mas. Padahal kan ini tabungan kita satu-satunya. Aku udah hamil 7 bulan, nggak lama lagi aku lahiran, nggak tau butuh biaya berapa, belum beli perlengkapan bayi sama sekali, belum lagi untuk acara syukurannya," jawabku rinci.
__ADS_1
"Kan tanaman kita banyak macemnya, semoga aja nggak terjun semua. Jadi bisa menambal yang lainnya. Semoga aja bisa menutup modal, dan ada untungnya, Dek. Toh tanaman kita hasilnya bagus-bagus, jadi masih ada harapan lah. Nggak gagal-gagal banget gitu." Mas Aak mencoba menenangkanku, mungkin memang aku yang terlalu banyak berfikir.
"Iya, Mas." Aku mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan suamiku. Tiba-tiba saja terdengar suara air hujan yang sangat deras, bahkan pada atap genteng pun terdengar sangat deras.
"Hujan deres banget, Mas? Gimana ini sama tanaman kita?" Aku mendadak panik, takut kalau hal buruk terjadi pada tanaman kami yang hampir siap panen.
"Mudah-mudahan aman, juga hujannya cepat reda," jawab Mas Aak yang sebenarnya juga terlihat panik.
Aku mengangguk dan mulai berdoa dalam hati, semoga semuanya aman terkendali.
***
"Hujannya kok nggak reda-reda ya, Mas," ucapku saat menyiapkan sarapan untuk Mas Aak.
"Nggak tau juga, Dek. Mending ijin aja, nggak usah berangkat sekolah. Kondisinya baru seperti ini. Takutnya di jalan ada apa-apa, pohon tumbang atau longsor di jalan, atau banjir." Mas Aak ternyata lebih mengkhawatirkanku, padahal aku tidak masalah kalau harus menembus angin dan hujan.
"Nggak masalah kok, Mas, aku udah biasa menembus hujan angin seperti ini, kan ada jas hujan. Lagi pula sebentar lagi aku akan cuti lama, jadi nggak enak kalau cuma gara-gara hujan aku meliburkan diri. Kasian anak-anak, Mas." Aku tersenyum, bersyukur Mas Aak perhatian, meskipun rasanya tidak terlalu perlu.
"Ya kan sekarang kondisi ya beda, kamu sedang hamil besar lho. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana? Atau aku antar pakai mobil Bapak aja, ya?" Mas Aak tetap keberatan kalau aku berangkat sendiri.
"Ya terserah aja deh, Mas. Kalau nggak ngerepotin," jawabku pada akhirnya. Entah, suamiku sebenarnya perhatian padaku, atau hanya pada anak kami saja, aku tidak peduli.
__ADS_1
"Enggak repot, kok. Lagian juga hujan-hujan gini kan nggak mungkin aku ke sawah. Jadi daripada nggak ngapa-ngapain, kan?" Mas Aak tersenyum lebar, sepertinya dia senang sekali karena aku mau menurutinya.
"Yaudah, kita sarapan, terus siap-siap, Mas." Aku membalas senyum Mas Aak, kemudian sarapan bersama seperti biasa.
***
Aku benar-benar khawatir, hujan tidak kunjung reda, bahkan setelah tiga hari. Kalaupun reda, tetap saja meninggalkan gerimis kecil-kecil. Hal itu membuat air menggenang cukup tinggi. Selama tiga hari itu juga aku diantar jemput Mas Aak saat ke sekolah.
"Mas, hujannya kok nggak berhenti-berhenti ya? Kalau begini terus, gimana kondisi sayuran kita? Kamu udah lihat belum?" Aku memecah keheningan saat berada dalam mobil pagi ini.
"Belum, tapi kalau lihat sawah-sawah yang kita lewati kalau ke sekolahmu, kebanyakan rusak. Mungkin sawah kita juga mengalamni hal yang sama," jawab Mas Aak masih sambil menyetir.
"Yah, terus gimana dong? Kamu kok kayanya biasa aja gitu, Mas? Tetep santai, nggak coba nglakuin apa gitu?" Aku menaikkan nada bicaraku, jelas aku panik, meskipun itu masih belum pasti kebenarannya.
"Lha trus aku harus gimana? Panggil pawang hujan, biar hujannya berhenti? Nggak mungkin juga, kan?" Mas Aak juga ikut meninggikan nada bicaranya, mungkin saja dia kesal kukatai seperti tadi.
"Ya nggak gitu, Mas. Tapi coba deh dilihat gimana kondisi tanaman kita, biar tau gimana kondisinya, masih tetep bagus atau berubah drastis," jawabku dengan nada yang lebih halus. Aku tidak mau hal ini memicu pertengkaran di antara kami lagi.
"Yaudah, nanti pulang dari antar kamu, aku mampir ke sawah sekalian, deh," putus Mas Aak pada akhirnya.
Selama mengajar, aku tidak bisa konsentrasi, karen harap-harap cemas menanti kabar dari suamiku. Aku takut kecewa, karena ini adalah harapanku untuk biaya persalinan sebentar lagi.
__ADS_1