Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 30


__ADS_3

"Motor Bapak udah nggak enak dipakai, kasian juga yang ngojek kalau rasanya nggak nyaman, kan? Mau diperbaiki juga butuh modal lagi yang nggak sedikit," jawab Mas Aak membalas tatapan tidak sukaku.


Aku mendengus kesal, suamiku memang selalu saja punya berbagai macam alasan untuk menolak jika tidak menyukai sesuatu.


"Ya udah deh kalau emang nggak mau ngojek, mending nanam sayuran aja deh di sawah." Aku memalingkan pandanganku dari tatapan Mas Aak yang terasa menjengkelkan di mataku.


"Tapi kita nggak punya pengalaman bertani, apa bisa berhasil sampai panen? Kalau malah gagal panen bagaimana?" kilahnya lagi.


Rasanya aku benar-benar habis kesabaran. Mas Aak selalu saja beralasan, dia seperti tidak mendengarkan nasehat Bapak tadi. Tidak ada gregetnya untuk berjuang mencari nafkah, menghidupi keluarganya. Dalam hatiku mulai ada sesal, kenapa mau menikah dengannya, padahal tidak mengenalnya sama sekali.


Ah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Tidak mungkin juga aku meminta berpisah darinya, yang ada hanya akan menambah masalah baru.


"Sudah, sudah. Besok Bapak dan Ibu yang bantu kalian bertani. Kalau Mela pasti nggak akan sempat untuk ke sawah setiap hari, jadi biar kami yang menemani kamu bantu pantau perkembangannya, Ak." Bapak kembali menengahi perdebatan kami yang seperti tanpa solusi, karena memang Mas Aak yang selalu menolak solusi apapun yang coba kami berikan.


"Baiklah, Pak," jawab Mas Aak pada akhirnya. Aku tersenyum lebar, dalam hati aku bersorak, suamiku tidak bisa beralasan lagi. Dia pasti merasa sungkan, karena Bapak yang sudah akan turun tangan sendiri.


"Ya sudah, masalah ini Bapak anggap selesai, tinggal kita tindak lanjuti untuk ke depannya. Besok kita mulai juga nggak masalah, daripada terlalu lama menunggu waktu. Nggak papa, kan, Mel?" Bapak melihat ke arah aku dan Mas Aak bergantian.


Aku mengangguk, setuju dengan ucapan Bapak, begitu juga dengan Mas Aak.


"Nggak papa, Pak. Yang penting Mas Aak mau aja," jawabku sengaja kutekankan, aku melirik ke arah Mas Aak sekilas.


"Iya, nggak papa, Pak," jawab Mas Aak, sepertinya paham arti lirikanku tadi.

__ADS_1


"Nah, begitu kan lebih baik, semua pasti ada jalan keluarnya, kalau kita mau berusaha." Bapak tersenyum pada kami berdua.


"Trimakasih banyak ya, Pak," ucapku kemudian. Kalau tadi tidak ada Bapak, pasti hatiku masih akan diliputi rasa jengkel yang tidak berkesudahan.


"Ya sudah, kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya, Pak. Kamu mau ikut pulang nggak, Dek?" Mas Aak tiba-tiba saja berpamitan, aku rasa dia pasti bosan dengan segala macam petuah dari Bapak. Jadi dia tidak betah berada di sini. Untungnya dia masih membero tawaran padaku, tidak memaksaku untuk ikut pulang ke rumah mertua.


Dengan mantap aku menggeleng, "Enggak, Mas. Aku mau nginep di sini aja," jawabku kemudian.


"Ya sudah, tapi besok pulang, ya!" Mas Aak memberi penekanan, seolah harus kuturuti.


"Iya, Mas," jawabku singkat.


Setelah itu, Mas Aak pulang membiarkanku menginap malam ini.


"Mel, maafkan Bapak, ya!" ucap Bapak tiba-tiba, setelah mengantar kepulangan Mas Aak, membuatku kebingungan.


"Maaf karena membuat kamu jadi seperti ini. Apa kamu pernah merasa bahagia atas pernikahanmu, Mel?" tanya Bapak kemudian.


Aku membelalakkan mata, jandungku terasa berdetak dengan berat. Aku tidak menyangka Bapak akan bertanya hal itu padaku, membuatku bingung harus menjawab apa. Aku juga tidak ingat bagaimana perasaanku selama ini.


