Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 7


__ADS_3

Mbak Santi kembali, membawakan tiga gelas minuman, juga satu piring makanan berisi kue-kue basah yang dipakai untuk menyuguhi para tamu yang hadir ke acara pernikahanku.


"Ini, diminum dulu, Mel. Kami temani, biar kamu punya selera makan." Mbak Santi memberikan minuman padaku, juga Mbah Ning. Sedangkan satunya lagi untuk dirinya sendiri.


Jadilah aku makan ditemani Mbak Santi dan Mbah Ning. Tapi tetap saja, aku tidak bisa makan, seperti porsi biasanya aku makan. Aku meletakkan makananku yang belum habis itu.


"Nggak dihabiskan, Mel?" Mbak Santi masih mengunyah kue bolu gulung yang baunya sangat wangi itu.


"Enggak, Mbak. Takut nanti kebelet pas acara, malah repot. Hehe." Aku tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana repotnya, haruske kamar mandi, saat sudah mengenakan gaun pengantin yang super itu.


"Nggak bakalan, Mel. Kalau lagi acara begitu, nggak bakalan ngrasa kebelet dan lain sebaginya. Aku juga dulu gitu kok. Tapi pas acara selesai, baru deh, kerasa lagi itu, panggilan alam." Mbak Santi juga tersenyum.


"Mela! Mel!" Aku menengok, mencari sumber suara. Sepertinya itu suara ibuku, tapi aku belum melihat dimana beliau berada.


"Ya, Bu?" Aku berteriak memberikan jawaban, supaya bisa segera ditemukan.


"Kamu udah mandi belum?"


"Belum, Bu. Ini baru selesai sarapan. Ada apa, Bu?" Aku bertanya, sepertinya Ibu sudah gelisah.


"Itu, periasnya udah datang. Tanyain mana pengantinnya, gitu."


"Lah? Kok cepet banget udah datang ya? Padahal aku bilangnya ria sesudah subuh." Aku segera berdiri, meninggalkan piring dan gelasku tergeletak di lantai begitu saja.


"Yaudah sana mandi dulu! Bentar lagi juga udah mau adzan."


"Baik, Bu! Mbak Santi, maaf ya, ngerepotin." Aku berpesan pada Mbak Santi, untuk membereskan piring dan gelas yang kupakai tadi.


"Ya, Mel. Santai aja!"


Aku segera mengambil handuk dan pakaian gantiku di kamar, kemudian bergegas untuk mandi, sebelum kamar mandi akan dipakai antri oleh banyak orang nantinya. Sebentar lagi jam-jam sibuk kamar mandi. Apalagi pagi ini yang menginap di rumahku lumayan banyak, baik tetangga, maupun Mas Aak dan temannya.


Pas sekali, saat aku selesai mandi, adzan subuh berkumandang. Aku sekalian mengambil air wudhu, dan sholat subuh di kamar. Aku tidak ke masjid pagi ini. Urusan dunia membuatku tergesa-gesa dan panik. Aku tidak bisa sembahyang dengan khusyuk, berbagai macam pikiran menghampiriku. Juga memikirkan perias yang sudah menunggu. Mereka pasti akan sebal kalau harus menungguku terlalu lama.


Setelah selesai sembahyang, aku segera ke rumah Mbak Santi, yang akan digunakan untuk rias pagi ini. Ternyata keponakan-keponakan yang kupilih sebagai bridesmaid sudah sampai terlebih dahulu. Dua orang di antaranya bahkan sudah sedang di rias.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Nunggu lama." Aku segera mendekat ke Mbak Yulis, perias utama, sekaligus pemilik salon yang ku temui beberapa minggu yang lalu.


"Ya, Mbak. Nggak papa. Ayo, duduk sini! Biar nanti nggak kesiangan." Mbak Yuli menggeser kursi kecil yang ia siapkan sendiri di depannya.


Aku menurut, segera duduk menghadap Mbak Yuli.


"Udah sembahyang kan, Mbak?" Mbak Yuli bertanya memastikan, aku yang berkerudung, membuatnya langsung berpikir bahwa aku orang yang selalu mengerjakan sembahyang wajib.


"Udah kok, Mbak. Cuma takut nanti kalau kepengen ke kamar mandi, pas udah dandan. Repot nggak ya, Mbak?" Aku menyampaikan kekhawatiranku.


"Oke, nanti sebelum ganti baju, ke kamar mandi dulu boleh. Biar ngak repot." Mbak Yuli memberikan solusi, membuatku sedikit tenang. Biar bagaimanapun, berdebar bisa membuat tiba-tiba kebelet, apalagi di gunung seperti ini, udara terasa dingin. Produksi urine biasanya jadi semakin cepat dan banyak, karena tidak ada yang diubah jadi keringat.


