Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 29


__ADS_3

"Aku juga kerja, Dek. Siapa yang bilang aku nongkrong tiap hari? Jangan asal nuduh, ya!" sahut Mas Aak, tidak terima mendengar aduanku pada Bapak. 


"Sigit yang bilang, Mas. Dia bilang kalau dia selalu lihat kamu nongkrong sama anak-anak vespa di tongkrongan dekat sekolah Sigit. Iya kan, Git?" Aku meminta dukungan dari Sigit. Awas saja kalau dia berbalik omongannya. "Iya, kalau pulang sekolah aku sering lihat Mas Aak nongkrong sama anak-anak vespa itu. Tapi Mas Aak nggak pernah lihat aku mungkin," jawab Sigit seperti apa yang kuharapkan.


"Nah, kan? Jadi gimana penjelasannya, Mas? Sebenarnya setiap hari kamu ke mana? Kerja, atau cuma nongkrong aja?" Aku menatap Mas Aak tajam, tak peduli sedang ada Bapak juga adikku di sini. Seketika wajah Mas Aak terlihat pucat, dia diam tidak berani menjawab. 


"Jawab, Mas!" bentakku lagi. Aku benar-benar sudah habis kesabaran, sampai tidak bisa mengontrol nada bicaraku lagi.


"Ee, sebenarnya aku memang udah nggak kerja lagi, Dek. Udah lumayan lama. Nggak ada job lagi," jawab Mas Aak lemah, dia menunduk, mungkin saja merasa malu, takut atau sungkan pada Bapak. Aku tidak tau pasti. Tapi jawabannya tetap saja tidak bisa kuterima dengan baik. 


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Mas? Kalau emang nggak kerja kan kamu bisa bantuin aku kerjain kerjaan rumah? Jangan malah nongkrong nggak jelas seperti itu, atau jangan-jangan kamu nongkrong itu main judi, ya?" tuduhku lagi. 


"Astaghfirullah, enggak, Dek. Mana berani aku main kayak gitu! Kamu kok bisa nuduh aku seperti itu, sih?" Mas Aak ikut meninggikan suaranya. Dia yang tadinya menunduk, seketika mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata yang melotot. 


"Katanya nggak kerja, trus uang yang kamu kasih ke aku itu kamu dapat dari mana kalau nggak dari judi?" tuduhku lagi. Aku tak mau kalah, aku tidak peduli kalau aku sedang hamil, dan marah-marah bisa membuat kondisiku buruk.

__ADS_1


"Itu uang dari Ibu, Dek. Uang yang dikasih Ibu, aku kasihkan ke kamu sebagian, sebagian yang lain ku pakai sendiri." Mas Aak kembali memelankan suaranya, dia mungkin kembali tidak enak pada Bapak. Ternyata ada untungnya juga, bertengkar di hadapan Bapak seperti ini, jadi Mas Aak menjawab dengan jujur.


"Trus, Ibu tau kalau Mas Aak nggak kerja?" tanyaku lagi. Kalau Ibu juga tau, berarti mereka berdua sudah kongkalikong membohongiku.


Mas Aak menggeleng lemah, "Ibu nggak tau, Dek. Tolong jangan kasih tau Ibu, ya! Kasihan kalau Ibu banyak pikiran, nanti bisa sakit, mikirin aku yang nggak lagi-lagi jadi pengangguran," ucapnya lagi.


Aku terbengong mendengar ucapan Mas Aak. Dia bisa kasihan sama ibunya, tapi nggak bisa kasihan sama aku? Suami macam apa dia sebenarnya? Jangan mentang-mentang aku perempuan kuat yang jarang sakit, jadi dia bisa semena-mena seperti ini padaku!


Tapi aku memilih untuk tidak mengatakannya. Aku menarik nafas panjang dan berat. Mewakili perasaanku yang super dongkol.


"Sudah, sudah. Tidak baik bertengkar terus seperti itu. Lebih baik kita cari solusinya," ucap Bapak tiba-tiba menengahi kami berdua yang sebenarnya masih betah beradu mulut.


"Jadi kamu sedang nggak kerja lagi, Ak?" Bapak mulai melayangkan pertanyaan pada suamiku.


