
Ternyata memang benar apa yang dikatakan orang-orang. Semua keburukan akan terungkap, saat sudah menjadi suami istri. Beda dengan saat perkenalan, pasti yang ditunjukkan hanya baiknya saja. Meskipun sebenarnya kalimat itu tidak sepenuhnya tepat untuk Mas Aak, karena nyatanya dia sudah menunjukkan kebiasaan buruknya bahkan sebelum kami sah menjadi pasangan suami istri. Apalagi karena memang perkenalan kami terbilang sangat singkat. Jadi wajar saja kalau aku kaget dengan satu persatu kebiasaan buruk Mas Aak, kan?
Aku belum bisa kalau harus berlemah lembut pada Mas Aak, membangunkan dengan sentuhan penuh kasih sayang ala-ala drama korea. Jujur saja, aku belum tau, apakah aku sudah mencintai suamiku sepenuhnya atau belum. Cintaku seperti terhalang kejengkelan demi kejengkelan yang terus menerus ada dalam dadaku.
"Aku dosa apa enggak, kalau membiarkan Mas Aak seperti ini terus, ya? Bukankah istri harusnya mengingatkan, tapi kalau yang diingatkan tidak mau, aku harus bagaimana?" Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Tanpa terasa iqomah di masjid sudah berkumandang, aku segera mengenakan mukenaku dan berjalan cepat menuju masjid yang ada di samping rumah. Aku terus menerus memohon ampun sembari berjalan. Bahkan masjid di samping rumah pun tidak membuat Mas Aak jadi lebih semangat untuk sembahyang di masjid. Apalagi kalau harus berjalan jauh seperti di rumahku? Aku jadi ragu, apa benar isi CV yang ditulis Mas Aak saat perkenalan dulu? Memikirkan banyak hal membuatku tidak bisa khusyu dalam bersembahyang.
"Ya Allah. Belum bangun juga, Mas?" Aku mengeraskan suaraku saat membuka pintu dan melihat Mas Aak masih asyik di alam mimpinya.
"Mas, bangun!" Aku menggoyangkan tubuh suamiku lebih kuat lagi.
"Iya, iya!" Mas Aak akhirnya merespon, dia menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian duduk, mengumpulkan nyawanya.
"Nah, gitu dong, dari tadi! Suruh bangun aja susah banget!" Bibirku mungkin sudah monyong lebih dari lima senti. Gemas sekali rasanya pada suamiku ini.
"Bantu Ibu di dapur sana, Dek!"
__ADS_1
"Iya, Mas." Aku segera menjauh, merapikan mukena dan mengenakan jilbab instanku. Setelah itu, aku berjalan ke dapur, melihat apa yang bisa kubantu.
"Mau masak apa, Bu?" Aku bertanya pada ibu mertuaku yang sedang mencuci beras.
"Coba lihat apa yang ada di kulkas, Mel. Kamu masaklah apa yang kamu suka. Ibu yakin, kamu nggak akan suka sama masakan ibu yang tanpa cabe. Anak muda kan biasanya suka yang pedes. Atau kalau mau nyambel juga ada, itu bumbu-bumbu ada di sebelah sana." Ibu menunjuk rak plastik berisi bumbu-bumbu komplit.
"Oh ya, Bu." Aku mendekat ke kulkas, melihat ada bahan masakan apa yang tersisa dari acara kemarin. Ternyata masih ada lumayan banyak sayur mentah maupun bumbu yang belum terpakai. Aku mengambil bahan untuk masak sop, tempe, juga cabai. Sayur sop lauk tempe goreng plus sambal sepertinya enak. Cocok untuk mengobati rasa tidak nyaman setelah beberapa hari berkutat dengan acara pernikahanku. Aku mulai mengeksekusi masakan pertamaku di rumah mertua.