"Oke, Mbak."


Mbak Yuli mulai merias wajahku yang tidak terbiasa dengan riasan yang berlebihan. Aku hanya terbiasa memakai pelembab, bedak padat dan lipstik saja. Kalau kata orang, nanti saat dirias, pasti akan "manglingi". Aku penasaran juga, seperti apa wajahku nanti saat sudah di rias.


Aku dan Mbak Yuli ngobrol banyak hal, sambil dirias. Meskipun kadang kami berhenti berbicara, saat dibutuhkan. Sampai akhirnya riasanku hampir selesai. Mbak Yuli memberikanku cermin, untuk melihat hasilnya. Ternyata bagus sekali hasil riasan Mbak Yuli. Meskipun sudah lumayan berumur, tapi ternyata beliau mengikuti perkembangan jaman. Hasil riasannya kekinian, tidak medok seperti riasan pengantin jaman dulu.


"Pengantin laki-lakinya udah di sini, Mbak?"


"Disuruh ke sini sekalian, Mbak! Biar sekalian. Jadi sebelum akad, nanti bisa foto berdua dulu." Mbak Yuli memberiku perintah, aku mengambil ponsel yang kusakui dari tadi. Aku memanggil Mas Aak, tapi tak kunjung diangkat.


"Nur!" Aku memanggil salah satu sepupuku yang belum dirias.


"Ya, Mbak. Ada apa?"


"Tolong cariin Mas Aak, suruh ke sini! Mau dirias, gitu."


"Oke, Mbak."


Aku kembali fokus ke Mbak Yuli.


"Gaunnya yang untuk akad pakai punya sendiri kan, Mbak?" Mbak Yuli memastikan. Aku memang sudah membeli gaun putih untuk akad. Yang menyewa cuma gaun untuk resepsi dan ngunduh mantu nanti.


"Iya, Mbak. Pakai punya sendiri." Aku mengangguk.

__ADS_1


"Kalau mau ke kamar mandi, ke kamar mandi sekarang aja, Mbak. Habis ini pakai gaunnya." Mbak Yuli memberi instruksi padaku.


"Oh, oke, Mbak."


Aku menurut, meskipun belum terlalu terasa, tapi lebih baik ku keluarkan saja. Daripada nanti malah menahan buang air, malah bikin sakit, kan? Saat mau ke kamar mandipun, seperti umumnya pengantin, pasti akan menjadi pusat perhatian. Para tetangga yang hadir membantu acaraku beramai-ramai melihatku yang baru dirias wajahnya saja.


"Mel, kamu cantik banget! Manglingi!"


"Lihat itu! Mbak Mela, cantik banget!"


Beberapa orang mengomentari riasanku. Aku hanya tersenyum.


"Trimakasih." Aku menanggapi sepintas, supaya tidak dikira sombong.


Aku segera melanjutkan perjalanan ke kamar mandi dan menyelesaikan hajatku. Setelah selesai, aku buru-buru kembali ke ruang rias.


Sekembalinya aku dari kamar mandi, Mas Aak belum juga sampai ke ruang rias. Aku mulai khawatir, jangan-jangan terjadi seuatu pada Mas Aak, jadi lama banget nggak muncul-muncul.


"Pengantin laki-lakinya belum datang juga, Mbak?" Mbak Yuli bertanya padaku yang jelas-jelas baru dari kamar mandi. Harusnya beliau yang lebih tau, mengingat dari tadi beliau yang ada di ruangan ini.


"Oh, belum sampai sini ya, Mbak? Si Nur juga belum balik ke sini lagi sih. Mungkin belum ketemu sama Mas Aak." Aku berpikir positif saja.


"Ya, bisa jadi, Mbak. Yaudah, sini saya benerin lagi riasannya!" Mbak Yuli mengajakku untuk kembali duduk di hadapannya.


Tak lama kemudian, Nur datang bersama Mas Aak.


"Mbak, katanya mau dirias ya?" Mas Aak mendekati aku dan Mbak Yuli.


"Iya, Mas. Tunggu sebentar ya! Selesaiin ini dulu." Mbak Yuli melihat ke arah Mas Aak yang ada di belakangku.


"Udah mandi belum, Mas?" Mbak Yuli bertanya lagi.


"Belum, Mbak. Apa harus mandi? Dingin banget soalnya. Nggak usah mandi nggak papa lah, ya? Nggak ada yang tau, kok." Mas Aak menjawab santai.


Aku segera menengok ke arah Mas Aak. Ya Tuhan! Kenapa dia PD sekali? Mau acara penting seperti ini malah nggak mandi? Aduh!

__ADS_1


__ADS_2