"Betul, Pak." Mas Aak mengangguk, dia benar-benar seperti anak yang takut pada orangtuanya kalau di hadapan Bapak. Berbeda jauh dari saat bersamaku.

__ADS_1


"Ya sudah, berarti cobalah cari pekerjaan lain. Kerja apa saja, yang penting halal. Dan juga kamu sebagai suami, harus berusaha memberikan nafkah pada istrimu. Tidak peduli seberapapun yang kamu dapat, tapi kalau dari kerja kerasmu sendiri, pasti akan terasa membanggakan." Bapak menarik nafas, sebelum melanjutkan petuahnya.


"Berbeda dengan hanya memberi uang, tapi itu bukan dari hasil kerja kerasmu sendiri. Bekerja mencari nafkah tidak hanya akan membuat kalian bisa memenuhi kebutuhan, tapi juga bisa sebagai ladang pahala untuk seorang suami, dan juga pahala bagi istri kalau dia berterimakasih dan bersyukur seberapapun nafkah yang diberikan oleh suaminya. Jadi, Bapak harap, kamu tetap bekerja, apapun bentuknya, jangan malah menghabiskan waktu tanpa ada manfaatnya seperti itu," lanjut Bapak lagi.


Aku rasa ini bukan hanya nasehat untuk Mas Aak, tapi juga untukku. Aku yang tadinya mengangkat wajah penuh amarah, sekarang ikut tertunduk mendengarkan nasehat Bapak. Sama seperti Mas Aak.


"Kamu harus ingat, sebentar lagi akan punya momongan. Tentu saja biaya yang dikeluarkan akan semakin banyak. Kamu tidak bisa selamanya bergantung pada orang tua, jadi mulailah berusaha dengan tanganmu sendiri, Ak!" Bapak kembali melontarkan kalimat-kalimat yang terasa menyejukkan bagiku, aku merasa mendapat pembelaan yang selama ini tidak pernah kudapatkan dari Mas Aak dan keluarganya.


"Tapi saya nggak punya keahlian lain, Pak. Saya sudah mencari kerjaan lain, tanya ke kenalan sana-sini, tapi tetap belum dapat hasil, Pak. Saya kumpul sama teman-teman tiap hari juga sambil cari info lowongan kerja sama teman-teman, tapi tetap belum dapat, Pak," jawab Mas Aak, membela dirinya.


"Maaf ya, Ak, tidak bermaksud merendahkan kelompokmu. Tapi kamu bergaul dengan sesama orang yang tidak bekerja, jadi tidak dapat info pekerjaan. Buktinya mereka juga sama saja, menghabiskan waktu dengan nongkrong saja, kan?" ucap Bapak kemudian.


Benar juga apa yang dikatakan Bapak, kalau Mas Aak bertanya dengan teman yang sesama tidak bekerja, pasti akan sulit mendapat pekerjaan.


"Bekerja tidak harus ikut orang, Ak. Kamu bisa bekerja secara mandiri. Tidak perlu keahlian khusus, yang sudah kamu kuasai saja. Contohnya saja jadi tukang ojek, tidak masalah, mangkal di mana, ikut bergabung dengan orang lain yang juga sama-sama cari penumpang. Mereka pasti juga mau memberi tempat, toh sama-sama mencari rejeki untuk keluarga," lanjut Bapak.

__ADS_1


"Tapi motor saya nggak cocok untuk ngojek, Pak. Mungkin sulit cari penumpang kalau pakai motor itu." Mas Aak masih saja mencari-cari alasan, untuk tidak bekerja. Memang menyebalkan. Aku mendengus kesal, bahkan dengan Bapak saja sikapnya masih seperti itu.


"Motor Bapak kan ada, Mas? Itu juga jarang dipakai, lumayan kalau dimanfaatkan, sepeti saran Bapak tadi. Ngojek juga tidak masalah, mangkal di tempat-tempat yang ramai orang. Sama-sama nongkrong, tapi sambil berusaha mencari rejeki." Aku ikut nimbrung, mataku menatap tajam ke arah Mas Aak. Awas saja kalau Mas Aak masih tetap mencari-cari alasan lagi untuk tidak bekerja!


__ADS_2