Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 24


__ADS_3

"Yaudah terserah kamu aja, deh. Kan kamu yang atur keuangan. Hasilku kerja ku kasih ke kamu semua, terserah mau buat apa. Mau buat ditabung, mau buat belanja, mau buat bayar apa, terserah kamu aja deh. Aku ambil bagianku aja, bagian kamu, kamu sendiri yang kelola." Mas Aak menjawab santai.


Aku menarik nafas panjang. Menyebalkan sekali. Aku memilih untuk tidak berkomentar lagi. Rasanya percuma berdiskusi dengan suamiku, pada akhirnya aku juga yang harus mikir sendiri juga melakukan semuanya sendiri.


Sepulang dari puskesmas, ternyata bapak dan ibu mertuaku sudah menunggu.


"Bagaimana, Mel? Gimana hasilnya? Kamu beneran hamil?" ibu mertuaku langsung memberondongku dengan pertanyaan, saat aku turun dari motor dan berjalan menuju ke arah beliau berdua.


"Iya, Bu. Alhamdulillah, Mela dikasih kepercayaan untuk menerima titipan dari Allah." Aku tersenyum, meskipun rasanya masih seperti mimpi.


"Alhamdulillah. Selamat ya, Ak! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang bapak." Ibu mertuaku tersenyum lebar, sepertinya beliau sangat bahagia, mendengar kabar ini.


"Hehe, iya, Bu." Mas Aak nyengir dan berlalu begitu saja. Dari cara Mas Aak menjawab dan bersikap saja sudah membuatku sebal. Entah kenapa, aku merasa kalau Mas Aak masih belum siap menjadi bapak.


"Kamu harus jaga kondisi kamu, Mel. Jangan sampai terlalu capek. Kalau perlu, kamu ijin untuk keluar dari sekolah aja, Mel. Sekolah kamu kan jauh, ibu hamil nggak baik kalau harus mengendarai motor sendiri. Apalagi jarak jauh, jalannya rusak juga, Ibu khawatir kalau perut kamu jadi terguncang, nanti nggak bagus untuk janin kamu. Apalagi kalau dilakukan setiap hari. Ibu benar-benar khawatir." Ibu mertua memberiku nasehat yang sedikit banyak membuatku takut juga.

__ADS_1


"Mudah-mudahan aja nggak papa, Bu. Kan tergantung kondisi masing-masing. Teman guru di sekolah juga ada yang hamil, rumahnya lebih jauh, tapi tetap baik-baik saja kok, Bu. Anaknya juga bisa lahir dengan normal." Aku menyakinkan ibu mertuaku, meskipun sebenarnya aku juga sedang meyakinkan diriku sendiri.


Banyak hal yang jadi pertimbanganku, kalau aku keluar dari sekolah, kalau Mas Aak sedang tidak bekerja, darimana aku bisa dapa pendapatan? Meskipun honor dari sekolah tidak banyak, tapi setidaknya lumayan, bisa untuk menyambung hidup. Apalagi aku juga harus menyiapkan banyak biaya, ibu hamil pasti butuh banyak hal tambahan, tidak seperti saat sedang tidak hamil. Jadi kalau Mas Aak bekerja, honor dari sekolah bisa kutabung, untuk persiapan persalinan nanti. Meskipun memang aku harus tetap bekerja keras saat kondisiku tidak seperti biasanya.


"Ya sudah kalau memang begitu, semoga semuanya baik-baik saja. Tapi kalau ada keluhan, harus segera ditindak lanjuti ya, Mel. Jangan dibiarkan saja. Supaya bisa segera ditangani." Ibu mertuaku akhirnya mengalah.


"Baik, Bu. Lagipula sepertinya akan bosan kalau cuma di rumah aja. Kalau sekolah kan jadi ketemu teman-teman, ketemu anak-anak. Setiap hari pasti pengalamannya berbeda. Kalau di rumah terus, mungkin aku malah bisa stres, Bu." Aku tersenyum.


"Memang seperti itu, Mel. Karena sudah terbiasa bekerja di luar. Kalau di rumah akan merasa bosan. Ibu juga sebenernya bosan, pengen aktif mengajar sukarela, meskipun cuma di TPA misalahnya. Tapi kondisi Ibu yang sudah tidak memungkinkan, jadi ya semoga kehadiran anak kalian berdua bisa mengurangi rasa bosan Ibu." Ibu mertuaku membalas senyumku. 


