Suami Pilihan Bapak

Suami Pilihan Bapak
Bab 32


__ADS_3

Siang harinya, Mas Aak menjemputku seperti biasa. Hujan masih terus mengguyur, belum ada tanda-tanda reda, mobil milik Bapak benar-benar bermanfaat untuk saat-saat seperti ini.


"Gimana, Mas? Tadi udah lihat keadaan sawah kita?" Aku langsung bertanya pada Mas Aak saat baru saja masuk mobil, tak sabar ingin segera tau apa yang sedari tadi membuatku tidak fokus.


"Udah, Dek," jawab Mas Aak singkat. Aku melihat raut wajah suamiku sangat murung, tidak seperti biasanya. Aku bisa menebak, apa yang sebenarnya terjadi.


"Gimana, Mas? Gimana keadaan tanaman sayur kita?" Aku kembali mengulang pertanyaan yang belum dijawab suamiku.


"Mungkin memang belum rejeki kita, Dek," jawab Mas Aak masih terus melihat ke depan, tanpa melihat ke arahku sama sekali, padahal mesin mobil belum dinyalakan.


"Emang gimana, Mas? Rusak semua? Nggak ada yang bisa diselamatkan?" tanyaku lagi tanpa jeda.


Mas Aak mengangguk pelan, tanpa menjawab dengan kata-kata. Meskipun begitu, anggukan kepala Mas Aak berhasil membuat dadaku terasa sangat sesak, membuatku sulit bernafas, padahal sebelumnya aku tidak punya riwayat sakit asma. Bagaimana tidak, kami sudah berusaha dengan susah payah merawat tanaman supaya bisa tumbuh subur dan hasilnya memuaskan. Tapi hujan berhari-hari membuat semuanya rusak tak bersisa.


Aku menarik nafas berat, sembari memegang dadaku sendiri, berharap bisa mengurangi rasa sakit di dadaku. Bagaimana perasaan Mas Aak, sekarang? Bagaimana kami mendapat uang untuk biaya persalinan nanti? Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepalaku, membuat dadaku terasa semakin sesak.


"Dek? Kamu kenapa?" samar-samar aku mendengar suara Mas Aak, tapi aku sudah tidak kuasa menjawabnya lagi, sampai akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.


***

__ADS_1


Aku mengerjapkan mataku yang terasa berat untuk membuka. Cahaya lampu putih yang terasa silau membuatku bertambah sulit untuk membuka mataku.


"Dek? Kamu udah sadar?" samar-samar aku kembali mendengar suara yang selalu kudengar setelah aku tinggal bersamanya. Tapi apa tadi katanya? Sadar? Memangnya aku tadi kenapa? Pingsan?


Aku kembali berusaha membuka mataku yang tetap terasa berat. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi padaku, sampai Mas Aak mengatakan hal yang demikian.


"Ma-s," aku kaget sendiri mendengar suaraku yang sangat berbeda dari biasanya, terdengar sangat berat dan dalam. Apalagi aku melihat banyak aksesoris yang sepertinya tidak ada di dalam kamarku. Juga apa ini? Kenapa hidungku mendapat udara yang sangat dingin? Sebenarnya aku di mana?


Aku meraba-raba hidungku yang ternyata sudah dipasangi selang yang mengalirkan udara dingin tadi. Refleks saja tanganku berusaha melepaskannya, aku merasa sangat tidak nyaman.


"Jangan dilepas, Dek. Biarkan saja, biar dokter nanti yang melepas kalau memang sudah tidak diperlukan." Mas Aak memegang tanganku, mencoba menghentikan tanganku.


"Aku di mana, Mas? Aku kenapa?" tanyaku lagi, kali ini suaraku terdengar lebih lancar. Tapi aku merasakan perih dalam mulutku. Sebenarnya aku kenapa?


Apa aku tadi seperti itu? Kenapa aku tidak ingat sama sekali? Kenapa bisa sampai seperti itu? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, tapi tidak mungkin aku ada di sini kalau memang keadaanku tidak seperti itu, kan?


Tiba-tiba saja tirai pembatas bilik kamarku terbuka, aku melirik sekilas, melihat siapa yang datang.