"Entahlah, Pak." Aku menunduk, tidak tega melihat mata Bapak yang terlihat sendu. Aku selalu tidak bisa menatap mata Bapak yang seperti itu.


"Apa selama ini Aak tidak memberikan kebahagiaan untukmu sedikitpun?" Bapak kembali mengulang pertanyaan yang sama.

__ADS_1


Aku kembali mengingat-ingat kejadian-kejadian yang kualami bersama Mas Aak, termasuk perlakuannya padaku, "Kadang-kadang buat seneng, kadang juga bikin jengkel sih, Pak. Jadi ya, 50 - 50 mungkin," jawabku pada akhirnya.


"Syukurlah kalau begitu." Bapak tersenyum, membuat bibirku hampir menganga, bingung dengan jawaban Bapak.


"Kenapa bersyukur, Pak?" Aku memutuskan untuk bertanya, daripada penasaran.


"Bersyukur, setidaknya ada kalanya kamu senang, bahagia, Mel. Kalau kamu sama sekali tidak merasa bahagia, Bapak akan merasa sangat bersalah, karena memilih dia menjadi suamimu, Mel." Bapak mengusap sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.


Seumur aku hidup, baru kali ini aku melihat Bapak sampai meneteskan air matanya di hadapanku. Aku yakin, hati Bapak benar-benar hancur. Ah, aku jadi menyesal, seharusnya aku tidak bercerita tentang masalah keluargaku juga bertengkar dengan Mas Aak di hadapan Bapak tadi.


"Iya, Pak. Setidaknya Mas Aak tidak pernah main tangan sama aku, Pak. Sejengkel-jengkelnya aku, semarah-marahnya aku, Mas Aak tidak pernah membalasnya dengan kekerasan fisik." Aku mencoba menenangkan Bapak, setidaknya ada hal positif yang ada pada diri Mas Aak.


"Syukurlah kalau begitu, kalau sampai hal itu terjadi, jangan ragu untuk mengadu pada Bapak ya, Mel. Kalau perlu laporkan ke pihak berwajib. Bapak paling tidak suka kalau ada laki-laki yang berperilaku kasar dengan perempuan, jadi jangan sampai kamu mengalami hal itu." Bapak menatapku dengan sorot mata yang selalu membuatku merasa aman dan nyaman berada di sisi Bapak.


"Pasti, Pak. Mela juga setuju dengan hal itu." Aku mengangguk, meyakinkan Bapak.


"Satu hal yang harus kamu ingat, selama suamimu tidak menyuruh kamu untuk berbuat ingkar, kamu tetap harus menghormati dan mematuhinya ya, Mel. Meskipun kamu tidak suka dengan apa yang dia inginkan, karena sebagai seorang istri, tetap harus taat dan patuh pada suami. Yakinlah kalau dia adalah jalanmu meraih surga, Mel, yang penting kamu harus tetap ikhlas melakukannya." Bapak memberiku nasehat yang sebenarnya sudah beberapa kali kudengar, dari beberapa sumber lain.


"Baik, Pak." Aku kembali mengangguk, tidak mau membuat pembahasan ini menjadi lebih panjang, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Kami harus bersiap untuk sembahyang.


"Ya sudah, ayo masuk, Mel! Sudah mau maghrib." Bapak mengulurkan tangannya, menggiringku masuk ke rumah.


Aku menurut, entah kenapa, semenjak hamil aku jadi takut berada di luar rumah saat maghrib seperti ini. Padahal dulu aku tidak percaya dengan hal-hal yang berbau kepercayaan orang dulu. Tapi tiba-tiba saja pemikiranku berubah saat hamil. Aku jadi takut terjadi hal yang buruk pada janinku, kalau tidak mengikuti apa kata orang dulu.

__ADS_1


Bahkan dalam agama memang diajarkan kalau waktu senja, adalah waktunya para jin keluar dari sarangnya. Jadilah mulai saat itu, aku lebih sering sembahyang di rumah, cari aman saja.


Malam itu, aku kembali merasakan hangatnya suasana di rumah ini. Tempat tumpah darah memang selalu menjadi tempat terindah untuk kembali. Bahkan di saat aku sudah bersuami seperti ini.


__ADS_2