Dalam hati aku meragukan perkataan ibu mertuaku, toh sekarang juga ada cucu dari anaknya Mbak Rina. Tapi aku jarang sekali melihat Ibu bermain dengannya, karena kalau terlalu capek, beliau langsung ambruk. Kemungkinan begitu juga dengan kehadiran anakku kelak. Ibu mertuaku pasti juga akan menjaga jarak demi menjaga kondisi tubuhnya.


"Ya sudah, Bu. Aku ke dalam dulu." Aku pamit undur diri.


"Ya, Mel. Dipakai istirahat. Makan, vitaminnya di minum." Ibu mertuaku berpesan.

__ADS_1


"Baik, Bu." Aku mengangguk, kemudian masuk ke kamar.


"Mau langsung berangkat, Mas?" Aku melihat Mas Aak sudah bersiap.


"Iya, nih. Kamu istirahat aja. Vitaminnya diminum." Mas Aak juga berpesan hal yang sama dengan ibu mertuaku. 


"Iya, Mas." Aku mengangguk dan tersenyum. Meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi hatiku. Karena aku juga ingin rasanya dimanja sebentar saja. Diperhatikan, diusap dan lain sebagainya. Tapi sepertinya Mas Aak memang bukan tipe laki-laki yang biasa bermanis-manis dengan perempuan, meskipun sebenarnya aku berhak mendapatkan itu. Ya sudahlah, aku harus bisa meredam keinginanku. Atau mungkin keinginan si jabang bayi? Entahlah.


Hari-hari di awal kehamilanku terasa sangat berat. Kondisi badanku yang lemah ternyata tidak membuat Mas Aak tergerak hatinya untuk membantu pekerjaanku. Dia yang sudah capek bekerja jadi tidak mau menyentuh pekerjaan rumah sama sekali. Padahal kalau dihitung-hitung, aku juga capek bekerja. Tapi sepertinya Mas Aak tidak berpikir sampai ke sana.


Meskipun bidan sudah berpesan supaya aku tidak stres juga tidak beraktifitas terlalu berat, terutama angkat barang yang berat, tapi ternyata Mas Aak tidak mengindahkannya. Dengan sangat terpaksa, aku tetap melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Meskipun aku harus pintar-pintat mengatur kekuatan diri sendiri. Aku harus ingat, ada janin di dalam rahimku yang harus kulindungi dan kujaga kondisinya.


Sering kali aku meneteskan air mata, saat melakukan pekerjaan rumah padahal kondisiku sangat payah. Sampai-sampai aku terfikirkan hal yang sangat konyol.


"Apa aku harus kecapean, sampai harus bed rest? Supaya Mas Aak mau membantuku melakukan pekerjaan rumah? Tapi pasti repot juga kalau sampai seperti itu. Kalau tidak boleh turun dari ranjang, kasian juga Ibu, kalau harus membantuku saat Mas Aak kerja. Ya Allah, jangan sampai seperti itu deh. Kuat, Mel! Kamu harus kuat! Kalau kamu kuat, bayi kamu juga akan kuat! Kamu harus jadi Ibu yang kuat untuk anakmu!" Aku menggenggamkan tanganku, mencoba menguatkan diriku sendiri.

__ADS_1


Setiap kali aku merasa capek, juga stres, tapi pekerjaan rumah belum kukerjakan, aku menguatkan diriku sendiri. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mengerjakan? Dan ternyata itu cukup ampuh, entah dari mana, aku merasa mendapat kekuatan tambahan. 


"Sabar ya, Nak. Maafkan Ibu karena tidak bisa memanjakanmu. Ibu minta tolong kerjasamanya, ya. Kamu harus bantu Ibu untuk tetap kuat. Kamu juga harus jadi anak yang kuat, ya! Maafkan Ibu sekali lagi, Nak!" Aku mengusap perutku yang semakin lama semakin membesar. Aku bahkan belum jadi periksa ke dokter kandungan untuk melakukan USG. Tapi aku yakin, kondisi janinku baik-baik saja, karena bidan selalu berkata demikian. Meskipun tetap menyarankan aku untuk USG, setiap kali aku periksa ke bidan. Bukannya tidak mau, tapi nyatanya butuh biaya besar untuk ke dokter, jadi aku masih menundanya selama ini.


__ADS_2