"Oh ya, Mel. Kalau mau masak, pakai panci dan wajan yang tergantung di sana, ya! Yang alat masak di dalam lemari bawah kompor ini khusus buat masakan untuk Bapak dan Ibu. Soalnya kami berdua benar-benar nggak bisa kena cabe sedikitpun. Meskipun cuma bekas masakan dan sudah dicuci, tetep aja bisa bikin kami berdua sakit perut. Mungkin karena usia kami yang sudah lanjut ya, jadi perutnya sangat sensi." Ibu kembali memberitahuku aturan yang ada di dapur, sambil menanak nasi di kompor.
"Baik, Bu." Aku mengangguk paham. Beliau memberikan alasan yang jelas, jadi tidak akan membuatku salah paham.
"Baik, trimakasih banyak ya, Bu." Aku membalas senyuman ibu mertuaku. Beliau benar-benar sosok yang baik dan sangat lembut. Wajahnya teduh tapi tetap berwibawa. Memang pantas kalau beliau adalah pensiunan guru Agama. Sepertinya tidak akan ada drama antara mertua dan menantu seperti di film-film itu.
"Iya, sama-sama. Aak sudah bangun apa belum?"
"Tadi sih udah bangun, Bu. Tapi nggak tau, tidur lagi apa beneran bangun." Jujur saja aku masih bersu'udzon dengan Mas Aak. Tapi ya udah lah, biarin aja. Toh dia juga sudah tua, harusnya bisa berpikir sendiri.
__ADS_1
"Dia biasanya susah banget dibangunin untuk sembahyang. Kadang main sampai pagi, tapi suka lalai sama kewajibannya. Bapak sama Ibu sudah kewalahan mengatasinya. Kami suka heran, anak lima kok Aak sendiri yang susah banget diatur, diarahin, tapi manjanya kebangetan." Ibu mertua kembali membongkar kejelekan anak bungsunya itu.
"Mungkin karena anak bontot, Bu. Jadi seperti itu." Aku menanggapi sekenanya, takut juga kalau menyinggung perasaan ibu mertua.
"Bontot sih bontot, tapi kan harusnya dia ingat sama umur. Udah tua, tapi masih saja belum sadar tanggung jawab, masih seenaknya. Ibu bener-bener berharap kalau kamu bisa membuat dia jadi lebih baik. Mungkin Bapak sama Ibu terlalu lembut sama dia, jadi dia seenaknya. Kalau kamu mau pakai cara yang keras, selama itu untuk kebaikan, tidak masalah, kok. Ibu akan tetap mendukungmu." Ibu mertua ternyata justru memberikan tugas yang berat itu padaku. Aku benar-benar tidak yakin, apa aku bisa merubahnya? Sedangkan tadi dibangunkan saja susahnya minta ampun. Berarti tidak ada bedanya dengan yang Ibu alami, kan?
"Coba saya cek dulu, Bu. Jangan-jangan malah tidur lagi pas ditinggal ke dapur." Aku bergegas ke kamar, meninggalkan sayuran yang sudah kupotong begitu saja.
"Mas?" Aku membuka pintu, ternyata sudah tidak ada Mas Aak di sana. Hanya tinggal kasur yang masih berantakan, handuk di atas kasur, juga peralatan sholat yang ditinggalkan begitu saja.
"Ya Allah, sabar, sabar!" Aku mengelus dada.
Aku memutuskan untuk merapikan kamarku terlebih dahulu, masaknya nanti belakangan. Toh hari ini aku masih belum akan berangkat sekolah, jadi sarapannya nanti juga tidak masalah.
Belum selesai aku mengemas kamar, Mas Aak datang. Aku langsung bisa mencium aroma rokok.
"Mas, kamu habis ngerokok ya?" Tanpa pikir panjang, aku menodong Mas Aak dengan pertanyaan sinis.
__ADS_1
Mas Aak nyengir, menunjukkan deretan giginya yang menguning efek rokok yang terlihat sangat menyebalkan bagiku.