"Mel? Kamu sudah sadar? Kenapa bisa sampai seperti ini, Mel? Ibu khawatir sama kamu dan bayi kamu," ucap Ibu sembari berjalan tergopoh mendekatiku.

__ADS_1


Aku hanya mengggeleng pelan, aku juga tidak tau apa yang terjadi dan kenapa bisa terjadi.


"Semoga saja semua baik-baik saja, ya. Semoga bayi kamu tidak perlu dikeluarkan secepatnya, kalau kondisimu membaik," tambah Ibu sembari mengusap air matanya yang terlihat menetes. Jujur saja perkataan Ibu membuatku bertambah kaget. Kenapa bayiku harus dikeluarkan? Saat usianya belum genap tujuh bulan.


"Coba nanti kita dengarkan apa kata dokter, ya. Bagaimana penanganannya selanjutnya," ucap Ibu lagi.


Aku belum bisa berkomentar apa-apa, semuanya terasa begitu cepat dan aneh menurutku. Selama ini aku merasa kondisiku baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?


Tak lama kemudian tim dokter datang bersama suamiku. Mereka segera mengecek kondisiku, yang tidak kupahami untuk apa fungsi masing-masing pengecekan itu. Yang kuketahui hanya pemeriksaan tensi dan juga detak jantung janin saja.


Jujur saja aku merasa tidak nyaman dengan adanya banyak asisten dokter yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu, sedangkan bajuku harus disingkap dibagian perut untuk memeriksa detak jantung janin. Tanpa kusadari air mataku mulai menetes, auratku yang selama ini kujaga dengan hati-hati, saat ini harus dilihat oleh laki-laki bukan mahrom. Tapi aku bisa apa? Ya Tuhan, tolong ampuni hamba-Mu ini, batinku.


"Pak, Bu, kalau kondisinya seperti ini terus, mau tidak mau janin harus segera dikeluarkan, Pak. Tekanan darah Ibu Mela sangat tinggi. Kalau janin tidak segera dikeluarkan sangat berbahaya, bisa beresiko kematian bagi Ibu maupun janin dalam kandungan Ibu Mela," ucap dokter perempuan yang terlihat lebih senior daripada dokter-dokter muda yang ada di belakangnya sambil bergantian melihat suamiku yang berdiri di samping dokter itu, juga padaku.


Suamiku terdiam, dia tidak berkomentar apapun. Aku bisa paham, karena akupun juga tercengang mendengar penuturan dokter yang sepertinya tidak sedang bercanda itu. Bagaimana mungkin? Anakku harus dilahirkan prematur? Bagaimana kehidupan masa depannya? Dia bahkan belum menyerap gizi secara utuh, bagaimana bisa dia bertahan di dunia ini?


Pikiranku kembali menerawang jauh. Air mataku menetes bertambah deras. Nafasku kembali terasa sesak. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada anakku kelak. Aku menggeleng pelan, aku tidak mau bayiku dikeluarkan sebelum masanya!


"Tapi kalau dikeluarkan sekarang, ini juga bukan bayi yang mempunyai harapan hidup tinggi, Pak, karena usianya yang masih belum cukup umur. Jadi, saya harap, Bapak dan Ibu melapangkan dada kalau misalnya terjadi kemungkinan yang terburuk, saya juga mendoakan, semoga besok segera mendapat gantinya. Meskipun demikian, kita juga tidak tau kalau ternyata ada mukjizat yang datang, jadi kita berdo'a saja, semoga semua baik-baik saja, dan janinnya juga bisa bertahan sampai dewasa kelak," tambah dokter itu lagi.

__ADS_1


"Kalau dipertahankan dulu, apa tidak bisa, dok? Dikasih obat penurun tekanan darah atau apa gitu, yang bisa membuat kondisi istri saya membaik, tanpa harus mengeluarkan janin sebelum usianya?" Mas Aak akhirnya mengeluarkan pendapatnya, seperti apa yang kupikirkan.


Aku berdebar menunggu jawaban dari dokter kandungan itu. Semoga saja bisa diusahakan!


__ADS_2